MALANG, Tugumalang.id – Generasi yang lahir pada tahun 1997-2012 atau yang dikenal dengan Generasi Z (Gen Z) seringkali dianggap menghadapi tantangan yang tidak mudah dalam mengelola stres dan juga kesehatan mental.
Hal itu bukan tanpa alasan sebab mayoritas individu yang tergolong dalam Gen Z sudah terhubung dengan kemudahan teknologi sehingga beragam informasi dapat mereka akses dengan mudah.
Tetapi akses terhadap teknologi yang begitu mudah membuat Gen Z justru rentan terhadap stres karena masifnya arus informasi yang justru memberi tekanan tersendiri bagi mereka.
Baca Juga: Menjembatani Generasi: Inspirasi dari Najwa Shihab, Nicholas Saputra, dan Dee Lestari untuk Gen Z
Banyak faktor yang berkontribusi terhadap stres yang dirasakan oleh Gen Z yakni tekanan akademis, ekonomi, serta dapat disinformasi dari media sosial.
Dosen Fakultas Psikologi Universitas Negeri Malang (UM), Dewi Fatmasari Edy, S.Psi, M.A kepada Tugumalang.id menjelaskan bahwa Gen Z tumbuh di era teknologi digital sehingga perilaku mereka dalam berkomunikasi, bekerja, serta bersosialisasi dipengaruhi oleh konsumsi informasi di dunia digital.
Keterbukaan ruang informasi serta paparan berlebihan pada media sosial dan tekanan sosial di dunia cyber menurut perempuan yang akrab disapa Dewi itu bisa menjadi boomerang tersendiri bagi kesehatan mental di kalangan Gen Z.
Kondisi itulah yang kemudian menjadi cikal bakal rentannya Gen Z dalam menghadapi tekanan atau stres yang berujung pada kecemasan dan masalah kesehatan mental. Karena paparan informasi yang mereka terima secara mentah-mentah dari media sosial tanpa adanya upaya mengecek kebenaran informasi tersebut.
Baca Juga: Pemilih di Kota Batu pada Pilwali 2024 Didominasi Generasi Milenial
Membuat Gen Z cenderung melakukan self diagnosis terhadap diri mereka sendiri. Hal itu menjadi pisau bermata dua karena di satu sisi bisa mengidentifikasi diri terhadap permasalahan yang dihadapi tetapi di lain sisi juga memberi tekanan kepada diri sendiri.
“Inilah yang menjadi cikal mereka lebih rentan terhadap stres, kecemasan, dan masalah kesehatan mental. Teknologi seakan dua mata pisau bagi mereka, membawa dampak positif dan juga negatif,” tutur Dewi.
“Tak jarang self-diagnose pun terjadi karena paparan informasi yang ditafsirkan sendiri belum tentu dari sumber kredibel atau butuh konfirmasi dan tahapan penilaian lebih lanjut. Self diagnose inilah yang terkadang makin menjadikan mereka (Gen Z) berada dalam tekanan,” paparnya.
Lebih lanjut, Dewi menjelaskan bahwa mayoritas Gen Z adalah anak muda yang masih mencari jati diri mereka sehingga sangat terbuka terhadap beragam informasi yang masuk.
Apabila tidak ada kontrol terhadap arus informasi yang mereka terima, kondisi itulah yang menjadi awal mula mengapa Gen Z rentan mengalami stres.
“Anak mudah yang masih mencari jati diri ini sangat terbuka akan informasi masuk, tidak terbendung sehingga eksplorasi pencarian jati diri ini membuat mereka menerima semua informasi secara masif. Padahal daya tampung mereka akan tekanan bisa jadi belum siap membendung banjir informasi ini,” terangnya.
“Inilah salah satu alasan mengapa mereka rentan mengalami stres,” sambung dosen Psikologi Klinis tersebut.
Pihaknya pun memberikan tips kepada Gen Z agar dapat mengelola stres dengan baik dan terhindar dari perilaku-perilaku negatif yang disebabkan karena ketidakmampuan diri dalam mengelola stres.
1. Bijak Bermedia Sosial
Tidak dapat dipungkiri di era teknologi digital yang semakin canggih seperti saat ini dengan perkembangan media sosial yang begitu masif. Gen Z perlu bijak dalam bermedia sosial sebagai salah satu alternatif untuk mengurangi stres berlebih karena timbulnya tekanan-tekanan sosial dari informasi yang diterima di media sosial.
Selain itu, dengan bijak bermedia sosial juga membuat individu lebih produktif karena terhindar dari rasa kecanduan bermedia sosial dan berlama-lama menatap layar gadget atau smartphone. Sehingga tekanan sosial dari konsumsi informasi di media sosial dapat dikontrol dengan baik.
2. Menyaring Informasi
Beragam informasi akan dengan mudah diterima dan diakses di media sosial. Untuk itu dibutuhkan kemampuan menyaring informasi agar tidak mengalami stres karena menjadikan standar yang ada di media sosial sebagai standar hidup yang harus segera digapai.
Langkah yang dapat dilakukan individu adalah dengan membatasi pencarian informasi dan juga mengelola waktu dengan baik kapan bermedia sosial dan kapan harus bekerja atau belajar. Sehingga dapat mengontrol arus informasi yang diterima dari media sosial.
3. Tidak Mudah Terjerumus dalam Standar Media Sosial yang Semu
Informasi di media sosial banyak yang menampilkan kesuksesan orang lain dengan standar-standar pencapaian yang ditentukan oleh umur, pekerjaan, keluarga, dan lain-lain. Sehingga dampaknya adalah individu akan cenderung membandingkan diri dengan orang lain dalam hal pencapaian.
Situasi itulah yang kemudian menimbulkan tekanan tersendiri bagi individu. Padahal informasi atau standar sosial yang mereka lihat di media sosial bersifat semu dan setiap individu memiliki pencapaiannya masing-masing.
Untuk itu langkah yang dapat dilakukan adalah tidak mudah terjerumus dalam standar-standar tertentu di media sosial.
4. Refleksi Diri
Alangkah baiknya setiap individu melakukan refleksi diri untuk tidak membebani diri sendiri terhadap pencapaian orang lain di media sosial. Selain itu refleksi diri diperlukan agar tidak terlalu asyik terjebak dalam arus kehidupan semu di media sosial.
Jika mengalami permasalahan lebih lanjut dalam mengelola stres, Dewi menyarankan agar Gen Z tidak melakukan self diagnosis dan menghadapi permasalahan yang ada dengan berkonsultasi dan mencari bantuan segera ke tenaga profesional.
“Segera meminta bantuan jika dirasa sudah tidak terbendung. Tidak apa-apa untuk berada dalam kondisi yang tidak baik-baik saja dan tidak mengapa mencari bantuan segera,” ujarnya.
Demikian informasi dan juga tips mengelola stres dari dosen Fakultas Psikologi UM untuk menjaga kondisi kesehatan mental khususnya bagi Gen Z. Semoga informasi ini bermanfaat!.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Penulis: Bagus Rachmad Saputra
Editor: Herlianto. A
























