Tugumalang.id – Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (Menteri LHK) Hanif Faisol Nurofiq memacu kolaborasi bersama lintas pihak dalam mengurangi emisi gas rumah kaca hingga 29 persen di 2030. Salah satunya lewat penanaman 100 pohon di kawasan Arboretum, hulu Sungai Brantas, Kota Batu.
Kawasan konservasi ini memang merupakan titik nol dari Sungai Brantas yang mengaliri 17 kabupaten dan kota di Jawa Timur, memasok kebutuhan air bagi lebih dari 20 juta penduduk, serta mendukung sektor pertanian, industri, dan energi.
Kelestarian kawasan hijau seperti ini menjadi perhatian bersama yang harus dijaga untuk menjaga emisi gas rumah kaca. Diketahui, penanaman pohon tersebut dihadiri Menteri LHK Hanif bersama Kepala Dinas LH Jawa Timur Nurkholis bersama jajaran Forkopimda Kota Batu hingga jajaran Perum Jasa Tirta I (PJT I) yabg mengelola dan menjaga kawasan konservasi mata air tersebut.
Baca Juga: Pria Kalipare Hilang Saat Setrum Ikan, Diduga Hanyut di Sungai Brantas
Jenis pohon yang ditanam seperti Pohon Kayu Manis dan Pohon Buah Mangga. Program ini merupakan bagian dari inisiatif nasional untuk meningkatkan tutupan hutan dan kualitas udara di seluruh Indonesia.
Bahkan selain menanam pohon, Menteri Hanif turut mencob meminum langsung air dari sumber mata air Sumberbrantas tersebut aebagai wujud konkret kepeduliannya terhadap kelestarian lingkungan dan keberlanjutan sumber daya air nasional.

Hanif mengatakan jika kedatangannya merupakan bentuk dari komitmen Indonesia dalam mitigasi perubahan iklim dan pelestarian lingkungan hidup.
Ia menjelaskan jika setiap pohon yang ditanam saat ini merupakan investasi masa depan bagi bumi Indonesia yang lebih hijau dan berkelanjutan.
Baca Juga: Air Sungai Brantas Meluap, BPBD Kota Malang Imbau Masyarakat Waspada
“Penanaman pohon serentak ini bukan sekadar simbolis, tetapi manifestasi nyata komitmen pemerintah dalam menjaga kelestarian lingkungan untuk generasi mendatang. Air dan udara harus kita jaga,” tuturnya.
Menteri Hanif juga menekankan bahwa program ini juga merupakan langkah strategis dalam mencapai target Nationally Determined Contribution (NDC) Indonesia dalam menurunkan emisi gas rumah kaca sebesar 29 persen pada 2030.
Selain udara, Hanif menegaskan pentingnya menjaga kelestarian kawasan hulu sebagai sumber utama air bersih masyarakat.
”Kawasan hulu harus tetap dijaga kelestariannya. Di Sumberbrantas inilah sumber utama air kita, yang mengalir dari Batu hingga Surabaya,” tegasnya.
Sementara itu, Direktur Utama PJT I, Fahmi Hidayat menambahkan jika upaya menjaga hulu adalah langkah fundamental dalam menjaga keberlanjutan fungsi sungai di hilir. Menjaga hulunya, kata dia juga berarti menjaga seluruh sistem yang bergantung padanya—dari air minum, irigasi pertanian, hingga pembangkit listrik.
”Kehadiran Menteri LHK dan penanaman pohon hari ini adalah pengingat sekaligus penguat semangat kita untuk terus bekerja menjaga alam,” jelas Fahmi.
Dalam kegiatan tersebut, dilakukan penanaman 100 bibit pohon yang berfungsi sebagai penguat struktur tanah dan penambah tutupan vegetasi di kawasan arboretum. Selain berfungsi sebagai daerah tangkapan air, Arboretum Sumber Brantas juga dikembangkan sebagai hutan konservasi.
Fahmi mengungkapkan bahwa PJT I secara konsisten menjalankan berbagai program konservasi dan rehabilitasi wilayah hulu, termasuk perlindungan mata air, pembangunan sumur resapan, penanaman vegetasi, dan pemberdayaan masyarakat sekitar kawasan konservasi.
Upaya ini tidak hanya ditujukan untuk menjaga ketersediaan air, tetapi juga untuk mencegah erosi, sedimentasi, serta degradasi lingkungan yang dapat merusak kualitas hidup masyarakat di sepanjang aliran sungai.
“Kami percaya bahwa konservasi sumber daya air tidak bisa dilakukan sendiri. Dibutuhkan kolaborasi antara pemerintah pusat, daerah, dunia usaha, dan masyarakat. Kunjungan ini membuktikan bahwa kepedulian terhadap lingkungan adalah tanggung jawab bersama,” tegasnya.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Reporter: M Ulul Azmy
Editor: Herlianto. A
























