Malang, Tugumalang.id – Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang (UIN Malang) menghadirkan Research Center di Kampus 3 yang diharapkan menjadi pusat pengembangan riset sivitas akademika sekaligus menghasilkan penelitian yang berdampak nyata bagi masyarakat.
Gedung Research Center UIN Malang berada di Jalan Locari, Precet, Kota Batu, Jawa Timur. Kehadirannya bukan sekadar menjadi ruang kerja dan aktivitas akademik, tetapi juga wadah untuk melahirkan penelitian yang bermanfaat bagi masyarakat dan lingkungan.
Peresmian Research Center ditandai dengan ditempatinya kantor baru Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M) UIN Malang. Ketua LP2M UIN Malang, Dr. Isroqunnajah, M.Ag., secara resmi mulai menempati kantor tersebut.
Penggunaan kantor baru itu bersamaan dengan acara Khotmil Qur’an yang dihadiri Rektor UIN Malang, Prof. Dr. Hj. Ilfi Nur Diana, M.Si., bersama para wakil rektor, kepala biro, kepala pusat, serta perwakilan mahasiswa tahfidz.

Isroqunnajah, yang akrab disapa Gus Is, menekankan bahwa keberadaan Gedung Research Center harus diikuti peningkatan kualitas dan produktivitas penelitian di lingkungan kampus.
Baca juga: Reuni Akbar UIN Malang 2026, Merajut Ukhuwah Mengukir Inspirasi
Menurutnya, pusat penelitian tersebut harus mampu mendorong lahirnya gagasan, kolaborasi, dan inovasi baru.
“Bangunan yang didesain sebagai pusat penelitian ini harus memberikan dampak nyata terhadap perkembangan riset di kampus ini,” tegas Gus Is.
Senada dengan Gus Is, Rektor UIN Malang Prof. Ilfi menilai LP2M memiliki posisi strategis dalam membangun masa depan perguruan tinggi.
Menurut dia, jika selama ini perpustakaan menjadi pusat literasi, perkembangan teknologi digital kini membuat akses terhadap berbagai sumber pengetahuan semakin terbuka.
“Jantung perguruan tinggi saat ini bukan hanya perpustakaan. Kondisi perpustakaan sudah masuk era digitalisasi, semua literasi bisa diakses secara digital,” ungkap Prof. Ilfi.
Karena itu, LP2M harus mengambil peran lebih besar dalam mendorong transformasi budaya akademik. Mahasiswa dan sivitas akademika tidak boleh berhenti sebagai konsumen ilmu pengetahuan, tetapi harus berkembang menjadi pihak yang menghasilkan dan mengembangkan ilmu.
“Riset menjadi penting. Riset harus mampu mentransformasi budaya akademik, mampu mengubah paradigma konsumen ilmi menjadi paradigma pengembangan ilmu,” jelasnya.
Research Center Didorong Jadi Pusat Peradaban
Prof. Ilfi berharap Research Center UIN Malang dapat berkembang menjadi pusat peradaban berbasis hasil riset.
Potensi itu didukung keberadaan Fakultas Teknik serta Fakultas Sains dan Teknologi yang dapat menjadi mitra strategis dalam pengembangan penelitian berbasis teknologi.
Ia juga mendorong penguatan kolaborasi dosen dan mahasiswa, termasuk melalui pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).
“Era digitalisasi saat ini semuanya sudah mulai diintegrasikan dengan sistem AI. Oleh karena itu, LP2M harus mampu terkait hilirisasi dan inovasi dengan masyarakat,” terangnya.
Baca juga: Fakultas Psikologi UIN Malang Tegaskan Komitmen Pembangunan Zona Integritas
Menurut Prof. Ilfi, keberhasilan penelitian tidak cukup diukur dari jumlah penelitian yang dilakukan atau publikasi yang dihasilkan. Hal yang lebih penting adalah dampak penelitian tersebut.
Karena itu, ia meminta para peneliti mengarahkan riset pada persoalan nyata yang dapat memberikan pengaruh langsung terhadap kehidupan masyarakat maupun kelestarian lingkungan.
“Mulailah lakukan riset yang berbasis keberdampakan nyata yang bisa memberikan pengaruh langsung terhadap masyarakat dan lingkungan,” beber Prof. Ilfi.
Penelitian UIN Malang Perlu Relevan dengan SDGs
Prof. Ilfi juga mengingatkan pentingnya mengaitkan isu penelitian dengan pembangunan berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs).
Menurutnya, perspektif pembangunan berkelanjutan dapat memperkuat relevansi penelitian UIN Malang dengan persoalan global sekaligus kebutuhan masyarakat.
Ia mendorong agar riset keagamaan tidak hanya membahas persoalan keagamaan secara normatif. Penelitian keislaman perlu hadir untuk menjawab tantangan baru, termasuk persoalan etika dalam perkembangan teknologi.
“Riset keagamaan ke depan harus bicara dengan etika. Bagaimana etika pengembangan teknologi ke depan yang harus dikembangkan,” kata Prof. Ilfi.
Selain itu, isu ekoteologi dinilai memiliki ruang besar untuk dikembangkan. Perpaduan nilai-nilai keagamaan, etika keilmuan, teknologi, dan kepedulian terhadap lingkungan diharapkan mampu menghadirkan wajah baru penelitian keagamaan.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
redaktur: jatmiko


















