Kamis, Juni 25, 2026
Tugumalang.id
No Result
View All Result
  • Home
  • Tugu SehatNEW
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis & Properti
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Advertorial
  • Home
  • Tugu SehatNEW
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis & Properti
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Advertorial
No Result
View All Result
Tugu Malang ID
No Result
View All Result
Home Catatan

Biarkan Peserta Didik Bicara, Pendidikan Ala Paulo Freire

Redaksi by Redaksi
Agustus 18, 2021 9:49 am
in Catatan, Pendidikan
Paulo Freire, pemikir dan penggagas pendidikan yang membebaskan/tugu malang

Paulo Freire, pemikir dan penggagas pendidikan yang membebaskan. (Foto: Pinterest)

Share WhatsappShare FacebookShare Twitter

Oleh: Herlianto. A*

Tugumalang.id – Jika pendidikan adalah cermin bangsa, maka seharusnya pendidikan bisa membebaskan. Pendidikan harusnya mengantarkan manusia pada kemerdekaan, sekaligus sebagai jalan mengatasi beragam ketimpangan yang terjadi. Tetapi faktanya, justru sebaliknya. Pendidikan menjadi alat kuasa untuk melemahkan dan memagari potensi-potensi manusia (warga) itu sendiri.

READ ALSO

Daftar 15 Universitas Terbaik di Indonesia Versi QS WUR 2027: Salah Satunya Ada di Malang

Unisma Duduki Peringkat Dunia dalam Times Higher Education Sustainability Impact Ratings 2026

Itulah model pendidikan yang menjadi kegelisahan Paulo Freire, pemikir sekaligus teladan pendidikan abad 20. Bertahun-tahun memperjuangkan pendidikan yang membebaskan di negaranya.

Freire lahir di Brasil 19 September 1921 sekaligus mengabdikan hidupnya di tanah kelahirannya untuk meramu satu konsep dan model pendidikan yang mampu menempatkan manusia pada kesejatiannya. Dikisahkan oleh Moh.Yamin dalam Menggugat pendidikan Indonesia: Belajar pada Paulo Freire dan Ki Hajar Dewantara, bahwa hidup Freire diabdikan pada orang-orang buta huruf, para buruh dan masyarakat marginal lainnya. Dia tinggal di wilayah miskin Brasil. Sesekali berkunjung ke negara lain, seperti Chili, Angola Mozambik.

Freire menulis beberapa buku tentang bagaimana pendidikan seharusnya. Namun  dari sekian buku yang paling fenomenal ada dua, yaitu Pendidikan Kaum Tertindas dan Politik Pendidikan.

Dalam dua buku itulah, Freire menyoroti pendidikan yang justru menjadi alat status quo kekuasaan, dalam arti pendidikan yang digunakan untuk melanggengkan kekuasaan secara ideologis. Bagi Freire, pendidikan yang demikian diciptakan untuk memberangus daya emansipasi dan nilai-nilai kritis yang mestinya terjalin dari lingkungan belajar.

Para pelajarnya ditenggelamkan pada kesadaran magis, yaitu kesadaran yang melihat segala bentuk penindasan dan ketidakadilan sebagai kehendak ilahiah. Atau, pemberian dari tuhan dalam bentuk takdir yang mesti diterima secara sabar dan lapang dada.

Freire menentang konsep demikian dengan menggagas pendidikan yang membebaskan. Dia menyadari kehidupan manusia adalah eksploitatif yang dilakukan oleh kaum minoritas yang hidup nyaman dan sejahtera terhadap mereka yang mayoritas yang hidup dalam kondisi mengenaskan.

Minoritas dalam hal ini adalah kaum kaya, pejabat, para bos, dan lainnya, sementara yang mayoritas adalah kaum buruh, petani, kaum miskin kota, pengemis, pedagang asongan, nelayan, dst.

Eksploitasi minoritas ini dilestarikan melalui pendidikan, sekolah-sekolah atau kampus-kampus yang biasanya diselundupkan melalui kurikulum dan model pembelajarannya. Kurikulum itu kemudian memaksa pelajar untuk mengikutinya agar sesuai dengan kebutuhan kaum minoritas, sehingga pesera didik sebagai objek dalam proses belajarnya.

Nah, di sinilah poin penting kritik Freire. Dia menggugat pendidikan yang meletakkan peserta didik sebagai objek. Baginya, murid tidak selamanya salah dan guru tidak akan selalu benar. Murid dan guru, sebetulnya, adalah subjek sadar dalam pendidikan. Sementara objek kajiannya adalah realitas dunia itu sendiri. Artinya, peserta didik dan guru sama-sama belajar memahami kehidupan dan persoalannya.

Guru dan murid tidak bisa dipisahkan keberadaanya sebagai insan pembelajar. Freire lalu mengatakan bahwa no one can teach anyone, no one can study alone but everyone studies together (tak ada seorangpun yang bisa mengajari orang lain, dan tak ada satu orangpun yang bisa belajar sendirian, tetapi setiap orang belajar bersama-sama).

Dengan prinsip ini yang terjadi bukan pedagogy tetapi andragogy, yaitu guru bukan pengajar yang memegang segala kebenaran, melainkan guru sebagai fasilitator, motivator, demonstrator, teman, dst. Inilah yang disebut di dalam buku Pendidikan Kaum Tertindas dengan possing problem education (pendidikan hadap masalah) bukan banking concept of education (pendidikan ala konsep bank).

