MALANG – Di tengah gempuran budaya asing, Ahmad Sholeh alias Wahid Topeng, tetap getol mempromosikan budaya asli Malang, yaitu wayang topeng malangan. Ia dan perajin lainnya bahkan akan membuat pelatihan pembuatan topeng malangan untuk mencetak bibit-bibit perajin baru.
“Perajin topeng malangan di Malang ini hanya ada sekitar 10 orang. Kalau 10 orang itu nggak ada, siapa yang mau meneruskan?,” ujar Wahid saat ditemui di rumahnya di Desa Sengguruh, Kecamatan Kepanjen, Kabupaten Malang belum lama ini.
Menurut Wahid, pelatihan ini masih belum terlaksana, namun ia telah menyebar brosur kepada masyarakat.
“Saya tergerak untuk menumbuhkan minat pada generasi muda. Pelatihan ini akan kami adakan untuk melestarikan budaya,” kata Wahid.
Pelatihan tersebut akan dilakukan oleh para perajin secara langsung dengan materi tentang pembuatan topeng, penataan wayang, dan sebagainya.

Wahid Topeng sendiri merupakan perajin dan seniman yang bergelut di dunia topeng malangan selama puluhan tahun.
Ia terlahir di keluarga seniman dan tumbuh menjadi orang yang tak bisa lepas dari kesenian tradisional. Di masa mudanya, ia ngawulo (belajar) kepada maestro topeng malangan, almarhum Mbah Karimoen.
“Setelah lulus SMA, tidak ada biaya untuk kuliah. Saya ngawulo ke seniman-seniman termasuk ke Mbah Karimoen,” ujar Wahid.
Sejak tahun 2001, Wahid telah menekuni pembuatan topeng malangan. Ia memprodukai topengnya untuk pementasan wayang dan juga untuk suvenir dalam bentuk gantungan kunci.
Pada masa pandemi COVID-19, penjualan topengnya tersendat. Pertunjukan dihentikan dan tempat wisata tutup sehingga ia kehilangan pelanggan.
“Sejak pandemi COVID-19 ada penurunan drastis. Tapi setelah pandemi ini mulai berjalan walaupun nggak begitu maksimal,” tutur Wahid.
Meski topeng malangan bukanlah hal yang banyak digandrungi masyarakat, Wahid tak pernah berpikir untuk berhenti produksi. Justru, ia ingin mengenalkan topeng malangan ke lebih banyak orang, khususnya anak-anak muda.
Untuk sementara ini, Wahid telah mengenalkan berbagai kesenian tradisional, khususnya tari melalui Yayasan Murtitomo yang ia dirikan bersama seniman-seniman lainnya.
Yayasan Murtitomo ini memiliki sebuah sanggar yang mengajarkan tarian tradisional bagi anak-anak. Setelah sempat tutup karena pandemi COVID-19, sanggar tersebut kembali beroperasi sekitar tiga bulan yang lalu dan memiliki 43 murid.
Ke depannya, Wahid berharap kesenian topeng malangan semakin populer sehingga bisa membantu perekonomian para perajin dan seniman.
“Seorang perajin kalau topengnya nggak laku, dia akan banting setir ke usaha yang lain. Sehingga, bagaimana caranya kami mencari terobosan agar para perajin tetap eksis dan hasil karyanya memiliki nilai jual,” ucap Wahid.
Reporter: Aisyah Nawangsari
Editor: Herlianto. A