MALANG, Tugumalang.id – Agen Pegadaian yang berada di desa-desa rupanya memiliki peran penting dalam mengedukasi masyarakat terkait investasi emas. Rupanya selama ini, masih banyak masyarakat desa yang masih awam dan tidak paham perihal kadar emas, harga emas, hingga keaslian emas.
Di kaki Gunung Semeru, tepatnya di Kecamatan Tumpang, Kabupaten Malang, mayoritas masyarakatnya berprofesi sebagai petani dan tak banyak terpapar informasi soal investasi emas. Bagi mereka, emas hanya identik dengan perhiasan.
Baca Juga: 123 Tahun Tetap Eksis, Kunci Sukses PT Pegadaian Ada di Buku Unlock Innovation Ini
Akan tetapi, mereka tidak bisa membedakan emas yang asli dengan yang palsu. Seringkali, mereka menganggap semua perhiasan berwarna kuning mengkilap adalah emas.
Farida Dwi Agustina (26), Agen Pegadaian di Desa Ngingit, Kecamatan Tumpang, Kabupaten Malang menceritakan kisahnya saat ditemui nasabah yang membawa emas palsu untuk digadaikan. Peristiwa ini terjadi pada tahun 2023 saat ia baru saja menjadi Agen Pegadaian.
Pada saat itu, seorang nasabah datang dengan membawa sejumlah gelang yang ia klaim sebagai emas dari Arab Saudi. Saat itu, Farida pun masih awam dan belum bisa membedakan antara emas asli atau palsu.
“Waktu itu saya belum paham kalau emas itu ada kodenya. Akhirnya saya bawa ke Kantor Pegadaian UPC Tumpang untuk dicek,” kata Farida saat ditemui di rumahnya, Senin (29/9/2025).
Ketika dicek di kantor, rupanya emas tersebut palsu. Farida sempat malu karena membawa emas palsu. Akan tetapi, ia menjadikan hal ini sebagai pelajaran agar lebih teliti saat menerima emas dari nasabah.
Baca Juga: Pegadaian Hadirkan Gadai Bebas Bunga untuk Masyarakat Jelang Mudik Lebaran
Begitu nasabah tersebut mendapat info bahwa emas miliknya palsu, ia sempat kaget. Meski demikian, ia menerima kabar tersebut dengan lapang dada karena emas tersebut adalah pemberian.
“Dia juga nggak tahu kalau emas itu palsu,” imbuh Farida.
Masyarakat tak paham harga emas
Selang beberapa waktu, Farida kembali menerima emas palsu dari salah satu nasabah. Kepada Farida, nasabah tersebut menyerahkan satu buah gelang dan satu buah cincin yang ia klaim sebagai perhiasan emas.
Bahkan, nasabah tersebut meminta uang gadai sebesar Rp500 ribu saat itu juga. Farida dengan tegas menolak dan mengatakan ia harus membawa gelang dan cincin itu ke Kantor Pegadaian UPC Tumpang untuk ditaksir nilainya. “Ternyata gelang dan cincin itu palsu,” kata Farida.

Saat mengembalikan gelang dan cincin itu ke pemiliknya, Farida sempat ditunjukkan bukti pembelian perhiasan tersebut. Rupanya gelang dan cincin itu dibeli di salah satu toko aksesoris yang ada di Pasar Tumpang.
Dalam nota tersebut tertera gelang dibeli seharga Rp150 ribu dan cincin dibeli seharga Rp50 ribu. Nasabah tersebut rupanya tak paham soal harga emas dan menganggap perhiasan miliknya tersebut adalah emas asli.
Ada kalanya masyarakat tak menyadari perhiasan yang mereka miliki bukan emas. Dengan mengunjungi Agen Pegadaian, mereka bisa mengecek keaslian perhiasan emas yang mereka punya.
“Dulu saya juga awam. Kalau sekarang saya sudah bisa membedakan emas asli atau palsu dan berapa karat,” kata Farida.
Emas tua batangan dan emas tua di pasar
Selain persoalan emas asli dan palsu, Farida juga kerap dihadapkan dengan nasabah yang tak memahami soal kadar emas. Saat Farida menawari investasi emas batangan, banyak warga yang menganggap harga emas tersebut terlalu mahal.
Mereka membandingkan harga emas batangan 24 karat dengan perhiasan emas 17 karat yang dijual di pasaran. Menurut Farida, mereka kerap mengatakan harga emas tua di pasar tidak semahal itu.
“Padahal ada emas yang lebih tua (karatnya lebih tinggi) daripada yang dijual di pasar,” tuturnya.
Hal ini menjadi tantangan bagi Farida saat menawarkan produk emas dari Pegadaian. Rupaya banyak masyarakat yang tidak tahu kalau ada produk emas batangan 24 karat.
Selama ini, mereka menganggap emas hanya berupa perhiasan. Sementara emas batangan itu berbentuk balok yang besar dan berat. Mereka belum pernah melihat ada emas batangan seberat satu atau dua gram.
Untuk mempermudah edukasi pada warga, Farida pun membeli emas batangan seberat dua gram. Ia biasanya membawa produk tersebut saat mengedukasi warga.
“Orang-orang kaget karena bentuknya kotak kecil. Mereka baru tahu kalau ada emas yang seperti itu,” ujarnya.
Semakin kompeten dengan menjadi Agen Gadai
Nurul Qistamziyah (33), Agen Pegadaian yang berdomisili di Desa Tumpang, Kecamatan Tumpang, Kabupaten Malang juga kerap mengalami kejadian serupa dengan Farida. Beruntungnya, ia selalu teliti sehingga tidak pernah mengeluarkan uang sebelum memastikan keaslian emas.

“Sering ada orang datang untuk gadai, tapi yang dibawa emas palsu. Tapi saya nggak sampai kena (mengeluarkan uang),” kata Nurul.
Pada Juli 2025, Nurul mengikuti pendidikan dan pelatihan (diklat) penaksir emas dengan fasilitasi dari PT Pegadaian. Seluruh diklat ini ia jalani tanpa mengeluarkan biaya sedikit pun.
Setelah lulus dari diklat ini, Nurul pun resmi menjadi Agen Gadai dan bisa melakukan penaksiran sendiri di outlet miliknya. Sebelumnya, ia harus membawa emas yang akan digadai ke Kantor Pegadaian UPC Tumpang untuk ditaksir.
Melalui diklat ini, keterampilan Nurul dalam menaksir nilai emas semakin meningkat. Tentunya, ia juga semakin lihai dalam membedakan emas asli dan palsu.

Usai mengikuti diklat ini, Nurul tidak perlu lagi membawa emas dari nasabah ke Kantor Pegadaian UPC Tumpang. Ia bisa mengecek sendiri keaslian dan nilai di outlet yang ada di rumahnya.
Setelah menjadi Agen Gadai, Nurul juga pernah menerima emas palsu dari nasabah. Emas-emas yang dibawa untuk digadaikan tersebut selalu berupa perhiasan.
“Setelah jadi Agen Gadai, saya malah ngecek sendiri di rumah. Itu juga kejadian (ada yang bawa emas palsu) beberapa kali,” kata Nurul.
Tingkatkan literasi hingga pelosok desa
Petugas Agen Pegadaian (PAP) Kantor Pegadaian Cabang Blimbing, Suriyani mengatakan dirinya bersama Agen-Agen Pegadaian kerap melakukan edukasi untuk #mengEMASkanindonesia hingga ke pelosok desa.
Kegiatan yang disebut dengan literasi ini bertujuan untuk memberikan informasi terkait investasi emas dan produk-produk Pegadaian lainnya.

Selama dua tahun terakhir, ia kerap berkeliling ke daerah-daerah yang belum terjamah. Dari situ, ia tak hanya mengenalkan produk, tapi juga mengenalkan agen yang bisa dihubungi nasabah kapan saja.
“Kepada kami, orang-orang biasanya tanya tentang produk Pegadaian. Kami pun mengenalkan produk sekaligus agen,” kata perempuan yang akrab disapa Any ini.
Ia mengamini bahwa masyarakat desa masih sulit untuk diajak berinvestasi emas. Namun, berkat Agen Pegadaian yang terus gigih dalam mengedukasi, kini lambat laun masyarakat mulai paham dan bersedia untuk berinvestasi emas.
“Sekarang sudah banyak yang melek emas dan mencicil emas di Agen Pegadaian,” ujar Any.
Agen Farida saat ini telah melayani 25 orang nasabah tabungan emas yang rutin memberikan setoran. Sekitar 15 di antaranya bahkan menitipkan buku tabungan di Farida karena mereka takut hilang.
Setiap datang ke rumah Farida, mereka menyetorkan sebagian uang yang mereka miliki. Rata-rata mereka setor sejumlah Rp50ribu hingga Rp100 ribu.
“Kalau berbentuk tabungan seperti ini, mereka bisa menabung sesuai kemampuan mereka. Tidak harus terkumpul banyak dulu baru bisa punya emas,” terang Farida.
Kepala Pegadaian UPC Tumpang, Ulil Albianto mengapresiasi kinerja Agen Pegadaian sebagai perpanjangan tangan dalam mengedukasi masyarakat. Ia menyadari, Kantor UPC Tumpang memiliki keterbatasan, baik dalam jangkauan maupun tenaga dan waktu.
“Agen itu mendekatkan kami ke masyarakat karena kami sendiri ada keterbatasan,” kata Ulil.
Kabupaten Malang merupakan kabupaten terbesar kedua di Jawa Timur. Wilayahnya yang luas membuat jangkauan Pegadaian cukup terbatas sehingga peran Agen sangat besar dalam mengedukasi masyarakat yang ada di desa.
Masyarakat yang berada di Kecamatan Tajinan, Kabupaten Malang pun harus menempuh perjalanan belasan kilometer untuk bisa menjangkat kantor Pegadaian terdekat, yakni UPC Tumpang. Oleh karena itu, agen yang tersebar di desa-desa bisa memepercepat misi Pegadaian mengEMASkan Indonesia.
“Kami memerlukan agen untuk bisa menyasar ke masyarakat yang ada di desa,” tutup Ulil.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Reporter: Aisyah Nawangsari Putri
Editor: Herlianto. A
























