Rabu, Oktober 7, 2026
Tugumalang.id
No Result
View All Result
  • Home
  • Tugu SehatNEW
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis & Properti
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Ruang Cendekia
  • Home
  • Tugu SehatNEW
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis & Properti
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Ruang Cendekia
No Result
View All Result
Tugu Malang ID
No Result
View All Result
Home Ruang Cendekia

Kekuatan Silaturahim dan Penjualan Buku

Redaksi by Redaksi
Juli 9, 2021 3:05 pm
in Ruang Cendekia
Share WhatsappShare FacebookShare Twitter

Oleh: Dr Sirikit Syah*

Beberapa hari lalu saya betul-betul dibuat amazed alias terkesima membaca laporan bahwa Aqua Dwipayana bisa menjual 30 ribu eksemplar bukunya hanya dalam waktu 2-3 bulan. Apalagi dalam situasi pandemi Covis-19. Itu sungguh prestasi yang luar biasa untuk seorang pengarang atau penulis buku.

READ ALSO

Menjaga Keseimbangan Pendidikan Tinggi: Menagih Keadilan bagi PTS dan Perguruan Tinggi Pesantren

Nyai Sepuh dalam Ingatan Banyak Orang

Saya kemudian melakukan refleksi pada perjalanan perbukuan saya. Buku saya pernah diterbitkan sampai cetak ulang belasan kali, tapi saya tidak mendapat royalti karena sudah dibayar di awal dengan murah.

Saya juga pernah dikagetkan e-mail dari seorang akademisi di Inggris yang akan menganalisis cerpen saya di paper ilmiahnya. Cerpen dikutip dari buku kumpulan cerpen cetakan ketiga.

Lho?! Kok ketiga? Kok saya tidak diberitahu oleh penerbit bahwa cerpen saya sudah naik cetak tiga kali? Saya hanya diberi royalti untuk cetakan pertama.

Buku saya juga pernah beberapa kali diterbitkan dalam rangka Hari Ulang Tahun Persatuan Wartawan Indonesia (HUT PWI). Kali pertama, ketika Ketua PWI Margiono, saya diberi Rp 10 juta. Kali-kali berikutnya, saya hanya diberi 5 eksemplar, tanpa honor dan tanpa royalti.

Pernah saya datangi kantor PWI Pusat di Jl. Kebon Sirih, lalu saya diberi Rp 1,5 juta. Kali selanjutnya, nol honor. Padahal buku itu disponsori Toyota Foundation (logonya ada di halaman pertama).

Saya bertanya pada kenalan di PWI: “Mengapa penulis tidak diberi honor atau hak terbitnya tidak dibeli dengan harga pantas?” Jawabnya: “Waktu pengajuan ke sponsor, itu tidak diajukan. Yang dibiayai hanya cetaknya saja.”

Harus Punya Modal

Nah, pertanyaan berikutnya kan, “Mengapa PWI tidak memasukkan elemen honor penulis buku pada proposal kepada sponsor?” Semoga tahun-tahun yang akan datang, diajukan ya?

Buku saya juga pernah diterbitkan oleh beberapa penerbit mayor, tetapi angka penjualan dan royalti tidak jelas. Akhirnya saya menyimpulkan, menerbitkan secara indie lebih jelas (jumlah penjualan dan uang masuk) daripada diterbitkan penerbit mayor. Kemudian, beberapa buku saya belakangan terbit indie.

Masalah dengan terbit indie adalah: kau harus punya modal untuk biaya cetak/terbit. Tapi ini masalah kecil dibanding dampaknya. Dampak utama adalah: kita tahu/mengenal siapa pembeli kita, karena berhubungan langsung.

Dampak lainnya, uang masuk dengan jelas yang margin keuntungan antara 50-100% dari biaya cetak. (Bandingkan dengan royalti 8% dari penerbit mayor, dari harga jual di toko buku). Kecepatan laku juga lebih memuaskan.

Kalau di toko buku, minggu kedua atau ketiga buku kita akan segera disingkirkan di rak belakang, pojok, tersembunyi, sehingga tidak terlihat oleh pengunjung.

Dengan berjualan sendiri melalui media sosial, perhatian langsung tertuju pada buku kita. Alhamdulillah saya bisa menjual beberapa ratus buku untuk tiap judul, meskipun itu memakan waktu 1-2 tahun.

Perbanyak Silaturahim

Kembali pada keajaiban Aqua Dwipayana. Selain keunggulannya pada tema buku, yaitu buku motivasi (yang sedang ngetrend di tahun-tahun belakangan ini dibanding karya fiksi), ternyata ada faktor lain yang membuat bukunya laris manis.

Aqua suka bersilaturahim. Dia mendatangi dan menghadiri beberapa event, diundang maupun dia volunteer (kemauannya sendiri). Dengan bersilaturahim berbincang tentang apa yang dia kuasai, dia alami, berbagi ilmu dan pengalaman, bukunya dibeli oleh peserta.

