Rabu, September 2, 2026
Tugumalang.id
No Result
View All Result
  • Home
  • Tugu SehatNEW
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis & Properti
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Advertorial
  • Home
  • Tugu SehatNEW
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis & Properti
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Advertorial
No Result
View All Result
Tugu Malang ID
No Result
View All Result
Home Tugu Sehat

Haruskah Selalu Ikut Tren? Kenali FOMO dan JOMO agar Hidup Lebih Autentik

Redaksi by Redaksi
Agustus 9, 2025 6:05 am
in Tugu Sehat
Fomo dan Jomo

ilustrasi/pinterest

Share WhatsappShare FacebookShare Twitter

Malang, Tugumalang.id – Dalam era media sosial yang serba cepat dan penuh ekspektasi, banyak orang merasa harus selalu ikut tren agar tidak dianggap ketinggalan. Fenomena ini dikenal dengan istilah FOMO (Fear of Missing Out) atau ketakutan akan tertinggal dari apa yang sedang populer.

Namun, benarkah kita selalu harus ikut tren? Atau justru lebih sehat secara mental jika mampu menikmati momen sendiri, yang dikenal dengan JOMO (Joy of Missing Out)?

READ ALSO

Bahaya Asap Karhutla bagi Paru-Paru, Akademisi UMM Ungkap Risikonya

Ahli Gizi Ungkap Manfaat Jalan Kaki dan Pola Makan Sehat

FOMO dan JOMO, Serta Teori Psikologi Modern

Ilustrasi
ilustrasi/pinterest

Untuk memahami mengapa FOMO muncul, kita dapat merujuk pada teori Self-Determination dari dua psikolog ternama, Edward Deci dan Richard Ryan. Dalam teori ini, manusia memiliki tiga kebutuhan dasar:

  • Autonomy (kebebasan memilih),

  • Competence (perasaan mampu), dan

  • Relatedness (kebutuhan untuk terhubung dengan orang lain).

FOMO muncul ketika kebutuhan akan keterhubungan (relatedness) mendominasi, membuat seseorang terdorong mengikuti setiap tren agar tidak merasa tertinggal atau terasing dari lingkungannya. Sebaliknya, ketika seseorang mampu menyeimbangkan kebutuhannya dan tetap setia pada pilihan personal tanpa tekanan sosial, muncullah JOMO. Di sinilah kebutuhan autonomy menjadi dominan—kita memilih berdasarkan kesadaran, bukan keterpaksaan.

Baca juga: FOMO, YOLO, dan FOPO: 3 Penyakit Pikiran Serang Siapa Saja, Apakah Kamu Termasuk Orangnya?

Hal ini sejalan dengan pandangan Carl Rogers, tokoh psikologi humanistik, yang menekankan pentingnya aktualisasi diri dan keotentikan. Menurutnya, individu yang sehat secara psikologis adalah mereka yang hidup selaras dengan nilai-nilai pribadinya, bukan hanya mengikuti ekspektasi eksternal. FOMO sering menjauhkan kita dari diri sendiri karena sibuk menjadi seperti orang lain, sedangkan JOMO membawa kita kembali pada keaslian dan keseimbangan batin.

Perbandingan Sosial: Sumber Tekanan atau Sumber Kesadaran?

ilustrasi
ilustrasi/pinterest

Leon Festinger, psikolog sosial asal Amerika Serikat, juga memberikan pandangan penting melalui teori Social Comparison. Ia menyebut bahwa manusia cenderung membandingkan dirinya dengan orang lain untuk mengevaluasi keberadaannya. Sayangnya, di era digital, perbandingan ini menjadi tidak adil karena kita hanya melihat sisi terbaik dari hidup orang lain—hasil editan, pencitraan, dan keberhasilan semu.

Akibatnya, kita merasa kurang, tertinggal, dan terus terdorong untuk ikut-ikutan. Inilah akar FOMO. Namun ketika seseorang menyadari bahwa perbandingan ini tidak sehat, lalu mulai fokus pada pertumbuhan diri dan pengalaman pribadi, ia mulai memasuki ranah JOMO.

Pandangan ini juga didukung oleh Viktor Frankl, pencetus logoterapi, yang mengatakan bahwa makna hidup sejati harus datang dari dalam diri, bukan dari validasi orang lain. Ketika makna itu telah ditemukan, seseorang tidak lagi merasa butuh pengakuan dari tren sosial.

Haruskah Selalu Ikut Tren? Ini Waktunya Bertanya pada Diri Sendiri

FOMO dan JOMO tidak harus saling bertentangan. Keduanya justru bisa menjadi sinyal yang membantu kita memahami kebutuhan pribadi. FOMO bisa mengingatkan bahwa kita butuh koneksi sosial, sementara JOMO mengajarkan pentingnya memilih dengan sadar.

