Minggu, Agustus 30, 2026
Tugumalang.id
No Result
View All Result
  • Home
  • Tugu SehatNEW
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis & Properti
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Advertorial
  • Home
  • Tugu SehatNEW
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis & Properti
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Advertorial
No Result
View All Result
Tugu Malang ID
No Result
View All Result
Home News

Lingkaran Setan Bullying Program Pendidikan Dokter Spesialis, Senioritas hingga Nepotisme!

Redaksi by Redaksi
April 25, 2024 7:50 am
in News
Program pendidikan dokter spesialis

Ilustrasi: bullying di dalam program pendidikan dokter spesialis. Foto: Freepik

Share WhatsappShare FacebookShare Twitter

MALANG, Tugumalang.id – Fenomena perundungan atau bullying terselubung dalam lingkup program pendidikan dokter spesialis (PPDS) sudah jadi rahasia umum di kalangan kedokteran. Ada, tapi tak terlihat. Kami menemukan banyak aksi tak terpuji yang terselubung, mulai senioritas, nepotisme hingga sentimen antar ras.

Bahkan, sebagian besar masyarakat menilai bahwa aksi perundungan ini sudah semacam jadi lingkaran setan. Aksi bullying ini terbungkus rapi dengan nafas pendidikan ‘pembentukan karakter’. Tidak heran jika PPDS ini cenderung disiplin dan ketat karena profesi ini berkaitan dengan nyawa seseorang.

READ ALSO

Jenazah Laki-Laki Tanpa Identitas Ditemukan Mengapung di Sungai Lawang

Pemdes Junrejo Tetapkan Biaya Makam Rp1 Juta bagi Pendatang Baru

Hanya saja, pendidikan itu kerap diwarnai fenomena senioritas yang seiring waktu cenderung berlebihan hingga membudaya. Tak heran jika data Kemenkes menunjukkan tingkat depresi yang dialami dokter residen -istilah penyebutan dokter yang menempuh PPDS- tergolong tinggi.

Bagaimana tidak? Sejumlah kesaksian para sumber yang dihimpun tugumalang.id sebagian besar tahu dan mengamini hal itu. Tak hanya kekerasan verbal, mereka juga menerima kekerasan fisik hingga beban kerja di luar kewajaran.

Selain menempuh pendidikan, para dokter residen ini juga kerap mengalami tindak pemerasan para senior atau kakak tingkatnya. Mulai dari sekedar mengerjakan tugas senior, menyediakan makanan sesuai selera bahkan hingga mengurusi kebutuhan pribadi senior.

Baca Juga: Ekslusif! Dokter di Malang Ungkap Tabir Kerasnya Pendidikan Dokter Spesialis yang Bikin Depresi Kerap Dibully Senior

“Ada juga lho yang dituntut mengurusi tetek-bengek senior di luar ilmu kedokteran. Seperti memberi atau mencarikan pinjaman kendaraan pribadi, kebutuhan keluarga senior dan masih banyak lagi. Ya itu semua harus dipenuhi kalau calon dokter spesialis ingin lulus,” ungkap narasumber yang tak ingin disebutkan identitasnya.

Sejumlah narasumber lain, bahkan mengungkapkan bullying ini seolah menjadi budaya yang normal dan tak bisa dihindari. Ada relasi kuasa yang pelik di dalamnya. Dimana dokter residen tak pelak butuh pendidikan dengan menangani pasien langsung, namun ada jajaran para senior yang harus dilewati.

“Meski ada supervisi langsung dari dokter spesialis asli, tetap saja yang dihadapi ya para senior ini. Mau tidak mau, mereka harus nurut,” beber seorang dokter umum di Kota Malang.

Ketergantungan ini yang kemudian membuat relasi antara senior kepada juniornya cenderung toxic. Tak jarang, para dokter resdiden ini bekerja ekstra keras melebihi jam kerja yang menguras tenaga, pikiran dan jiwanya.

“Bahkan saya ada dengar, senior ini disuruh jemput anak seniornya di sekolah, ditambahi beban kerja tugas senior dan lain-lain. Ada banyak lagi beban kerja tak wajar lainnya,” ungkapnya.