Saya dua tahun belakangan ini seperti bersembunyi di dalam kamar, karena tengah menjalani kemoterapi. Silaturahim saya terbatas lewat media sosial. Tak heran bila saya hanya mampu menjual 2-3 buku dalam sebulan, 100-200 dalam 2 tahun. Saya ingin sekali bisa menjual sampai puluhan ribu buku seperti Aqua.

Tantangannya: pertama, apakah saya punya modal mencetak? Kedua: di masa pandemi dan sedang dalam terapi kemo, launching dan diskusi buku (yang pasti menarik untuk kampus-kampus bahasa/sastra dan jurnalistik) tidak dimungkinkan.

Yah, nasib orang memang beda-beda, dan ALLAH SWT sudah mengatur porsinya. Saya belum punya cukup rezeki untuk berumrah, rezeki Aqua sudah diamalkan untuk mengumrahkan banyak orang. Bahkan jumlahnya mencapai ratusan orang. Setiap tahun dia memberangkatkan puluhan orang ke Tanah Suci. Hanya dua tahun terakhir ini kegiatan mulianya terpaksa berhenti karena pandemi Covid-19.

ALLAH SWT Maha adil, dan saya merasa harus berikhtiar lebih keras, bersyukur lebih banyak, dan meniru teladan para penulis di depan saya, di antaranya: perbanyak silaturahim. Silaturahim memanjangkan umur dan mendatangkan rezeki.

Juli 2021

*Penulis tinggal di Surabaya, berprofesi sebagai dosen dan pengarang.

Related Posts

Menjaga Keseimbangan Pendidikan Tinggi: Menagih Keadilan bagi PTS dan Perguruan Tinggi Pesantren
Ruang Cendekia

Menjaga Keseimbangan Pendidikan Tinggi: Menagih Keadilan bagi PTS dan Perguruan Tinggi Pesantren

Minggu, 4 Okt 2026
Nyai Sepuh dalam Ingatan Banyak Orang
Ruang Cendekia

Nyai Sepuh dalam Ingatan Banyak Orang

Minggu, 4 Okt 2026
Memaksimalkan Potensi Negatif Manusia: Melihat Perspektif Psikologi dan Islam
Ruang Cendekia

Memaksimalkan Potensi Negatif Manusia: Melihat Perspektif Psikologi dan Islam

Rabu, 30 Sep 2026
Hakim, Hukum, dan Pelajaran dari Sulaiman Muda
Ruang Cendekia

Hakim, Hukum, dan Pelajaran dari Sulaiman Muda

Rabu, 30 Sep 2026
Guru Agama dan Dosen MPAI: Mencetak Generasi Pembawa Damai
Ruang Cendekia

Guru Agama dan Dosen MPAI: Mencetak Generasi Pembawa Damai

Senin, 28 Sep 2026
Saat dalam Kondisi Terpuruk, Benarkah Kita Tidak Sendirian?
Ruang Cendekia

Saat dalam Kondisi Terpuruk, Benarkah Kita Tidak Sendirian?

Minggu, 27 Sep 2026
Next Post
inspirasi - Inspirasi dari Mas Santoso 

Inspirasi dari Mas Santoso 

BERITA POPULER

  • Tatik Swartiatun (tengah) didampingi kuasa hukumnya memberikan pernyataan soal sengketa Sardo Swalayan. (Foto/M Sholeh)

    Sengketa Kepemilikan Sardo Swalayan Malang Memanas, Tatik Menangkan Praperadilan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Prediksi Susunan Pemain Bhayangkara FC vs Arema FC: Misi Sulit Singo Edan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam Seribu Bulan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bukber di Balik Jeruji Besi, Napi Lapas Malang Lepas Rindu Bersama Keluarga

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Perbedaan Makeup Look Korean Ulzzang, Japanese Igari, dan Chinese Douyin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Iklantm 10042026 1
Iklan10032026
21440510 796c 4a78 A1cd 0e5e0bd76582
8de19c4a 6fa9 471a 91a6 756e384f3221
02 Iklan Gerakan Arek Jatim A

Portal berita Tugu Malang (tugumalang.id) merupakan perusahaan media siber di bawah naungan PT Tugu Media Komunikasindo

LOGO TUGU MALANG RED 2021

Ikuti Kami

Navigasi Site

  • Kode Etik
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Kebijakan Data Pribadi
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Form Pengaduan
  • Pedoman Media Siber

© 2021 Tugu Media Group - All Right Reserved Tugu Malang ID.

Jaringan Media 

Tugumalang.id 

Tugujatim.id 

Tugusehat.id

No Result
View All Result
  • Home
  • Tugu Sehat
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis & Properti
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Ruang Cendekia

© 2021 Tugu Media Group - All Right Reserved Tugu Malang ID.