Senin, Agustus 31, 2026
Tugumalang.id
No Result
View All Result
  • Home
  • Tugu SehatNEW
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis & Properti
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Advertorial
  • Home
  • Tugu SehatNEW
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis & Properti
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Advertorial
No Result
View All Result
Tugu Malang ID
No Result
View All Result
Home Hiburan

Adolescence: Serial yang Bongkar Sisi Gelap Maskulinitas Toksik pada Remaja

Tontonan yang Mengajak Refleksi tentang Maskulinitas, Tekanan Sosial, dan Kesehatan Mental Remaja Laki-laki

Redaksi by Redaksi
April 7, 2025 2:16 pm
in Hiburan, Pendidikan
Psikologi Remaja

Potongan cuplikan series Adolescence (Foto: Pinterest)

Share WhatsappShare FacebookShare Twitter

Malang, Tugumalang.id – Serial Adolescence belakangan ini ramai diperbincangkan publik, bukan hanya karena alur ceritanya yang menegangkan, tapi juga karena isu psikologis mendalam yang diangkat. Serial ini membedah bagaimana konsep toxic masculinity memengaruhi kehidupan remaja laki-laki sejak usia dini—dari tekanan sosial hingga pembentukan identitas diri.

Serial ini dibuka dengan kisah Jamie, seorang remaja laki-laki berusia 13 tahun yang dituduh membunuh teman sekolahnya, Katie. Kasus ini mengguncang keluarganya dan menguak konflik internal, luka emosional, serta dinamika relasi yang selama ini terpendam.

READ ALSO

Mahasiswa Unisma Tembus Jurnal Scopus Q2 Lewat Riset Strategi Membaca

Dosen ITN Malang Bantu Warga Candirenggo Pilah Sampah dari Rumah

Baca juga: Rekomendasi 5 Seri Buku Enid Blyton yang Seru untuk Anak dan Remaja

Meski mengusung cerita kriminal, Adolescence tidak hanya berfokus pada siapa pelakunya, tetapi lebih pada mengapa tindakan tersebut bisa terjadi. Dengan pendekatan sinematografi single shots, penonton diajak memahami kondisi psikologis setiap karakter laki-laki dalam cerita—semuanya hidup di bawah bayang-bayang ekspektasi menjadi “laki-laki sejati”.

Apa Itu Toxic Masculinity?

Toxic masculinity atau maskulinitas toksik adalah konsep sosial yang menuntut laki-laki untuk selalu kuat, dominan, agresif, heteroseksual, dan tidak menunjukkan emosi. Ekspektasi ini menciptakan tekanan besar yang berdampak pada kesehatan mental dan relasi sosial pria.

Dalam jangka panjang, toxic masculinity tidak hanya menyakiti orang lain—terutama perempuan—tetapi juga merugikan pria itu sendiri. Mereka menjadi takut terlihat lemah, enggan berbagi perasaan, dan cenderung memendam emosi. Hal ini meningkatkan risiko terhadap penyalahgunaan alkohol, narkoba, kekerasan, isolasi sosial, hingga bunuh diri.

Fenomena Red Pill dan Maskulinitas Toksik

Serial ini juga relevan dengan fenomena Red Pill Podcast, yang populer di kalangan pria muda. Istilah “Red Pill” berasal dari film The Matrix, sebagai simbol “melihat kebenaran tersembunyi.” Namun, dalam konteks ini, Red Pill berkembang menjadi gerakan yang menantang narasi sosial arus utama—terutama yang dianggap menguntungkan perempuan.

Baca juga: Tim Penelitian Fakultas Psikologi Universitas Negeri Malang Riset Upaya Pencegahan Kekerasan Seksual pada Remaja Tunagrahita

Podcast ini kerap membahas isu perceraian, hak asuh anak, dan eksploitasi emosional terhadap pria. Sayangnya, banyak kontennya dinilai memicu kebencian terhadap perempuan (misogini), memperkuat stereotip gender, dan menormalisasi dominasi pria.

Beberapa narasi toksik yang disuarakan dalam gerakan Red Pill antara lain:

  1. Menilai nilai seorang pria dari kekuasaan, uang, dan dominasi atas perempuan.

  2. Mendorong pria untuk menekan emosi dan menjadikan agresi sebagai simbol kekuatan.

  3. Merendahkan perempuan sebagai makhluk manipulatif yang hanya tertarik pada “alpha males.”

Alih-alih mendorong pemulihan dan kesehatan mental pria, Red Pill justru memperkuat luka sosial yang tidak terselesaikan—berbanding terbalik dengan gerakan positive masculinity yang menekankan empati, komunikasi, dan dukungan emosional.

Pentingnya Ruang Aman untuk Remaja Laki-laki

Lewat Adolescence, kita diajak merenung: bagaimana jika remaja laki-laki terus dibesarkan dalam lingkungan yang menolak ekspresi emosional? Ketika kekerasan dan dominasi dianggap sebagai satu-satunya cara untuk menjadi “laki-laki sejati”, tragedi hanyalah soal waktu.

