Malang, Tugumalang.id – Kecamatan Tirtoyudo, Kabupaten Malang, Jawa Timur, menyimpan potensi bahaya tersembunyi di balik bentang perbukitannya. Penelitian terbaru tim tenaga ahli Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang yang dipimpin Ratri Andinisari, S.Si., M.Si., Ph.D., mengungkapkan sebagian besar wilayah Tirtoyudo berada pada tingkat kerentanan gerakan tanah sedang dengan luasan mencapai 908,06 hektare. Sementara itu, kawasan dengan tingkat kerawanan tinggi mencapai 6,68 hektare, sedangkan zona kerawanan rendah seluas 89,06 hektare.
Penelitian tersebut merupakan bagian dari kolaborasi strategis kajian mitigasi gerakan tanah di Kabupaten Malang dengan studi kasus Kecamatan Tirtoyudo dan Donomulyo bersama Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah (Balitbangda) Kabupaten Malang.
Geomorfologi Tirtoyudo Sangat Kompleks
“Tirtoyudo ini secara geomorfologi memang kompleks karena menjadi zona transisi antara pegunungan vulkanik aktif kaki Gunung Semeru dan dataran bergelombang hingga pesisir selatan yang curam. Struktur geologinya dipenuhi sesar minor dan pelipatan akibat subduksi lempeng tektonik. Kondisi batuan vulkanik yang rapuh ditambah kemiringan lereng yang ekstrem membuat tanah di sana sangat sensitif, terutama jika dipicu curah hujan tinggi,” ujar Ratri saat ditemui di Kampus 1 ITN Malang pada akhir Maret 2026.
Baca juga: ITN Malang Kantongi Lisensi Resmi Software Siemens, Modal Kuat Lulusan Terserap Dunia Kerja
GIS-MCDA Jadi Dasar Analisis Kerawanan

Ratri memanfaatkan teknologi Geographic Information System Multi-Criteria Decision Analysis (GIS-MCDA) berbasis Analytical Hierarchy Process (AHP). Analisis spasial tersebut menggunakan data Digital Elevation Model (DEMNAS) beresolusi tinggi dengan lima parameter utama, yakni kemiringan lereng, curah hujan, tutupan lahan, jenis tanah, dan kondisi geologi.
“Kemiringan lereng jelas menjadi faktor paling dominan karena gravitasi langsung bekerja pada massa tanah. Kami juga memproses data curah hujan lima tahun terakhir, 2020–2024, dari CHIRPS untuk melihat area yang tekanan pori tanahnya cepat jenuh. Di Tirtoyudo bagian utara, misalnya, tanah didominasi jenis Andosol dari material vulkanik piroklastik yang sangat peka terhadap perubahan kelembapan,” jelas dosen Program Studi Teknik Sipil S-1 ITN Malang tersebut.
Ratri menambahkan, zona kerawanan tinggi yang berada di bagian utara dan selatan Tirtoyudo terkonsentrasi pada lereng-lereng kritis dengan tutupan lahan rendah atau terbuka. Tanpa vegetasi yang mampu mengikat tanah, risiko longsor meningkat saat musim hujan. Sebaliknya, wilayah dengan tingkat kerawanan rendah umumnya berupa lahan landai yang masih memiliki tutupan vegetasi baik serta minim aktivitas manusia.
Baca juga: Jaga Sinergi, ITN Malang dan Mahakam Ulu, Kaltim Lanjutkan Komitmen Bangun Daerah
Hasil Riset untuk Mitigasi dan Tata Ruang
Melalui hasil pemetaan spasial tersebut, ITN Malang berharap dokumen penelitian ini dapat menjadi acuan bagi pemerintah daerah dalam upaya mitigasi bencana dan perlindungan masyarakat.
“Zona kerawanan sedang yang mendominasi bisa kapan saja bergeser menjadi zona bahaya tinggi jika ada pemicu eksternal seperti curah hujan ekstrem atau pembukaan lahan yang berlebihan. Hasil penelitian ini kami susun sebagai dasar ilmiah bagi pembuat kebijakan untuk menyusun tata ruang wilayah yang lebih adaptif, penataan guna lahan yang lebih ketat, serta perencanaan mitigasi bencana berbasis spasial demi melindungi masyarakat Tirtoyudo,” pungkas Ratri.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Sumber: ITN Malang
editor: jatmiko
























