Tugumalang.id – Masjid Tiban Turen di Kabupaten Malang, Jawa Timur, seringkali diindentikkan dengan hal mistik dan mahluk halus. Banyak cerita beredar di masyarakat maupun media sosial yang menyebut bangunan megah ini muncul secara tiba-tiba dan dipercaya dibangun oleh bangsa jin.
Tapi benarkah demikian? Untuk mendapatkan jawaban yang pasti, tim Tugumalang.id datang langsung ke lokasi Masjid Tiban Turen dan mewawancarai salah satu pengurus pondoknya bernama Muhajirin (58).
Dia menjelaskan, bangunan yang populer dengan sebutan Masjid Tiban itu sebenarnya Pondok Pesantren yang di dalamnya terdapat masjid. Pondok itu bernama Pesantren Salafiyah Bihaaru Bahri Asali Fadlaailir Rahmah.
Baca Juga: 5 Fakta Menarik Masjid Tiban Malang yang Menjadi Ikonik

“Di YouTube atau media sering disebut masjid, padahal ini pondok pesantren. Kaligrafi yang menghiasi tembok adalah nama pondok, semuanya dibuat sendiri oleh para santri,” ujarnya saat ditemui pada Jumat (29/08/2025)
Sejarah pondok ini dirintis sejak tahun 1963, ketika masih berupa musala kecil di belakang rumah pendiri. Pada 1978, pondok resmi berdiri dengan jumlah santri terbatas yaitu sekitar 40 orang. Mereka hanya berasal dari kampung sekitar.
“Menjelang 1988, mulai berdatangan santri dari Banyuwangi dan Ponorogo, hingga pembangunan pondok yang lebih besar dilaksanakan pada 1988–1992,” kata pria asal Grubukan Jawa Tengah itu.
Baca Juga: Rekomendasi 6 Wisata Religi di Malang Raya, Bikin Hati Tenang dan Adem

Pembangunan sempat terhenti karena masalah perizinan IMB yang baru selesai pada akhir 1997. Setelah itu, pada 1998 hingga sekarang, proses pembangunan terus berjalan.
“Semua pembangunan dilakukan oleh santri dan jemaah sendiri. Tidak ada keterlibatan jin seperti yang diberitakan. Cerita itu muncul karena saat proses pembangunan bagian depan masih tertutup rumah dan dapur, sehingga tiba-tiba terlihat megah setelah dibongkar,” jelas Muhajirin.
Arsitektur megah pondok ini bukan meniru bangunan lain, melainkan hasil istikharah para pengasuh pesantren. Ornamen-ornamen yang menghiasi setiap sudut dibuat sendiri oleh santri dengan cetakan khusus.

Saat ini terdapat lebih dari 680 cetakan ornamen yang digunakan untuk memperindah bangunan.
Kini, sekitar 70 keluarga santri tinggal di kawasan pesantren itu. Beberapa di antaranya menikah di lingkungan pondok, bahkan ada yang datang saat sudah berkeluarga sejak awal. Jadi total santri di pesantren ini sebanyak 350 santri. Semuanya pengabdian dari kakek-nenek sampai cucunya.
Selain pesantren, lembaga pendidikan formal juga berkembang di area ini, mulai dari KB, RA, hingga MI. Tahun depan, rencananya akan dibuka jenjang Tsanawiyah dengan tenaga pendidik dan gedung yang sudah dipersiapkan.
Meski sempat sepi saat pandemi, Masjid Tiban tetap menjadi magnet wisata religi. Wisatawan datang tidak hanya dari berbagai daerah di Indonesia, tetapi juga dari luar negeri seperti Amerika, Prancis, Italia, dan Australia.
“Harapan kami ke depan, pesantren ini bisa semakin berkembang, bahkan sampai ke jenjang perguruan tinggi,” tambah Muhajirin.
Dengan demikian, cerita mistis tentang pembangunan Masjid Tiban oleh bangsa jin dapat dipastikan hanyalah mitos. Keindahan bangunan ini adalah bukti nyata dari kerja keras santri, jemaah, serta doa dan istikharah para pengasuh pesantren.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Penulis: Imas Salisah Goniyah (Magang)
Editor: Herlianto. A


















