Tugumalang.id – Malang Raya tak hanya dikenal dengan udara dingin dan kulinernya, tetapi juga kerap menjadi latar sejumlah film Indonesia. Film berlatar Malang Raya dapat kita saksikan oleh Rego Nyowo hingga The Conductors.
Panorama gunung, nuansa kota yang estetik, hingga kehidupan mahasiswanya menjadikan Malang Raya lokasi favorit bagi para sineas. Berikut delapan film yang mengambil seting di Malang Raya.
1. Rego Nyowo (2025)
Film horor terbaru adaptasi thread viral “Kosan Berdarah” ini mengambil latar kos-kosan mahasiswa di Malang. Lokasi syuting berada di Lowokwaru dekat kampus UB, gang-gang kecil di Klojen, hingga perkebunan pinggiran kota.
Baca Juga: Deretan 7 Film Hollywood Terbaik November 2025, Ini Ulasannya
Suasana sejuk Malang berpadu dengan tensi horor membuat film ini laris di berbagai bioskop, termasuk XXI Dieng.
2. Yowis Ben (2018)
Film komedi-romantis karya Bayu Skak ini menjadi salah satu film dengan syuting Malang paling lengkap. Lokasinya meliputi Kampung Warna-Warni Jodipan, Kampung Tridi, Alun-Alun Merdeka, Jalan Ijen, SMAK 7 Dempo, hingga Universitas Negeri Malang (UM).
Keberhasilan film dan sekuelnya turut mendongkrak wisata kota, terutama kawasan Jodipan yang makin ramai.
3. Darah Biru Arema (2014)
Film indie karya Taufan Agustyan ini memotret fanatisme dan solidaritas Aremania. Syuting dilakukan di Stadion Kanjuruhan, Stadion Gajayana, Museum Brawijaya, Situs Karuman, serta SMPN 1 Dau.
Film ini sering diputar dalam acara-acara nobar komunitas Aremania dan menjadi dokumentasi penting budaya suporter Malang.
4. 9 Summer 10 Autumns (2013)
Drama inspiratif ini diangkat dari kisah nyata Iwan Setyawan yang sukses berkarier di New York. Film ini menggambarkan masa kecil sang tokoh yang bersahaja di Kota Batu, membuat cerita perjuangan menjadi relatable.
Baca Juga: Rekomendasi 5 Film Hollywood Berdasarkan Kisah Nyata yang Menginspirasi
Latar kaki Gunung Panderman, terminal angkot Batu, dan jalan-jalan di Kota Apel memberi napas emosional yang kuat, menggambarkan bahwa kesederhanaan bisa melahirkan mimpi besar.
5. 5 CM (2012)

Adaptasi novel fenomenal ini menggambarkan persahabatan lima anak muda yang memutuskan menaklukkan Semeru. Malang menjadi pintu gerbang pendakian yaitu Stasiun Kota Baru Malang, kawasan Gadang, hingga pasar tradisional seperti Pasar Tawangmangu hadir sebagai latar.
Bagian paling memorable tentu jalur pendakian Ranu Kumbolo–Mahameru. Sejak film ini rilis, Ranu Kumbolo menjadi spot incaran pendaki—dengan catatan tetap patuh aturan, termasuk larangan berenang seperti di film.
6. Tendangan dari Langit (2011)
Drama olahraga karya Hanung Bramantyo ini mengangkat perjalanan remaja bertalenta dari lereng Bromo menuju lapangan profesional. Malang menjadi pusat syuting—mulai dari Stadion Gajayana di Klojen untuk adegan seleksi Persema, Stadion Brantas Kota Batu, hingga Balai Kota Malang.
Lereng Gunung Bromo yang muncul dalam film menjadi ikon nuansa desa Langitan. Film ini sering ditayangkan ulang di bioskop Malang karena kedekatannya dengan warga lokal.
7. Punk in Love (2009)
Road movie penuh humor ini menampilkan empat anak punk yang memulai perjalanan dari Malang. Beberapa lokasi yang tampil antara lain Stasiun Kota Lama, kawasan Gadang, Pemakaman Samaan, Pasar Tawangmangu, serta area sekitar Universitas Negeri Malang. Film ini juga menonjolkan logat Arek Malang yang khas dan medok.
8. The Conductors (2008)
Dokumenter karya Andy Bachtiar Yusuf ini menampilkan perjalanan figur-figur “konduktor” kehidupan, termasuk Yuli Sumpil, ikon Aremania.
Malang menjadi latar penting, mulai dari Stadion Kanjuruhan, Alun-Alun Merdeka, hingga ruas Jalan Basuki Rahmat. Film ini berdurasi singkat namun kuat dalam menggambarkan budaya sepak bola Malang.
Kedelapan film ini membuktikan bahwa Malang Raya memiliki potensi sinematik yang tak ada habisnya. Dari nuansa nostalgia hingga ketegangan horor modern, setiap film adalah surat cinta untuk Malang Raya.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Penulis: Ita Rosyidatul Mawadah (Magang)
Editor: Herlinto. A





























