Bersama Dirjen Dikti, CEO Paragon Berikan Tips Pitching di Program Kedaireka

  • Whatsapp
CEO PT Paragon Technology and Innovation, Salman Subakat. Foto: tangkapan layar

Tugumalang.id – Ibarat proses akhir dari presentasi, dimana pitching memiliki serangkaian proses yang perlu dilakukan secara bertahap. Sehingga, selain membangun budaya inovasi, juga mampu mendorong kolaborasi antara dunia pendidikan dengan pelaku usaha maupun industri yang lebih efektif dan keberlanjutan.

Hal tersebut disampaikan oleh CEO PT Paragon Technology and Innovation, Salman Subakat, dalam Webinar CEO Mentorship Pelatihan Pitching untuk Insan Dikti Perguruan Tinggi dalam program Kedaireka, yang berlangsung pada virtual, pada Selasa sore (1/7/2021).

Diketahui, Kedaireka adalah platform yang dibangun Dirjen Dikti guna mewadahi pertemuan antara perguruan tinggi dengan dunia usaha maupun industri dalam orientasi pemanfaatan inovasi oleh masyarakat, yang sejalan dengan visi Kampus Merdeka Kemendikbud RI.

Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi (Dirjen Dikti) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud), Nizam. Foto: tangkapan layar.

“Saya hanya memberikan background bahwa pitching itu hanya ujungnya saja, yang penting ngobrol dulu. Hal ini yang jarang diobrolin di textbook misalnya ya. Di textbook bahasanya mungkin connection, networking, mungkin the power of trust yang harus dibangun secara bertahap. Jadi kalau kami memaknai pitching adalah proses akhir dalam presentasi, maka sebelum pitching ada serangkaian proses yang lebih tajam,” ujarnya.

Menurut Salman, perkembangan industri tak lepas dari peran akademisi. Pasalnya, dalam membuat inovasi, perusahaan sangat membutuhkan akademisi guna berkolaborasi lebih, baik lewat diskusi dan menguji teori-teori dari hulu ke hilir dan hilir ke hulu.

“Jadi kunci dari pitching adalah pemahaman. Kita paham bahwa setiap perusahaan pasti pernah kecil dan setiap perusahan yang kecil ini ingin besar. Jadi bagaimana akademisi ini tidak hanya men-deliver ilmu dan riset, tapi juga menebarkan harapan,” sambungnya.

Peserta Webinar CEO Mentorship Pelatihan Pitching untuk Insan Dikti Perguruan Tinggi dalam program Kedaireka. Foto: tangkapan layar

Untuk itu, beberapa kunci yang bisa diperhatikan sebelum melakukan pitching yakni lakukan riset kepada perusahaan atau organisasi yang akan diajak bekerja sama. Mulai dari kenali konsumen langsung atau institusi, pahami kebutuhan mereka, dan komunikasikan ide inovasi dengan baik. Termasuk menyusun dokumen yang kekinian, menarik, dan sustainable.

Baca Juga  Basmi Hama, Mahasiswa KKN UM Ubah Limbah Jeruk Jadi Pestisida Alami

“Selain itu, perlu juga kita berimanjinasi gitu ya. Misalnya bagaimana dalam diskusi informal gitu kita riset kayak perusahan yang mau dituju itu gimana sih role modelnya mereka mau menjadi seperti apa, visi jangka panjangnya seperti apa, apa yang bisa kita bantu,” jelasnya.

Sebelum pitching, langkah penting lain yakni banyak mendengar. Hal tersebut selaras dengan langkah Paragon saat akan membuat gerakan pendidikan dengan melakukan pitching ke mahasiswa mendengarkan apa yang mereka butuhkan.

Lebih jauh, perusahaan akan lebih mudah jika dalam diskusi diajak fokus dengan tujuan akhir dengan empati. Misalnya, masih kata Salman, seorang researcher dari Paragon berkolaborasi membuat penelitian yang dampaknya berkelanjutan, sehingga menaikkan corporate image hingga melahirkan banyak leader yang membangun ekosistem.

“Kita juga harus paham karakter orang yang kita tuju. Ada orang yang tipenya dominance, influence, consientiousness, dan steadiness. Usahakan kalau perusahaan besar bisa mencakup semua. Misal dominance dan consientiousness senangnya yang think dan konkrit, kalau influence dan steadiness cenderung senengnya people, humanis,” bebernya.

Sementara itu, Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi (Dirjen Dikti) Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek), Nizam, berharap melalui kolaborasi pentahelix hingga exahelix antara akademika dan mitranya dalam Kedaireka ini, mampu mendorong hasil inovasi Perguruan Tinggi kian menghilir dan program dari hilir akan menghulu.

“Sehingga terjadi sinergi perputaran dalam inovasi dan ekonomi. Jadi inovasi itu men-drive pertumbuhan ekonomi kita ke depan dan problem-problem hilir men-drive penelitian di Perguruan Tinggi, sehingga produk inovasi kampus bisa terus diimplementasikan,” katanya.

Pitching, lanjut Nizam, menjadi salah satu kunci kesempatan akademika untuk menjual ide dan menawarkan pemikiran sehingga dapat diterima oleh pelaku industri sebagai salah satu mitra yang ada di hilir.

Baca Juga  Prof Roibin, Guru Besar Dirasah Islamiyah Resmi Daftar Calon Rektor UIN Malang

“Untuk itu, pitching menjadi sangat penting dan hari ini salah satu agenda dari Kedaireka untuk membangun ekosistem baik bagi teman-teman di Perguruan Tinggi maupun teman-teman industri untuk dua arah berkomunikasi dan silaturahmi yang berhubungan, sehingga terjadi aliaran sinergi diantara kedua belahpihak,” tutupnya.

Reporter: Feni Yusnia

Editor: Lizya Kristanti

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *