Penziarahan spiritual berkat kerja sama Chatour Travel dan Tugu Media Group mengantarkan penulis menuju makam KH Maimoen Zubair di Jannatul Ma’la, Makkah. Catatan perjalanan ini menjadi bagian dari seri ke-20.
Sejak awal keberangkatan, salah satu destinasi yang penulis ingin kunjungi adalah Jannatul Ma’la, kompleks pemakaman bersejarah yang menjadi tempat peristirahatan beberapa tokoh penting dalam sejarah Islam.
Di kompleks makam ini bersemayam jenazah istri Nabi Muhammad SAW yang sangat beliau cintai, Sayyidah Khadijah binti Khuwailid, dua putra Nabi yaitu Qasim dan Abdullah, paman beliau Abu Thalib, serta kakek beliau Abdul Muthalib.
Dari Indonesia, dua ulama besar juga dimakamkan di Ma’la, yakni KH Maimoen Zubair, pengasuh Pondok Pesantren Al-Anwar Rembang, Jawa Tengah, serta Syekh Nawawi Al-Bantani, ulama besar asal Banten.

Penulis di makam KH Maimoen Zubair di Makkah, Arab Saudi. Foto: dok.
Ziarah ke Makam Mbah KH Maimoen Zubair di Makkah
Penulis berkesempatan berziarah ke Jannatul Ma’la pada Sabtu, 23 Agustus 2025. Saat tiba sekitar satu jam sebelum salat Ashar, area pemakaman masih ditutup. Sejumlah jamaah umrah asal Jawa Barat yang juga berniat ziarah ke makam Mbah Maimoen hanya bisa membaca tahlil dan shalawat dari luar pagar.
Setelah salat Ashar berjamaah di depan kompleks pemakaman, pintu Jannatul Ma’la dibuka untuk umum. Meski luas, makam KH Maimoen Zubair tidak sulit ditemukan. Hampir semua jamaah maupun petugas mengetahui letaknya, menandakan betapa populernya ulama kharismatik asal Indonesia ini di tanah suci.
Penulis akhirnya tiba di makam Mbah Maimoen dengan bantuan petugas. Di sana terdapat dua batu penanda: satu batu sederhana tanpa tulisan, dan satu lagi bertuliskan “Waliyulloh Simbah KH Maimun Zubair Indonesia Rembang.”
Membaca Yasin dan Shalawat Kesukaan Mbah Moen
Di pusara beliau, penulis membaca Surat Yasin dan melantunkan shalawat kesukaan KH Maimoen, yakni Shalawat Sa’duna Fiddunya. Shalawat ini menunjukkan kecintaan beliau kepada Sayyidah Khadijah, istri Nabi Muhammad SAW, yang juga dimakamkan di Jannatul Ma’la.
Baca juga: Mutowif Chatour Travel Ajarkan dua Amalan pada Jemaah agar Bisa Umrah
Hal ini selaras dengan sabda Rasulullah SAW bahwa seseorang kelak akan dikumpulkan bersama orang yang dicintainya. Makam Mbah Maimoen yang berada dekat dengan Sayyidah Khadijah menjadi simbol kecintaan beliau kepada keluarga Rasulullah.
Ziarah ke Makam Sayyidah Khadijah

Setelah berziarah ke makam KH Maimoen Zubair, penulis melanjutkan ziarah ke makam Sayyidah Khadijah yang berada dalam sebuah bangunan berpagar. Banyak jamaah tampak khusyuk membaca ayat-ayat Al-Qur’an serta doa-doa di tempat ini.
Menjelang matahari terbenam, penulis kembali ke Masjidil Haram dengan berjalan kaki sekitar 30 menit. Bagi jamaah yang hendak berziarah, sebaiknya banyak bertanya kepada petugas dengan menyebut kata “Masjidil Haram” agar tidak tersesat.
Baca juga: Rombongan Chatour Travel Mengunjungi Masjid Quba, Masjid Pertama Dibangun Nabi Muhammad SAW (10)
Popularitas Makam Mbah KH Maimoen Zubair di Jannatul Ma’la
Ziarah ke makam KH Maimoen Zubair di Jannatul Ma’la tidak hanya menjadi perjalanan spiritual, tetapi juga bukti besarnya penghormatan umat Islam terhadap ulama asal Indonesia. Makam beliau selalu ramai diziarahi jamaah dari berbagai negara, khususnya dari Indonesia, yang ingin mengenang sosok alim dan panutan umat tersebut.
Baca juga: Umrah Kian Bermakna dengan Program Tajdidun Nikah dari Chatour Travel (17)
Saran jika Ingin ke Jannatul Ma’la

Dari area Masjidil Haram, jannatul ma’la bisa ditempuh dengan menggunakan taksi. Harganya sekitar 15-20 riyal. Sebaiknya menyiapkan uang riyal. Lantaran, penulis yang membayar dengan uang Rp 100.000,- Indonesia, oleh sopir berkebangsaan Bangladesh, masih dimintai uang lagi. Padahal, Rp 100.000,- itu lebih dari 20 riyal.
Awalnya, si sopir memotret uang tersebut ke temannya, mungkin bertanya nominal uang tersebut. Setelah itu, sopir meminta uang lagi karena menganggap uangnya kurang. Saya mencoba menjelaskan kalau uang itu lebih dari 20 riyal, tapi tetap saja tidak bergeming. Setelah saya menambah uang rupiah sedikit, baru sopir taksi melunak dan mengantarkan saya ke Ma’la dengan selamat.
Baca juga: Kader NU Surabaya Raih Hadiah Umrah Gratis dari Chatour Travel (6)
Selain itu, ke Jannatul Ma’la juga bisa ditempuh dengan berjalan kaki. Pulang pergi sekitar satu jam. Persering bertanya kepada petugas arah Jannatul Ma’la agar tidak salah arah.(bersambung)
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Reporter : Irham Thoriq
redaktur: jatmiko


















