Jenewa, Tugumalang.id – Pada momentum Hari Kota Sedunia (World Cities Day) yang jatuh pada 31 Oktober 2025, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyerukan para pemimpin nasional dan pemerintah kota di seluruh dunia untuk mengubah wilayah perkotaan menjadi “mesin kesehatan, kesetaraan, dan keberlanjutan”.
Lebih dari 4,4 miliar orang, atau lebih dari setengah populasi dunia, kini tinggal di wilayah perkotaan. Jumlah tersebut diproyeksikan meningkat hingga 70% pada tahun 2050. Di kawasan perkotaan, isu kesehatan, ketimpangan sosial, lingkungan, dan ekonomi saling berkaitan erat, menciptakan tantangan kompleks sekaligus peluang besar bagi kemajuan manusia.
Namun, dampak kesehatan terburuk sering kali dialami oleh masyarakat di permukiman kumuh dan informal, yang hidup dalam kondisi perumahan tidak layak, sanitasi buruk, kerawanan pangan, serta paparan risiko bencana seperti banjir dan gelombang panas. Saat ini, lebih dari 1,1 miliar orang hidup dalam kondisi seperti ini, dan jumlahnya diprediksi akan meningkat tiga kali lipat pada tahun 2050.
Baca juga: Rancangan Awal RKPD Kota Malang 2026, Pj. Wali Kota Malang Fokus Penguatan Transformasi Ekonomi Inklusif
Panduan Baru WHO untuk Kesehatan Perkotaan

Untuk menjawab tantangan tersebut, WHO meluncurkan panduan baru berjudul “Mengambil Pendekatan Strategis terhadap Kesehatan Perkotaan” (Taking a Strategic Approach to Urban Health). Dokumen ini memberikan kerangka kerja komprehensif bagi para pengambil kebijakan dalam merancang kebijakan perkotaan yang menempatkan kesehatan sebagai prioritas utama.
“Ini adalah momen penting bagi para pemimpin di semua tingkatan untuk bertindak bersama,” ujar Jeremy Farrar, Asisten Direktur Jenderal WHO bidang Promosi Kesehatan, Pencegahan Penyakit, dan Perawatan. “Panduan ini memberi arah bagi pemerintah, perencana kota, dan masyarakat untuk bekerja lintas sektor demi membangun masa depan yang lebih adil, sehat, dan tangguh.”
Ketimpangan Kesehatan di Kota: Ancaman yang Nyata
Riset WHO terhadap 363 kota di sembilan negara Amerika Latin menunjukkan adanya kesenjangan harapan hidup hingga 14 tahun untuk pria dan 8 tahun untuk wanita antara kota paling sehat dan kota paling rentan.
Baca juga: Menuju Ngalam Tahes, Wawali Kota Malang Dorong Generasi Muda Bangun Pola Hidup Sehat
Penduduk kota di seluruh dunia menghadapi berbagai risiko tumpang tindih — mulai dari polusi udara, transportasi tidak aman, perumahan buruk, kebisingan, hingga dampak perubahan iklim. WHO mencatat, polusi udara menewaskan sekitar 7 juta orang setiap tahun, sementara hampir seluruh penduduk kota menghirup udara yang tidak memenuhi standar kualitas udara WHO.
Kepadatan penduduk juga memperbesar risiko penyakit menular seperti COVID-19 dan demam berdarah, sementara terbatasnya akses ke ruang hijau memperparah risiko penyakit tidak menular seperti jantung dan diabetes.
Kota Sebagai Garda Depan Perubahan Global
Menurut WHO, lingkungan perkotaan kini menjadi faktor penentu utama kesehatan manusia sekaligus pendorong tantangan global seperti perubahan iklim, kelangkaan sumber daya, dan ketimpangan sosial. Karena itu, kota memiliki peran vital bukan hanya sebagai sumber masalah, tetapi juga sebagai pusat solusi transformasi global.
“Tindakan strategis dalam pembangunan kota dapat menciptakan lingkungan yang tangguh dan layak huni, sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi dan keberlanjutan lingkungan,” tulis WHO dalam panduannya.
WHO juga menyoroti sejumlah contoh kota yang telah mengadopsi pendekatan kolaboratif, seperti Dandora (Kenya), Suva (Fiji), Makassar (Indonesia), dan Coimbra (Portugal), yang melibatkan langsung suara masyarakat dalam desain kota sehat.
Kesehatan Bukan Hanya Urusan Sektor Kesehatan

Direktur WHO untuk Penentu, Pencegahan, dan Promosi Kesehatan, Dr. Etienne Krug, menegaskan bahwa kota merupakan kunci dalam memajukan kesehatan masyarakat.
“Panduan ini memberikan peta jalan bagi pemerintah untuk bertindak secara strategis, dan mengaitkannya dengan isu global seperti perubahan iklim, transportasi, transformasi digital, dan migrasi,” ujarnya.
WHO menekankan bahwa kesehatan tidak bisa hanya menjadi tanggung jawab sektor kesehatan. Keputusan sehari-hari yang diambil oleh otoritas kota — mulai dari perencanaan udara bersih, perumahan, mobilitas aktif, hingga kebijakan digital dan pembiayaan publik — semuanya berpengaruh langsung terhadap kesehatan warganya.
Pendekatan strategis berarti menyelaraskan semua kebijakan tersebut untuk menciptakan masa depan yang lebih sehat, adil, dan berkelanjutan.
Langkah Strategis yang Direkomendasikan WHO
Dalam panduannya, WHO menguraikan empat langkah utama bagi pemerintah dalam membangun kesehatan perkotaan, yaitu:
-
Memahami kompleksitas sistem perkotaan dan dampaknya terhadap kesehatan dan kesetaraan.
-
Mengidentifikasi peluang aksi lintas sektor untuk menanamkan prinsip kesehatan dalam seluruh kebijakan publik.
-
Memperkuat tata kelola dan sarana implementasi, termasuk pembiayaan, data, inovasi, kemitraan, dan partisipasi publik.
-
Mengembangkan strategi kesehatan perkotaan nasional dan lokal yang menyeluruh dan berbasis bukti.
Kursus Daring untuk Meningkatkan Kapasitas Global
Bersamaan dengan peluncuran panduan tersebut, WHO juga merilis tiga modul pertama Kursus E-learning Kesehatan Perkotaan melalui Akademi WHO, guna memperkuat kapasitas kerja kolaboratif di lingkungan perkotaan dan membantu para pemimpin mengimplementasikan strategi kesehatan yang lebih inklusif.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Sumber: Rilis WHO
redaktur: jatmiko































