MALANG, Tugumalang.id – Melalui jalur ilegal seorang pendaki terjatuh di lereng Gunung Semeru pada Senin (1/6/2026) sekitar pukul 10.00 dan mengalami patah tulang. Hingga Rabu (3/6/2026), proses evakuasi masih dilakukan oleh tim SAR gabungan.
Kepala Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (BB TNBTS), Rudijanta Tjahja Nugraha, mengatakan korban ditemukan pada Selasa (2/6/2026) sekitar pukul 10.00. Namun, proses evakuasi mengalami kendala akibat kondisi medan yang sulit sehingga diperlukan tambahan personel untuk membantu membawa korban turun ke posko evakuasi.
“Korban sudah mulai dibawa turun. Apabila kondisi cuaca dan medan memungkinkan, korban diperkirakan tiba di posko evakuasi tengah hari ini,” ujar Rudijanta dalam keterangan tertulis, Rabu (3/6/2026).
Baca juga: Mendaki Ilegal ke Puncak Gunung Semeru, TNBTS Blaclist 7 Pendaki Selama 5 Tahun
Ia menambahkan, pihaknya telah menyiapkan posko evakuasi sementara yang berada di rumah warga. Ambulans dan tenaga kesehatan juga telah disiagakan di posko evakuasi untuk memberikan penanganan medis awal kepada korban sebelum dirujuk ke rumah sakit terdekat apabila diperlukan.
Peristiwa ini bermula saat tiga orang pendaki asal Semarang, Pasuruan, dan Malang melakukan pendakian pada Sabtu (30/5/2026) melalui jalur Candi Jawar Purbakala yang berada di Kecamatan Ampelgading, Kabupaten Malang.
Jalur tersebut bukan merupakan jalur resmi pendakian wisata yang dikelola BB TNBTS dan diketahui masyarakat sebagai akses tidak resmi menuju Gunung Semeru. Sementara itu, jalur pendakian resmi menuju puncak Gunung Semeru masih ditutup sehubungan dengan aktivitas vulkanologi Gunung Semeru dan pertimbangan keselamatan pengunjung.
“Oleh karena itu, aktivitas yang dilakukan ketiga orang tersebut merupakan pendakian ilegal dan tidak tercatat dalam sistem pelayanan pendakian BB TNBTS,” kata Rudijanta.
Keesokan harinya, salah satu pendaki menghubungi orang tuanya dan menyampaikan bahwa dirinya terjatuh di lereng Gunung Semeru. Ia membutuhkan pertolongan dan mengirimkan titik koordinat lokasi terakhir sebelum komunikasi terputus.
Pada Senin (1/6/2026) sekitar pukul 22.00, ayah korban bersama enam warga Kecamatan Ampelgading mencoba mencari korban. Mereka berjalan kaki sekitar delapan jam melalui medan yang terjal, curam, dan minim akses.
Baca juga: Imbas Cuaca Ekstrem, Penutupan Jalur Pendaki Gunung Semeru Diperpanjang
Setelah semalaman mendaki, rombongan menemukan posisi korban. Namun, mereka membutuhkan personel tambahan karena medan yang cukup berat.
Rudijanta menegaskan, pihaknya akan terus melakukan koordinasi dan pemantauan perkembangan penanganan di lapangan bersama seluruh unsur yang terlibat hingga proses evakuasi selesai. Ia juga mengimbau masyarakat agar tidak mendaki melalui jalur tidak resmi.
“Selain melanggar ketentuan yang berlaku, aktivitas tersebut juga memiliki risiko keselamatan yang sangat tinggi. Kami mengimbau masyarakat untuk mematuhi informasi dan kebijakan resmi yang ditetapkan pengelola kawasan demi keselamatan bersama,” tutupnya.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Reporter: Aisyah Nawangsari Putri
redaktur: jatmiko


