Jadi, pertanyaannya bukan “haruskah ikut tren?” tetapi “apakah keputusan itu lahir dari tekanan luar atau kesadaran diri?”

Menjadi autentik bukan berarti menolak semua hal baru, tetapi menyaringnya sesuai dengan nilai dan tujuan hidup pribadi. Kadang kita perlu ikut tren, kadang kita juga butuh menepi. Yang terpenting adalah kita tetap menjadi diri sendiri di tengah derasnya arus sosial.

Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News

Penulis: Maysa Ayu Raddina (Magang)
redaktur: jatmiko

Tags: FOMOJOMOMedia SosialTren Digital

Related Posts

Akademisi UMM Ungkap Bahaya Asap Karhutla bagi Paru-Paru
Tugu Sehat

Bahaya Asap Karhutla bagi Paru-Paru, Akademisi UMM Ungkap Risikonya

Senin, 31 Agu 2026
Jalan Kaki dan Pola Makan Sehat Jadi Kunci Hidup Sehat
Advertorial

Ahli Gizi Ungkap Manfaat Jalan Kaki dan Pola Makan Sehat

Jumat, 14 Agu 2026
Nikotin dalam Tembakau, Zat Adiktif yang Membuat Tubuh Sulit Lepas
Tugu Sehat

Nikotin dalam Tembakau, Zat Adiktif yang Membuat Tubuh Sulit Lepas

Jumat, 14 Agu 2026
7 Manfaat Singkong untuk Kesehatan, Ada Serat dan Vitamin C
Tugu Sehat

7 Manfaat Singkong untuk Kesehatan, Ada Serat dan Vitamin C

Senin, 10 Agu 2026
Terlalu Sering Rebahan Tingkatkan Risiko Diabetes hingga Hipertensi
Tugu Sehat

Terlalu Sering Rebahan Tingkatkan Risiko Diabetes hingga Hipertensi

Rabu, 5 Agu 2026
Teh Hijau Banyak Dipilih, Ini Kandungan dan Manfaatnya bagi Kesehatan
Tugu Sehat

Teh Hijau Banyak Dipilih, Ini Kandungan dan Manfaatnya bagi Kesehatan

Jumat, 31 Jul 2026
Next Post
Ade Govinda saat mengisi acara dalam gelaran Loka Nesia 2025 di MCC. (Foto/M Sholeh)

Loka Nesia 2025, Wadah Musisi Lokal Menuju Panggung Digital

BERITA POPULER

  • Meriah Hingga Akhir Bulan, Jadwal Karnaval Malang Raya 26 -31 Agustus 2026

    Meriah Hingga Akhir Bulan, Jadwal Karnaval Malang Raya 26 -31 Agustus 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sengketa Kepemilikan Sardo Swalayan Malang Memanas, Tatik Menangkan Praperadilan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Prediksi Susunan Pemain Bhayangkara FC vs Arema FC: Misi Sulit Singo Edan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • 5 SMK Swasta Terbaik di Kota Malang 2026: Pilihan Unggulan untuk Masa Depan Cerah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bukber di Balik Jeruji Besi, Napi Lapas Malang Lepas Rindu Bersama Keluarga

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Iklantm 08272026 2
Iklantm 08272026 1
17 Iklan HUT RI UIN Mlg.jpg
Iklantm 08172026 Pemkab
13 Iklan HUT RI BPJS2.jpg
12 Iklan HUT RI UM.jpg
07 Iklan HUT RI Prokopim Batu.jpg
Backdrop Kemerdekaan 434x390 Cm 1
Ucapan HUTRI2
HUTRI81 PKB 90X100.jpg
15 Iklan HUT RI PKS.jpg
16 Iklan HUT RI DPMPTSP Kota Batu.jpg
11 Iklan HUT RI Perumdam Among Tirto.jpg
06 Iklan HUT RI Dishub Kota Batu.jpg
08 Iklan HUT RI Satpol PP Batu.jpg
10 Iklan HUT RI Dinas Pendidikan Batu.jpg
14 Iklan HUT RI Dinas Perpus Batu.jpg
02 Iklan Gerakan Arek Jatim A

Portal berita Tugu Malang (tugumalang.id) merupakan perusahaan media siber di bawah naungan PT Tugu Media Komunikasindo

LOGO TUGU MALANG RED 2021

Ikuti Kami

Navigasi Site

  • Kode Etik
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Kebijakan Data Pribadi
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Form Pengaduan
  • Pedoman Media Siber

© 2021 Tugu Media Group - All Right Reserved Tugu Malang ID.

Jaringan Media 

Tugumalang.id 

Tugujatim.id 

Tugusehat.id

No Result
View All Result
  • Home
  • Tugu Sehat
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis & Properti
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Advertorial

© 2021 Tugu Media Group - All Right Reserved Tugu Malang ID.