MALANG, Tugumalang.id – Tebu pringu kini menjadi varietas yang diunggulkan di Kabupaten Malang. Tebu ini memiliki rendemen hingga 12 persen. Sedangkan tebu jenis lainnya rata-rata memiliki rendemen sekitar 8-9 persen.
Rendemen tebu merupakan kadar gula dalam batang tanaman tersebut. Rendemen dihitung dengan membandingnya jumlah kilogram gula yang dihasilkan dari setiap penggilingan satu kuintal tebu.
Tebu pringu berasal dari Desa Pringu, Kecamatan Bululawang, Kabupaten Malang. Varietas yang berasal dari koleksi PG Krebet Baru ini mulai dikembangkan di tahum 2012 dan dirilis pada tahun 2023. Saat ini, tebu pringu sudah ditanam di lahan seluas 300 hektare.
Baca Juga: Diskusi dengan Petani Tebu di Kabupaten Malang, Kepala Bapanas Komitmen Jaga Harga Gula
Selain memiliki rendemen tinggi, tebu pringu diunggulkan karena memiliki produksi yang juga tinggi. Setiap hektare lahan bisa menghasilkan hingga 150 ton tebu pringu di musim panen.
“Rendemen (tebu pringu) tinggi, produksinya juga tinggi dibandingkan varietas tebu lain,” kata Kepala Bidang Perkebunan Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan (DTPHP) Kabupaten Malang, Kholidah, belum lama ini.
Keunggulan tebu pringu lainnya adalah varietas ini masak awal. Artinya, tebu pringu sudah masak di awal musim giling dan bisa memenuhi kebutuhan pabrik.
Baca Juga: Produksi Tebu di Kabupaten Malang Meningkat 4,8 Persen
Menurut Kholidah, dua pabrik gula di Kabupaten Malang, PG Krebet Baru dan PG Kebonagung kerap mengalami kesulitan mencari bahan baku di awal musim giling.
Kebanyakan tebu yang ditanam di Kabupaten Malang adalah varietas BL (Bululawang) yang masak akhir.
“Malang ini banyak yang tanam masak akhir karena di lahan tegal. Karena lahan tegal, jadi menanamnya menunggu musim hujan,” kata Kholidah.
Akibatnya, produksi tebu di awal musim giling tidak bisa memenuhi kebutuhan pabrik gula. Dua PG di Kabupaten Malang tersebut harus mencari bahan baku tebu yang berasal dari daerah lain.
Pengembangan tebu pringu diharapkan bisa memenuhi kebutuhan pabrik gula di awal musim giling.
Tantangan dalam mengembangkan tebu pringu adalah petani enggan membongkar lahan mereka untuk menanam bibit yang baru. Mereka lebih mengepras tanaman hingga beberapa kali. Padahal, jika dikepras, rendemen tebu bisa berkurang.
Meski demikian, pengembangan tebu pringu didorong dengan adanya program bibit gratis. Petani yang mau menanam tebu pringu bisa mendapatkannya secara gratis agar kebutuhan pabrik akan bahan baku di awal musim giling terpenuhi.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Reporter: Aisyah Nawangsari Putri
Editor: Herlianto. A
























