Malang, Tugumalang.id – Pameran art toys bertajuk Pop Angker yang digelar selama 3 hari nonstop di Kota Malang, Jawa Timur sukses mencuri perhatian publik, khususnya para pegiat kreatif. Pameran yang juga didukung tugumalang.id itu memberikan pengalaman unik dalam mengeksplorasi kisah-kisah horor urban (lokal) di Malang dengan cara yang lucu dan menyenangkan.
Sebanyak 17 toys maker atau pembuat mainan yang turut berpartisipasi sukses menerjemahkan cerita-cerita horor lokal yang sering kita dengar ke dalam medium mainan yang lucu dan khas. Sebut saja seperti Hantu Jembatan Cangar, Kisah Sugeng Mutilasi di Pasar Besar, Mr. Gepeng, Pocong Ningrum hingga Genderuwo Jalan Samaan.

Para seniman ini tak hanya sekadar membuat sosok hantu dalam bentuk figur, tapi juga melahirkan interpretasi baru atas rasa takut itu sendiri menjadi sesuatu yang lucu. Seperti dikatakan salah satu pengunjung Mila Ilmaris (22), pecinta genre horor creepy dari Malang.
Menurut dia, gagasan menuangkan kisah-kisah horor urban Malang menjadi mainan adalah ide yang brilian. Dalam budaya populer, kata dia, kisah-kisah horor dan hantu kerap didominasi cerita-cerita dari barat. Jika dibandingkan dengan cerita hantu lokal, menurut dia bahkan lebih seram dan unik.
”Brilian sekali ya idenya menghadirkan lagi kisah-kisah horor lokal Malang, unik banget. Keren. Apalagi dibuat jadi mainan, jadi pengen beli nanti. Dari sini bahkan aku yang paling suka itu hantu noni belanda lagi bercermin, itu kan kisah horor legend ya di salah satu hotel di Kota Malang,” ujarnya.
Baca juga: Pop Angker Hadir di Malang, Pameran Art Toys Horor Lokal Siap Guncang Kota
Salah satu inisiator Pameran Novan Tri Sumahardi mengungkapkan bahwa tujuan pameran ini memang untuk mengeksplorasi kekayaan cerita lokal sebagai bagian dari identitas kota. Karya-karya yang dipamerkan tidak hanya terpaku pada figur hantu populer, tetapi juga merambah ke ranah tragedi yang diolah menjadi karya seni populer.
“Kami ingin membawa cerita-cerita lokal menjadi satu karya yang bisa dieksplorasi. Lokal adalah bagian dari cerita identitas kota. Cerita yang mungkin sebelumnya tidak pantas dibuat, namun dengan tujuan populer, ini menjadi lebih menarik,” ujarnya.

Novan menyebut sejumlah kisah klasik yang turut menjadi bagian dari identitas daerah seperti Hantu Gepeng, Pocong Ningrum, Replika Keangkeran Wisma Erni di Lawang hingga tragedi mutilasi yang viral di Pasar Besar Malang tempo silam.
Lidos Fest membuktikan bahwa horor tidak selalu tentang ketakutan. Dengan sentuhan kreativitas dari para desainer mainan, elemen-elemen menyeramkan tersebut berhasil bertransformasi menjadi objek koleksi yang mendapat apresiasi secara luas.
“Dari tujuan pertama menghadirkan kengerian, rasa takut menjadi sesuatu yang lucu, menyenangkan. Itu sudah terjawab,” pungkas Novan.
Menjinakkan yang Angker
Diketahui, pameran art toys yang digagas Lidos Toys x Pop Slebor ini digelar di LOGE Bakery Coffee Space mulai 1 hingga 3 Mei 2026. Pengunjung tidak hanya melihat deretan koleksi mainan, tetapi juga diajak menyelami atmosfer mistis yang bikin bergidik ngeri namun artistik dan lucu.
Didit Prasetyo Nugroho, M. Sn. selaku salah satu inisiator dan kurator Pop Angker menjelaskan tema Urban Horror dalam pameran ini berangkat dari lanskap Kota Malang yang tidak pernah lepas dari kisah misteri. Setiap kota menyimpan lapisan cerita yang hidup di antara gang sempit, bangunan lama, pohon besar di tepi jalan, sudut kampung, kampus hingga jalanan di tengah kota.

Cerita tentang penampakan, makhluk astral, dan kejadian ganjil bukan sekadar hiburan lisan, melainkan bagian dari memori sosial masyarakat Kota Malang. la diwariskan dari mulut ke mulut, berubah bentuk dari generasi ke generasi, lalu menetap sebagai folklore perkotaan.
‘Mereka tidak sekadar membuat sosok hantu dalam bentuk figur, tetapi menciptakan interpretasi baru atas rasa takut itu sendiri. Ada humor, ironi, nostalgia, sekaligus kritik terhadap cara masyarakat hari ini mengonsumsi horor sebagai tontonan,” paparnya.
Didit menjelaskan jika pameran ini sekaligus menjadi ruang temu bagi pegiat kreatif yang membaca ulang cerita-cerita urban di sekitarnya. Jika selama ini kisah itu dianggap gelap, menyeramkan, dan tak kasat mata, justru dihadirkan dalam bentuk yang bisa dilihat dan disentuh secara visual.
”Dalam konteks pameran ini, yang angker justru menjadi bahan baku penciptaan. Ketakutan diubah menjadi bentuk, karakter, dan narasi visual yang baru,” jelasnya.
POP ANGKER, sambung dia, pada akhirnya bukan hanya pameran mainan, melainkan arsip alternatif tentang Kota Malang. Arsip yang dibangun dari rumor, bayangan, ingatan kolektif, dan imajinasi warganya sendiri. Di ruang ini, yang seram bisa terasa lucu, yang lucu bisa terasa ganjil, dan yang populer ternyata masih menyimpan sisi gelapnya.
”Ketika rasa takut diberi bentuk, ia tidak lagi sekadar mengancam. la bisa menjadi sumber kreativitas,” pungkasnya.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Reporter : M Ulul Azmy
redaktur: jatmiko


















