Malang, Tugumalang.id – Terletak di sepanjang Jalan Gang Masjid, Kelurahan Sukoharjo, Kecamatan Klojen, Kota Malang, Pasar Comboran pernah menjadi pusat perdagangan barang bekas terbesar di Jawa Timur. Berdiri sejak 1900-an, pasar ini dikenal luas sebagai destinasi favorit para pencari barang loak dan pecinta barang antik.
Di Pasar Comboran, pengunjung bisa menemukan beragam barang bekas, mulai dari jam tangan, kacamata, kipas angin, radio, setrika, telepon genggam, hingga perhiasan seperti cincin dan gelang. Sebagian besar barang tersebut berasal dari pengepul maupun sesama pedagang. Daya tarik utamanya adalah harga yang terjangkau serta sensasi berbelanja di area rel kereta api, di mana pengunjung dapat melihat langsung kereta yang melintas.
Tidak heran jika pasar ini selalu ramai, khususnya saat akhir pekan. Banyak mahasiswa hingga wisatawan datang untuk berburu barang unik dengan harga miring. Namun, kejayaan Pasar Comboran kini tinggal kenangan.
Baca juga: Pj Wali Kota Malang Siapkan BTT untuk Bantu Pedagang Terdampak Kebakaran Pasar Comboran
Pamor Pasar Comboran Mulai Meredup
Sejak pandemi COVID-19, jumlah pengunjung pasar terus menurun drastis. Ralin (70), pedagang yang sudah 15 tahun berjualan di Pasar Comboran, mengaku penghasilannya kini jauh berkurang.
“Sepi gak koyo biyen, biyen rame. Saiki paling roto, paling oleh petang puluh, telung puluh,” ungkap Ralin. (Sepi tidak seperti dulu, sekarang paling sedikit dapat Rp30 ribu sampai Rp40 ribu).
Hal serupa dirasakan Tutik (50), pedagang asal Blitar yang sudah lima tahun menjajakan berbagai barang, mulai dari perabotan rumah hingga sepatu.
“Biasanya rame kalau Sabtu-Minggu. Kalau hari biasa sepi, paling ya bapak-bapak,” jelasnya.
Mayoritas pengunjung memang didominasi laki-laki paruh baya. Kehadiran pengunjung wanita umumnya hanya terlihat saat akhir pekan atau hari libur, sementara wisatawan yang datang pun jumlahnya terbatas.
Tantangan Pedagang: Relokasi Akibat Proyek Rel Kereta
Selain menurunnya minat pembeli, pedagang Pasar Comboran juga menghadapi tantangan baru. Aktivitas jual beli sempat terhenti total selama satu bulan akibat proyek pelebaran rel kereta api. Sejumlah lapak terpaksa digusur karena lokasinya berada di jalur aktif. Kondisi ini semakin memperberat pedagang yang sudah kesulitan bertahan.
Harapan untuk Menghidupkan Kembali Pasar Loak Malang
Kini, Pasar Comboran Malang yang dahulu dikenal sebagai ikon salah satu pasar loak terbesar di Jawa Timur perlahan kehilangan denyutnya. Para pedagang berharap ada perhatian dan solusi dari berbagai pihak untuk menghidupkan kembali pasar legendaris ini, sehingga tetap bisa menjadi bagian dari denyut ekonomi sekaligus destinasi wisata belanja unik di Kota Malang.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Penulis: Siti Nur Fadia (Magang)
redaktur: jatmiko


















