Tugumalang.id – Evan Helga (32), warga Desa Talok, Kecamatan Turen, Kabupaten Malang, Jawa Timur, mengembangkan aplikasi Talok Go untuk membantu promosi UMKM di desanya.
Kendati tak sebesar aplikasi e-commerce ternama, Talok Go berhasil mengantar pelaku UMKM di Desa Talok untuk melek digital.
Talok Go merupakan aplikasi yang menghubungkan penjual atau penyedia jasa dengan pelanggan mereka secara online. Untuk memesan barang atau jasa, pelanggan cukup membuka aplikasi dan memilih apa yang mereka butuhkan. Saat ini, terdapat sekitar 70 mitra UMKM yang bergabung di Talok Go.
Pilihan barang dan jasa yang ditawarkan di Talok Go cukup beragam, mulai dari makanan, sayuran, sembako, ojek, hingga pijat. Baik penyedia barang atau jasa maupun pelanggan merupakan warga Desa Talok.
Aplikasi ini awalnya dibuat Evan untuk membantu pelaku UMKM di Desa Talok di masa pandemi COVID-19 di tahun 2020. Dikarenakan adanya pembatasan aktivitas, UMKM di Desa Talok perlu dipromosikan dengan cara non konvensional. Talok Go bisa menghubungkan para pelaku UMKM dengan pelanggan meski mereka tidak bertemu secara langsung.

“Motivasinya sederhana saja. Yang jual orang Talok, yang beli orang Talok, yang mengantarkan juga orang Talok,” kata Evan saat ditemui di rumahnya, Selasa (28/2/2023).
Aplikasi ini ia hibahkan ke Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Mitra Taloka milik Pemerintah Desa Talok, tempat ia bekerja saat ini sebagai direktur.
Pada saat pandemi COVID-19, aplikasi Talok Go cukup diminati masyarakat. Pasalnya, mereka kesulitan melakukan penjualan jika melakukan bisnis dengan cara konvensional.
Meski demikian, sosialisasi penggunaan Talok Go tidak semulus itu. Perlu usaha ekstra untuk mengajak warga Desa Talok agar mau memanfaatkan teknologi supaya bisnisnya tetap laris manis.
Trik yang digunakan oleh Evan untuk melakukan sosialiasi Talok Go adalah dengan menggandeng anak-anak muda terlebih dahulu. Dibandingkan orang tua, anak muda lebih cepat beradaptasi dengan teknologi. Mereka juga bisa mengajarkan pada orang tua mereka bagaimana cara menggunakan aplikasi tersebut.
“Kami mengajak Karang Taruna untuk bergabung mengelola Talok Go. Teman-teman pemuda banyak yang tertarik,” terang Evan.
Evan mengaku tak banyak profit yang dihasilkan dari Talok Go. Namun, aplikasi ini memberikan manfaat lain bagi masyarakat. Dimulai dari Talok Go, pelaku UMKM di Desa Talok lebih familier dengan dunia digital. Mereka pun mulai mengenal aplikasi e-commerce lainnya yang lebih besar. Dari situ, mereka mulai memasarkan produk-produk mereka secara digital.
“Kami dahulukan benefit-nya kepada masyarakat. Masyarakat dan pelaku UMKM bisa melek teknologi. Mereka belajar dari Talok Go, meskipun sekarang mereka memilih aplikasi lain. Itu tidak masalah,” ujar Evan.
Berkat inovasi ini, BUMDes Mitra Taloka berhasil meraih beberapa penghargaan. Dari Bupati Malang, BUMDes Mitra Taloka dinobatkan sebagai salah satu BUMDes berprestasi yang menjadi Kaleidoskop Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi RI dalam Bidang Pemanfaatan Dana Desa untuk Digitalisasi Desa.
Aplikasi ini juga mendapat apresiasi dari Gubernur Jawa Timur di ajang Anugerah Inovasi Daerah dan Inovasi Teknologi (Inotek Award) 2022. Talok Go menang sebagai juara di kategori Inovasi Teknologi Berbasis Website/Mobile Apps. Di samping itu, Talok Go juga mengantar Desa Talok menjadi salah satu pemenang Desa BRILian 2021 yang digagas oleh Bank BRI.
BUMDes Mitra Taloka kini dikenal sebagai BUMDes yang bisa menciptakan aplikasi. Beberapa pemerintah desa di luar Kabupaten Malang sudah mereplikasi aplikasi Talok Go untuk diterapkan di wilayah mereka masing-masing. Bahkan, BUMDes Mitra Taloka juga mendapat pesanan aplikasi dari Tanzania.
“Profit kami justru dapat dari situ (membuat aplikasi untuk pihak lain), bukan dari running Talok Go,” kata Evan.
Seorang pelaku UMKM di Desa Talok, Fiyan Fikri (25) mengaku mendapat manfaat dari menjadi tenant di Talok Go. Pemilik kedai Kopi Sip’ah ini mengatakan saat pandemi COVID-19, ada pembatasan jumlah pengunjung dan jam buka.

“Waktu pandemi COVID-19, dine in dibatasi. Jadi (Talok Go) cukup membantu. Buat teman-teman yang nggak bisa ke sini (masih bisa pesan),” ujar Fiyan.
Usai pandemi COVID-19, pengunaan Talok Go semakin berkurang. Menurut Fiyan, ini dikarenakan pelanggannya lebih memilih untuk datang langsung ke kedainya.
“(Talok Go) masih membantu, tapi tidak signifikan karena banyak yang lebih memilih dine in,” pungkasnya.
Reporter: Aisyah Nawangsari
Editor: Herlianto. A