Narasumber lainnya mengatakan selain urusan senioritas, dokter residen masih harus mengalami perlakuan diskriminasi. Bukan lagi soal senioritas, paling parah juga kerap menghadapi nepotisme hingga urusan sentimen antar ras.

”Ini yang paling parah, jadi ada blok-blokan antara ras satu dengan yang lain. Mungkin agak sensitif ya, tapi itu kejadian dan membudaya bahkan aksi nepotisme itu semakin kelihatan nanti ketika para dokter ini sudah diterima kerja di RS,” bebernya.

Baca Juga: Hari Dokter Nasional, dr Dhelya Sebut Perlunya Kolaborasi Bangun Health-Tourism di Malang

Kerasnya dinamika tersebut tak ayal berpengaruh terhadap kualitas kesehatan mental dan jiwa para calon dokter muda. Tak sedikit dari mereka mengalami gejala depresi selama proses pendidikan tersebut.

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) sendiri telah merilis data mengejutkan jika sebanyak 22,4 persen mahasiswa PPDS mengalami gejala depresi. Data yang didapat dari hasil skrining di 28 rumah sakit vertikal itu menyebutkan ada 2.716 calon dokter mengalami gejala depresi. Bahkan 3 persen dari mereka punya keinginan untuk bunuh diri.

Ketua Ikatan Dokter Indonesia Jatim (IDI Jatim) Dr Sutrisno menilai jika fenomena bullying tidak bisa digeneralisasi di semua tempat. Menurutnya, iklim pendidikan PPDS memang cenderung disiplin dan ketat. Berpegang pada prinsip Kualitas, Mentalitas, Perilaku, Ilmu dan Etika

”Menjadi dokter spesialus itu harus konsisten tinggi, no error. Yang dipegang juga adalah manusia, jadi tidak boleh salah dan keselamatan nyawa itu nomor satu,” ungkapnya.

Namun memang jika pendidikan itu berujung hingga perundungan bahkan tak berkaitan dengan ilmu kedokteran, Sutrisno menegaskan kepada korban yang mengalami untuk melaporkan kepada jajaran IDI di masing-masing daerah.

”Kalau ada menemui seperti itu, laporkan! Akan kami keluarkan,” tegasnya.

Terlepas dari itu, fenomena dokter stres di Indonesia menurut Sutrisno masih jauh di bawah. Mengacu dari hasil Riskesdas dari Kemenkes menyebutkan jika masyarakat Indonesia mengalami gangguan kejiwaan mencapai 20 persen.

Sementara menurut Sutrisno, gangguan kejiwaan di lingkup PPDS berkisar di angka 3,5 sampai 5,5 persen. ”Kan itu masih jauh di bawah,” ujar Sutrisno.

Baca Juga: Universitas Negeri Malang Buka Penerimaan Mahasiswa Baru Prodi S1 Kedokteran

Kendati begitu, Kemenkes sendiri telah bergerak cepat untuk meminimalisir dampak tersebut lewat Instruksi Menteri Kesehatan (Imenkes) RI Nomor HK.02.01/Menkes/1512/2023 yang mengatur tentang pencegahan dan penanganan perundungan (bullying) terhadap peserta didik di rumah sakit pendidikan dalam lingkungan Kemenkes.

Imenkes ini termasuk mendorong Direktur RS ikut berkontribusi dalam menciptakan ruang pendidikan yang aman dan nyaman. Instruksi ini juga meliputi sanksi bagi pelaku bullying yang paling berat berupa penurunan pangkat satu tingkat lebih rendah selama 12 (dua belas) bulan atau pembebasan jabatan, status kepegawaian bagi tenaga pendidik dan pegawai lainnya.

Sementara untuk peserta didik juga akan mendapat saksi yaitu pengembalian kepada penyelenggara pendidikan dan/atau dikeluarkan sebagai peserta didik. Imenkes ini diharap dapat diimplementasikan dengan baik untuk menyelamatkan wajah kualitas pelayanan kesehatan di masa depan.

Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News

Reporter : M Ulul Azmy
editor: jatmiko

Tags: Bullyingdokter spesialispendidikan dokterPendidikan dokter spesialisPPDSProgram pendidikan dokter spesialis

Related Posts

Jenazah Laki-Laki Tanpa Identitas Ditemukan Mengapung di Sungai Lawang
News

Jenazah Laki-Laki Tanpa Identitas Ditemukan Mengapung di Sungai Lawang

Minggu, 30 Agu 2026
Pemdes Junrejo Tetapkan Biaya Makam Rp1 Juta bagi Pendatang Baru
News

Pemdes Junrejo Tetapkan Biaya Makam Rp1 Juta bagi Pendatang Baru

Minggu, 30 Agu 2026
Jelang Pemilihan di Muktamar NU ke-35, Daftar Ketum PBNU dari Masa ke Masa
News

Jelang Pemilihan di Muktamar NU ke-35, Ini Daftar Ketua Umum PBNU dari Masa ke Masa

Minggu, 30 Agu 2026
Seminar Turots Internasional, Dorong Generasi Muda Kenali Khazanah Ulama Nusantara
News

Seminar Turots Internasional, Dorong Generasi Muda Kenali Khazanah Ulama Nusantara

Minggu, 30 Agu 2026
Buku Imaji NU Masa Depan Diluncurkan di Tengah Muktamar ke-35
News

Buku Imaji NU Masa Depan Diluncurkan di Tengah Muktamar ke-35

Minggu, 30 Agu 2026
Daftar Rais Aam PBNU dari Masa ke Masa dan Pondok Pesantrennya
News

Daftar Rais Aam PBNU dari Masa ke Masa dan Pondok Pesantrennya

Minggu, 30 Agu 2026
Next Post
Arema FC

Arema FC Jalani Laga Penting Lawan PSM, Widodo Beri Sinyal Bakal Lakukan Rotasi Pemain

BERITA POPULER

  • Meriah Hingga Akhir Bulan, Jadwal Karnaval Malang Raya 26 -31 Agustus 2026

    Meriah Hingga Akhir Bulan, Jadwal Karnaval Malang Raya 26 -31 Agustus 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sengketa Kepemilikan Sardo Swalayan Malang Memanas, Tatik Menangkan Praperadilan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • 5 SMK Swasta Terbaik di Kota Malang 2026: Pilihan Unggulan untuk Masa Depan Cerah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Prediksi Susunan Pemain Bhayangkara FC vs Arema FC: Misi Sulit Singo Edan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bukber di Balik Jeruji Besi, Napi Lapas Malang Lepas Rindu Bersama Keluarga

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Iklantm 08272026 2
Iklantm 08272026 1
17 Iklan HUT RI UIN Mlg.jpg
Iklantm 08172026 Pemkab
13 Iklan HUT RI BPJS2.jpg
12 Iklan HUT RI UM.jpg
07 Iklan HUT RI Prokopim Batu.jpg
Backdrop Kemerdekaan 434x390 Cm 1
Ucapan HUTRI2
HUTRI81 PKB 90X100.jpg
15 Iklan HUT RI PKS.jpg
16 Iklan HUT RI DPMPTSP Kota Batu.jpg
11 Iklan HUT RI Perumdam Among Tirto.jpg
06 Iklan HUT RI Dishub Kota Batu.jpg
08 Iklan HUT RI Satpol PP Batu.jpg
10 Iklan HUT RI Dinas Pendidikan Batu.jpg
14 Iklan HUT RI Dinas Perpus Batu.jpg
02 Iklan Gerakan Arek Jatim A

Portal berita Tugu Malang (tugumalang.id) merupakan perusahaan media siber di bawah naungan PT Tugu Media Komunikasindo

LOGO TUGU MALANG RED 2021

Ikuti Kami

Navigasi Site

  • Kode Etik
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Kebijakan Data Pribadi
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Form Pengaduan
  • Pedoman Media Siber

© 2021 Tugu Media Group - All Right Reserved Tugu Malang ID.

Jaringan Media 

Tugumalang.id 

Tugujatim.id 

Tugusehat.id

No Result
View All Result
  • Home
  • Tugu Sehat
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis & Properti
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Advertorial

© 2021 Tugu Media Group - All Right Reserved Tugu Malang ID.