Sudah saatnya kita menciptakan ruang aman untuk anak laki-laki—ruang yang membolehkan mereka menangis, bercerita, dan merasa cukup hanya dengan menjadi diri sendiri. Sebab, menjadi kuat bukan berarti harus selalu terlihat tegar, dan menjadi laki-laki bukan berarti harus memendam semua luka sendirian.

Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News

Penulis: Keshia Putri Susetyo/Magang
redaktur: jatmiko

Tags: kesehatan mental remajamaskulinitas toksikserial Adolescencetekanan sosial pada remaja laki-lakitoxic masculinity

Related Posts

Mahasiswa Unisma Tembus Jurnal Scopus Q2 Lewat Riset Strategi Membaca
Pendidikan

Mahasiswa Unisma Tembus Jurnal Scopus Q2 Lewat Riset Strategi Membaca

Sabtu, 29 Agu 2026
Dosen ITN Malang Bantu Warga Candirenggo Pilah Sampah dari Rumah
Advertorial

Dosen ITN Malang Bantu Warga Candirenggo Pilah Sampah dari Rumah

Jumat, 28 Agu 2026
UIN Malang Buka Posko Kesehatan Gratis untuk Warga Nahdliyin di Muktamar ke-35 NU
Advertorial

UIN Malang Buka Posko Kesehatan Gratis untuk Warga Nahdliyin di Muktamar ke-35 NU

Jumat, 28 Agu 2026
ITN Malang Gandeng Perbakin, Lahan Kampus 2 Jadi Fasilitas Latihan Menembak
Advertorial

ITN Malang Gandeng Perbakin, Lahan Kampus 2 Jadi Fasilitas Latihan Menembak

Jumat, 28 Agu 2026
Drama Umar bin Khattab Warnai Maulid Nabi di SMP Insan Permata Malang
Advertorial

Drama Umar bin Khattab Warnai Maulid Nabi di SMP Insan Permata Malang

Jumat, 28 Agu 2026
Mahasiswa KKN Unikama dan Diskominfo Malang Perkuat SDM Operator Desa di Pakisaji
Pendidikan

Mahasiswa KKN Unikama dan Diskominfo Malang Perkuat SDM Operator Desa di Pakisaji

Kamis, 27 Agu 2026
Next Post
Wali Kota Malang

Petani Kota Malang Panen 8 Ton Padi per Hektar, Wali Kota Malang: Ini Luar Biasa!

BERITA POPULER

  • Meriah Hingga Akhir Bulan, Jadwal Karnaval Malang Raya 26 -31 Agustus 2026

    Meriah Hingga Akhir Bulan, Jadwal Karnaval Malang Raya 26 -31 Agustus 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sengketa Kepemilikan Sardo Swalayan Malang Memanas, Tatik Menangkan Praperadilan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Prediksi Susunan Pemain Bhayangkara FC vs Arema FC: Misi Sulit Singo Edan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • 5 SMK Swasta Terbaik di Kota Malang 2026: Pilihan Unggulan untuk Masa Depan Cerah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bukber di Balik Jeruji Besi, Napi Lapas Malang Lepas Rindu Bersama Keluarga

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Iklantm 08272026 2
Iklantm 08272026 1
17 Iklan HUT RI UIN Mlg.jpg
Iklantm 08172026 Pemkab
13 Iklan HUT RI BPJS2.jpg
12 Iklan HUT RI UM.jpg
07 Iklan HUT RI Prokopim Batu.jpg
Backdrop Kemerdekaan 434x390 Cm 1
Ucapan HUTRI2
HUTRI81 PKB 90X100.jpg
15 Iklan HUT RI PKS.jpg
16 Iklan HUT RI DPMPTSP Kota Batu.jpg
11 Iklan HUT RI Perumdam Among Tirto.jpg
06 Iklan HUT RI Dishub Kota Batu.jpg
08 Iklan HUT RI Satpol PP Batu.jpg
10 Iklan HUT RI Dinas Pendidikan Batu.jpg
14 Iklan HUT RI Dinas Perpus Batu.jpg
02 Iklan Gerakan Arek Jatim A

Portal berita Tugu Malang (tugumalang.id) merupakan perusahaan media siber di bawah naungan PT Tugu Media Komunikasindo

LOGO TUGU MALANG RED 2021

Ikuti Kami

Navigasi Site

  • Kode Etik
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Kebijakan Data Pribadi
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Form Pengaduan
  • Pedoman Media Siber

© 2021 Tugu Media Group - All Right Reserved Tugu Malang ID.

Jaringan Media 

Tugumalang.id 

Tugujatim.id 

Tugusehat.id

No Result
View All Result
  • Home
  • Tugu Sehat
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis & Properti
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Advertorial

© 2021 Tugu Media Group - All Right Reserved Tugu Malang ID.