Pendidikan hadap masalah membuat guru dan murid berdiskusi membahas suatu persoalan bersama. Sementara, pendidikan ala konsep bank adalah pendidikan yang menempatkan anak didik sebagi objek investasi dan sumber depsosito potensial. Guru sebagai depositor mewakili lembaga masyarakat mapan dan berkuasa yang menabung pada kepala peserta didik. Adapun depositnya adalah ilmu pengetahuan yang diajarkan pada anak didik.

Secara sederhana dalam Politik Pendidikan, Freire merumuskan draf antagonisme pendidikan “gaya bank” yang kemudian dia kutuk. Antagonisme itu di antaranya: 1) Guru mengajar, murid belajar, 2) guru tahu segalanya, murid tidak tahu apa-apa, 3) guru berpikir, murid dipikirkan, 4) guru bicara, murid mendengarkan, 5) guru mengatur, murid diatur, 6) guru memaksakan pilihannya, murid menuruti, 7) guru bertindak, murid membayangkan bertindak seperti guru, 8) guru memilih bahan ajar, murid menyesuaikan, 9) guru mengacaukan ilmu pengetahuan dengan profesionalismenya, dan mempertentangkannya dengan kebebasan murid, 10) guru subjek belajar, murid adalah objek.

Dari uraian Freire ini jelas bahwa guru jadi pusat segalanya, sebagai prototype yang harus digugu dan ditiru. Pendidikan antagonisktik ini yang akan melahirkan generasi “nekrofili”. Generasi yang cinta pada sesuatu yang tak memiliki jiwa kehidupan. Dan, menjauhkan generasi “biofili”, yaitu generasi yang cinta pada kehidupan yang penuh cinta kasih.

Jadi dengan demikian, pendidikan mestinya “hadap masalah”, di mana peserta didik disadarkan dengan dihadapkan pada persoalan kehidupan yang konkrit. Peserta didik bukan lagi sebagai penonton dan peniru. Mereka adalah aktor dan pencipta.

Proses pembelajaran mestilah dialogis atau bahkan dialektis yang menempatkan guru dan murid sebagai pembaru dalam melahirkan pengetahuan yang humanis. Peserta didik dan guru harus sama-sama mengerti persoalan bukan menghafal persoalan. Berikan peserta didik kesempatan mengatakan kata-katanya sendiri berdasarkan apa yang dialami dan bukan kata-kata seorang guru.

*Asisten redaktur Tugu Media Group (TMG)

Editor : Herlianto. A

Tags: Paulo FreirePemikir PendidikanpendidikanPendidikan Membebaskan

Related Posts

Universitas Brawijaya menjadi satu dari 15 universitas terbaik di Indonesia versi QS WUR 2027. /Foto: Tugumalang.id/Bagus Rachmad Saputra
Pendidikan

Daftar 15 Universitas Terbaik di Indonesia Versi QS WUR 2027: Salah Satunya Ada di Malang

Rabu, 24 Jun 2026
Ilustrasi kampus Unisma. Foto: Dok
Pendidikan

Unisma Duduki Peringkat Dunia dalam Times Higher Education Sustainability Impact Ratings 2026

Rabu, 24 Jun 2026
Ajang pamer kreativitas semata mahasiswa ITN Malang. (Foto/dok ITN)
Pendidikan

Konsep Kedai Kopi Sukun dan Sentuhan Harley Davidson Hidupkan Pameran Nata Karya 7.0 Arsitektur ITN Malang

Rabu, 24 Jun 2026
Fairouz Huda. Foto/dok
Catatan

Menjauhkan NU dari Pengemis Kekuasan, KH Azaim Sukorejo Bisa Menjadi Jangkar Spiritual

Rabu, 24 Jun 2026
M. Lutfi Khoirudin, M.Pd. Foto/dok
Catatan

Munas dan Kombes NU, Serta asal Muasal wilayah Kediri jadi Pantangan untuk Didatangi Presiden RI

Rabu, 24 Jun 2026
FKIK UIN Maliki Malang cetak duta kampus bertalenta baru lewat Grand Final Pemilihan Safir-Safirah 2026. Foto: Dok.
Pendidikan

FKIK UIN Malang Sukses Cetak Duta Kampus Bertalenta Lewat Grand Final Safir-Safirah 2026

Selasa, 23 Jun 2026
Next Post
Arema FC akan adakan uji coba

Arema FC Akan Adakan Uji Coba Sebelum 23 Agustus 2021

BERITA POPULER

  • Tatik Swartiatun (tengah) didampingi kuasa hukumnya memberikan pernyataan soal sengketa Sardo Swalayan. (Foto/M Sholeh)

    Sengketa Kepemilikan Sardo Swalayan Malang Memanas, Tatik Menangkan Praperadilan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bukber di Balik Jeruji Besi, Napi Lapas Malang Lepas Rindu Bersama Keluarga

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • DPRD Kota Malang Siapkan Perda Penyakit Menular untuk Tangani HIV/AIDS

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sepeda Motor Tabrak Pejalan Kaki di Lawang, 3 Orang Luka-luka

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • 5 SMK Swasta Terbaik di Kota Malang 2026: Pilihan Unggulan untuk Masa Depan Cerah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

Portal berita Tugu Malang (tugumalang.id) merupakan perusahaan media siber di bawah naungan PT Tugu Media Komunikasindo

Ikuti Kami

Navigasi Site

  • Kode Etik
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Kebijakan Data Pribadi
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Form Pengaduan
  • Pedoman Media Siber

© 2021 Tugu Media Group - All Right Reserved Tugu Malang ID.

Jaringan Media 

Tugumalang.id 

Tugujatim.id 

Tugusehat.id

No Result
View All Result
  • Home
  • Tugu Sehat
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis & Properti
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Advertorial

© 2021 Tugu Media Group - All Right Reserved Tugu Malang ID.