Kota Batu, Tugumalang.id – Menjelang HUT ke-25 Kota Batu, Kelompok Kerja (Pokja) Peningkatan Status Kota Administratif Kota Batu mengingatkan pemerintah agar mempertahankan karakter kota agrowisata. Pesan itu mengemuka dalam sarasehan di Graha Pancasila, Balai Kota Among Tani, Selasa (13/10/2025).
Mengusung tema “Kota Bernuansa Desa, Bangkit Bersama Jaga Alam Raya untuk mBatu SAE Berkelanjutan”, sarasehan ini menjadi ajang refleksi tahunan para tokoh pendiri dan berbagai kelompok. Forum tersebut sekaligus mengingatkan agar arah pembangunan Kota Batu tidak melenceng dari semangat perjuangan awalnya.
Dalam sarasehan itu, muncul keresahan mengenai perubahan wajah Kota Batu. Lanskap wisata yang sebelumnya didominasi ruang terbuka hijau dan udara sejuk kini mulai dihiasi gedung beton, disertai berkurangnya lahan hijau. Kondisi tersebut memicu kekhawatiran para tokoh pendiri dan pemrakarsa berdirinya Kota Batu.
Ketua Presidium Pokja Peningkatan Status Kota Batu, Andrek Prana, menilai perkembangan Kota Batu saat ini seolah kehilangan arah dan konsep tata ruang yang jelas. Padahal, sejak awal berdiri, Kota Batu dirancang sebagai kota agrowisata.

“Kota Batu sekarang ini seolah tidak punya konsep yang jelas. Padahal sejak awal kami sudah membawa satu konsep kuat, yaitu ‘Batu Kota Bernuansa Desa’. Konsep ini yang dulu menjadi ruh perjuangan kami,” tegas Andrek.
Baca juga: Pokja Kota Batu Apresiasi Kinerja Khofifah Indar Parawansa Bangun Jawa Timur
Andrek menegaskan, Pokja tidak pernah menolak masuknya investasi maupun pembangunan fisik. Namun, ia menekankan pentingnya regulasi yang menjadi batasan bersama agar pertumbuhan pariwisata komersial tidak mengorbankan daya dukung lingkungan dan identitas lokal.
“Lingkungan, alam harus tetap menjadi pusat daya tarik wisata tanpa harus merusaknya,” ungkapnya.
Pokja Kota Batu Soroti Alih Fungsi Lahan dan Kelestarian Alam
Senada dengan Andrek, Ketua Panitia Sarasehan Pokja, Sumiantoro, mengatakan kegiatan tersebut tidak sekadar menjadi ajang nostalgia untuk mengenang masa pembentukan Kota Batu. Forum ini juga bertujuan melahirkan rekomendasi kebijakan konkret bagi pemerintah daerah.
Sumiantoro menyoroti sejumlah persoalan yang kian kompleks, mulai dari maraknya alih fungsi lahan pertanian, pemanfaatan kawasan hutan yang tidak terkontrol, hingga benturan kepentingan antara pariwisata komersial dan upaya konservasi.
“Kita ingin mengingatkan kembali semangat awal berdirinya Kota Batu adalah perjuangan yang dilandasi cinta pada daerah dan berpihak pada masyarakat. Tanggung jawab kami tidak berhenti setelah status kota otonom berhasil diraih,” ungkap Sumiantoro.

Menanggapi kritik dan saran para sesepuh Pokja, Wali Kota Batu Nurochman menyampaikan apresiasi. Ia menegaskan, Pemerintah Kota Batu terbuka terhadap koreksi konstruktif demi menjaga identitas daerah.
Nurochman sepakat bahwa filosofi Kota Bernuansa Desa masih relevan untuk diperjuangkan. Meski telah berkembang menjadi destinasi wisata tingkat nasional hingga internasional, sektor pertanian tetap menjadi tumpuan hidup mayoritas warga Kota Batu.
Pertanian dan Pariwisata Harus Berjalan Beriringan
“Tantangan kita ke depan itu bagaimana caranya mengawinkan potensi pertanian dan pariwisata melalui teknologi serta modernisasi, tanpa menghilangkan esensi kelestarian alam,” terang Nurochman.
Politikus PKB itu juga menekankan pentingnya perhatian terhadap ketersediaan air bersih dan daya dukung lingkungan yang berkelanjutan.
Ia berharap Pokja dan Pemerintah Kota Batu dapat menyelaraskan langkah dalam menyusun kebijakan tata ruang, perlindungan kawasan hutan, serta menjaga keberlanjutan sektor pertanian.
“Pembangunan daerah dan pelestarian alam bukan untuk dipertentangkan, tapi harus dipastikan tetap berjalan beriringan agar Kota Batu tetap maju tanpa kehilangan jati dirinya.”
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
redaktur: jatmiko


















