Kota Batu, Tugumalang.id – Program prioritas Pemerintah Kota Batu di bidang pendidikan lewat Beasiswa 1.000 sarjana terus digodok. Nilai kebutuhan anggaran yang diprediksi mencapai Rp9,6 miliar per tahun harus dibarengi dengan sikap disiplin para penerima manfaatnya.
Kepala Dinas Pendidikan Kota Batu M. Chori menegaskan jika para peserta akan dijamin penuh secara pembiayaan oleh negara. Sebab itu, ada aturan ketat bagi penerima. Jika kedapatan tidak disiplin atau melanggar perjanjian, beasiswa bisa dicabut sewaktu-waktu.
“Kalau sampai studi molor, ada konsekuensi yang harus diterima. Maka biaya semester berikutnya harus ditanggung sendiri,” tegas Chori, Minggu (12/10/2025).
Ke depan, progres pelaksanaan akademik program ini akan dipantau langsung oleh Pemkot Batu. Mulai dari progres kuliah, IPK, hingga kehadiran. ”Program ini bukan hanya soal memberi dana, tapi juga membentuk tanggung jawab moral penerimanya,” katanya.
Diketahui, realisasi program yang ditelurkan Wali Kota dan Wawali Nurochman – Heli Suyanto ini membutuhkan anggaran mencapai Rp8 – 9,6 miliar setiap tahun. Untuk tahun pertama ini, ada sekitar 200 mahasiswa yang akan dikover.
Baca juga: Program Beasiswa 1.000 Sarjana Kota Batu Butuh Rp13 Miliar Setiap Tahun
Kebutuhan anggaran segitu didapat dari perhitungan sederhana dari nominal rata-rata biaya kuliah atau Uang Kuliah Tunggal (UKT) di kisaran Rp5 – 6 juta per semester. Artinya, satu mahasiswa membutuhkan sekitar Rp10-12 juta per tahun, atau Rp40-48 juta hingga lulus jika masa studinya delapan semester.
“Kalau dihitung secara keseluruhan, nanti saat empat angkatan sudah jalan bersamaan, kebutuhan anggaran bisa empat kali lipat dari tahun pertama,” terang Chori.
Chori menjelaskan, dari hasil seleksi administrasi yang diikuti 214 pelamar, terlihat bahwa besaran UKT cukup variatif antar kampus. “Ada yang di bawah Rp5 juta, terutama kampus swasta. Tapi ada juga yang di atas Rp6 juta, terutama PTN,” tambahnya.
Karena itu, Dindik memastikan penyaluran beasiswa dilakukan secara proporsional sesuai kebutuhan riil penerima. Termasuk tambahan uang saku bagi mahasiswa dari keluarga prasejahtera.
Menariknya, Pemkot Batu berkomitmen penuh tidak hanya menggunakan APBD untuk keberlangsungan program ini. Pendanaan juga akan turut disokong melalui skema Corporate Social Responsibility (CSR) atau Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) dari dunia usaha.
Tentunya, mengumpulkan anggaran segitu, menurut Wali Kota Batu Nurochman bukan hal muda. Namun ia tetap optimistis kebutuhan itu bisa dipenuhi. Ia yakin program ini memiliki keberlanjutan. ”Contoh, 2 Mei lalu, saat peluncuran, Bank Jatim sudah dua kali menyumbang. Total dana CSR yang kita kumpulkan sekarang sudah sampai Rp2 miliar,” ungkapnya.
Sebagai informasi, persyaratan penerima beasiswa 1.000 sarjana ini di antaranya seperti ber-KTP Kota Batu, menempuh pendidikan di perguruan tinggi negeri (PTN) atau perguruan tinggi swasta (PTS) yang memiliki akreditasi minimal B.
Selain itu, lanjut Chori, calon penerima manfaat juga wajib memiliki prestasi akademik dengan indeks prestasi kumulatif (IPK) minimal 3,25. Atau memiliki prestasi non-akademik di tingkat provinsi, nasional, hingga internasional.
“Untuk keluarga tidak mampu juga tetap menjadi prioritas. Kalau untuk universitas yang sudah bekerja sama ada 11 kampus di Malang Raya dan juga ada di Surabaya,” kata dia.
Chori menegaskan bahwa program Beasiswa 1.000 Sarjana ini tidak hanya menyasar mahasiswa berprestasi, tapi juga memberikan kesempatan bagi penghafal Al-Quran. Bahkan, program ini juga terbuka bagi pelaku UMKM, penggiat koperasi, dan perangkat desa melalui skema Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL).
Pemkot Batu berharap mimpi 1.000 Sarjana bukan sekadar slogan. Tapi benar-benar jadi gerakan nyata untuk melahirkan generasi muda Kota Batu yang cerdas, berdaya dan mandiri tanpa membebani APBD.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Reporter : M Ulul Azmy
redaktur: jatmiko


















