MALANG – Belajar sejarah akan lebih menyenangkan jika melihat langsung benda-benda kuno yang menjadi saksi peradaban nenek moyang.
Dengan melihat artefak, gambaran peristiwa-peristiwa yang terjadi ratusan tahun lalu akan terlihat lebih nyata dan lebih dekat.

Salah satu tempat yang bisa dijadikan tempat belajar sejarah adalah Museum Singhasari yang terletak di Desa Klampok, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang. Museum ini berada di perumahan Singhasari Residence, sekitar 3 kilometer dari Pasar Singosari.
Begian depan museum berupa taman yang dilengkapi dengan patung Ken Dedes dan Ken Angrok, pemimpin Kerajaan Singosari yang terkenal akan kisahnya.
Jalan setapak di taman tersebut mengarahkan pengunjung ke Pendopo yang di bagian depannya “dijaga” oleh dua patung Dwarapala. Lalu di tengah pintu masuk Pendopo, pengunjung akan menemui pintu Lingga-Yoni.

Di sisi kanan Pendopo, terdapat selasar yang dindingnya berisi gambar ilustrasi tokoh-tokoh dari kidung Topeng Malangan yang berjudul Panji Magasmara.
Turun ke bawah dari selasar, pengunjung akan menemui ruang pameran dengan koleksi-koleksi artefak dari berbagai jaman.
“Beberapa koleksi di sini ada yang asli, ada juga yang replika,” ujar pemandu museum, Bagus Roseno saat mendampingi Tugu Malang menjelajahi Museum Singhasari.

Salah satu koleksi replika di museum ini adalah Arca Bhairawa yang aslinya ada di Museum Leiden, Belanda.
“Kalau koleksi yang asli di museum ini ada batu-batu ini,” ucap Bagus sambil menunjukkan sekelompok batu berwarna merah bata dan kelabu yang berada di tengah-tengah ruangan.
Batu-batu tersebut merupakan bagian dari situs-situs bersejarah yang ada di Malang. Salah satunya berasal dari situs Sekaran dan Watugede.
Ada juga koleksi keris khas Singosari yang sebelumnya dimiliki kolektor keris asal Kecamatan Tumpang. Menariknya, dari tujuh buah keris yang dipamerkan, hanya satu yang asli.
“Dia (kolektor) bilang salah satu dari tujuh keris ini ada yang asli. Tapi nggak dikasih tahu yang mana,” ujar Bagus.

Selain artefak dari masa kerajaan-kerajaan kuno, Museum Singhasari juga menyimpan koleksi topeng-topeng karya Maestro Topeng Malangan, Mbah Karimun.
“Ini adalah topeng-topeng karya Mbah Karimun sebelum beliau wafat. Ada 72 topeng yang mewakili 72 karakter manusia. Tapi nggak semuanya dipamerkan,” jelas Bagus.

Ada pula diorama atau sajian tiga dimensi dari kisah Ken Angrok saat merebut kekuasaan dan istri Akawu Tunggul Ametung. Diorama dibuat dengan apik dan mendetail sehingga pengunjung bisa langsung paham dan bisa membayangkan kejadian yang sebenarnya.
Ke depannya, Museum Singhasari akan lebih banyak menyajikan ilustrasi dan visualisasi sejarah dari kerajaan-kerajaan yang ada di Malang agar lebih menarik perhatian masyarakat.
“Kami berencana membuat komik dan juga kilas balik sejarah berdirinya Kerajaan Singosari dalam bentuk foto. Jadi, kami cosplay seperti tokoh-tokoh kerajaan dan berfoto di tempat-tempat bersejarah,” tutur Bagus.
Museum Singhasari buka setiap hari Senin-Jumat. Namun pengunjung bisa melakukan reservasi untuk berkunjung di hari Sabtu atau Minggu.
“Saat ini masih mengikuti jam kerja dinas. Tapi ke depan ada rencana hari Minggu buka,” kata Bagus.
Museum Singhasari tidak memiliki biaya masuk. Siapa saja boleh masuk dan melihat-lihat koleksi tanpa membayar sepeser pun.
Untuk menambah koleksi, Museum Singhasari bersedia membantu warga yang menemukan artefak. Penemuan bisa dilaporkan langsung ke Museum Singhasari atau bisa juga ke Kepala Dusun masing-masing.
Setelah mendapat laporan, pihak museum nanti akan membantu penyelamatan benda bersejarah tersebut beserta administrasinya.
Reporter: Aisyah Nawangsari Putri
Editor: Jatmiko
—
Terima kasih sudah membaca artikel kami. Ikuti media sosial kami yakni Instagram @tugumalangid , Facebook Tugu Malang ID ,
Youtube Tugu Malang ID , dan Twitter @tugumalang_id