Tugumalang.id – Urin Laila Sa’adah, mahasiswa program doktoral Psikologi Universitas Negeri Malang, dengan riset terbarunya menunjukkan bahwa pesantren bukan ruang feodal, melainkan ekosistem keteladanan, cinta ilmu, dan daya juang yang tak lekang oleh zaman.
Di tengah perbincangan publik mengenai isu feodalisme di dunia pesantren, kehidupan sehari-hari para santri sejatinya menyimpan kisah lain yang lebih dalam — kisah tentang ketekunan, ketahanan mental, dan pengabdian tanpa pamrih.
Hingga tahun ajaran 2020/2021, terdapat 4,37 juta santri yang menimba ilmu di lebih dari 30 ribu pondok pesantren di seluruh Indonesia (data Direktorat Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Kementerian Agama).
Baca Juga: Rekomendasi Kos Putri Dekat Universitas Negeri Malang, Cocok untuk Maba!
Angka itu terus bertambah dari tahun ke tahun, mencerminkan kepercayaan masyarakat terhadap pesantren yang tetap tinggi, bahkan di tengah tantangan modernisasi dan arus digital.

Salah satu yang meneliti fenomena ini adalah Urin Laila Sa’adah, mahasiswa program doktoral Psikologi Universitas Negeri Malang.
Dalam risetnya yang dilakukan di beberapa pesantren salaf ternama di Jawa Timur seperti Pondok Lirboyo, Ploso, Langitan dan beberapa pesantren salaf lainnya, Laila mencoba membedah realitas kehidupan santri dari sisi psikologis: bagaimana mereka bertahan, belajar, dan tumbuh dalam lingkungan yang penuh aturan, disiplin, serta relasi tradisional antara Kiai dan santri.
“Banyak orang melihat hubungan santri dan Kiai dari luar, lalu menyebutnya feodal. Padahal, di dalam pesantren, hubungan itu justru membentuk nilai keteladanan dan spiritualitas yang tinggi,” ujar Urin.
Baca Juga: Tingkatkan Kompetensi TAS, Tim Dosen Universitas Negeri Malang Gelar Pelatihan Pengelolaan Arsip Sekolah Berbasis Digital
Menurutnya, ketahanan mental santri justru tumbuh karena kuatnya figur Kiai sebagai panutan hidup. “Kiai tidak hanya mengajar, tapi juga mendoakan, menasihati, dan memberi contoh lewat perilaku. Santri melihat sosok Kiai sebagai figur pembelajar sejati. Dari situ muncul semangat untuk bertahan dan menuntaskan pendidikan,” jelasnya.

Di pesantren salaf, proses belajar bisa berlangsung antara enam hingga dua belas tahun. Para santri hidup bersama teman dari berbagai daerah, latar belakang sosial, dan karakter yang berbeda. Konflik dan gesekan adalah hal yang wajar. Namun di situlah latihan hidup dimulai.
Santri belajar mengelola emosi, menyelesaikan perbedaan dengan adab, dan saling menolong. “Teman-teman di pesantren menjadi sumber kekuatan sosial. Mereka saling menjaga agar tetap kuat di jalan ilmu,” tutur Laila.
Dari penelitian ini, Urin menemukan bahwa dua faktor eksternal paling berpengaruh terhadap ketahanan belajar santri adalah keteladanan Kiai dan dukungan teman sebaya.
Dua hal inilah yang membentuk regulasi diri santri: bagaimana mereka memandang kesulitan sebagai ujian, bukan beban.
Keteladanan Kiai juga mencerminkan nilai anti-feodalisme yang sejati karena meski dihormati, Kiai hidup dalam kesederhanaan, dekat dengan santri, dan memberi contoh melalui laku, bukan paksaan.
“Feodalisme adalah ketika kekuasaan menciptakan jarak. Tapi dalam pesantren, yang tercipta justru kedekatan spiritual dan penghormatan berbasis cinta ilmu,” tegas Laila.
Santri tidak hanya ditempa untuk cerdas membaca kitab, tetapi juga tangguh menghadapi kehidupan sosial setelah keluar dari pesantren. Pengalaman hidup bersama, berdisiplin tinggi, dan belajar dalam keterbatasan membuat mereka siap menghadapi dinamika masyarakat.
“Ketika santri keluar, mereka tidak hanya membawa ilmu, tapi juga ketangguhan batin ini adalah modal sosial bangsa,” tambahnya.
Bagi orang tua, Urin memberi catatan penting bahwa memilih pesantren bukan berarti melepaskan tanggung jawab.
“Orang tua perlu tetap hadir dalam pengasuhan, menanamkan cinta ilmu sejak dini. Pesantren bukan tempat menyerahkan anak sepenuhnya, tapi tempat menyempurnakan nilai yang sudah ditanamkan di rumah,” ujarnya.
Sebagai alumni MAK Tambakberas Jombang dan mantan aktivis PMII Sunan Ampel Kota Malang, Laila memahami dunia pesantren bukan dari luar pagar, tapi dari dalam lingkar kehidupannya sendiri.
Ia kini aktif di Komunitas Perlindungan Perempuan dan Anak, menjembatani nilai pendidikan pesantren dengan kerja sosial di masyarakat.
Melalui risetnya, ia ingin menegaskan satu hal: bahwa pesantren bukanlah benteng feodalisme, melainkan taman tempat tumbuhnya adab, ilmu, dan keteladanan.
“Santri memang tunduk pada Kyai, tapi ketundukan itu lahir dari cinta dan penghormatan, bukan paksaan. Di situlah letak kekuatan moral pesantren keteladanan yang membentuk manusia tangguh tanpa kehilangan hati nurani,” tutupnya.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Sumber: Rilis Universitas Negeri Malang
Editor: Herlianto. A
























