MALANG — Gerakan Ekonomi Climate Change Frontier (CCF) terbentuk pada awal tahun 2021 dan merupakan respon atas apa yang terjadi di masyarakat, khususnya dari sisi ekonomi.
Sebagaimana diketahui, Pandemi COVID-19 memberikan dampak yang luar bisa, tidak hanya terhadap dunia usaha namun juga masyarakat.
”Seperti banyaknya usaha yang terpaksa harus gulung tikar, masyarakat kehilangan pekerjaan, sulit mencari nafkah dan sederetan panjang permasalahan yang lain,” kata Baskoro Founder CCF dan Inisiator gerakan ekonomi CCF.

Baskoro menegaskan, saat ini, Gerakan Ekonomi CCF fokus pada 2 hal. Pertama, membantu UMKM dalam mempromosikan produk dan usaha mereka. ”Kami menyediakan sebuah platform digital sebagai media promosi. Tidak dipungut biaya apapun atau gratis lewat UKM Digi CCF,” katanya.
Kedua, lanjut Baskoro, membantu masyarakat agar memiliki sumber penghasilan sendiri lewat Gerakan 1000 Usaha Mandiri CCF. ”Kami membuat usaha-usaha baru yang kemudian kami serahkan kepada masyarakat untuk dikelola. Usaha ini 100% menjadi milik mereka. Saat ini sudah 9 usaha baru yang telah kami bentuk. Dan kami akan terus membuat usaha-usaha baru di tengah Pandemi Covid 19,” jelasnya.
Aksi Mitra Ekonomi Desa / AMED
Upaya CCF dalam membantu masyarakat, khususnya dari sisi ekonomi tidak berhenti hanya pada 2 aksi ekonomi di atas saja. Saat ini CCF bergerak dan fokus membantu masyarakat yang berada di desa.
Dijelaskan Baskoro, Aksi Mitra Ekonomi Desa atau AMED, merupakan upaya dalam memajukan ekonomi masyarakat di pedesaan lewat kemitraan. Ada 2 model kemitraan yang dibangun. Yaitu Mitra Ternak dan Mitra Tani. Aksi ekonomi ini tidak hanya fokus pada sisi ekonomi atau kemitraan saja. Namun juga yang lain yang nantinya akan berada dalam sebuah Sistem Ekonomi Terpadu.
AMED Pertama dan Sebuah Pilot Project
AMED pertama yang sekaligus merupakan sebuah Pilot Project dipusatkan di Desa Botolinggo, Dusun Kedawung Anten, Kecamatan Botolinggo, Kabupaten Bondowoso dan sudah mulai berjalan.
Desa Botolinggo menjadi pusat kegiatan dan sekaligus Pilot Project AMED dikarenakan letak dari desa ini yang jauh dari pusat kota. Medan yang berat untuk sampai ke sana serta keberadaan antara satu rumah dengan yang lain saling berjauhan.
”Kami bekerjasama dengan salah satu masyarakat yang berada disana dan sekaligus sebagai wakil kami dalam pelaksanaan AMED yaitu Bapak Suyanto. Yang kebetulan Bapak ini merupakan salah satu penerima usaha dari Gerakan Ekonomi CCF. Tepatnya usaha ke 3 yaitu Rumah Sosis Nayla Barokah yang sudah berjalan sejak 19 Februari 2021, ” kata Baskoro

Menurut Baskoro, pada tahap awal CCF melakukan model kemitraan lewat Mitra Ternak. CCF menyerahkan beberapa pasang kambing kepada masyarakat untuk di pelihara dengan sistem bagi hasil atas anak kambing tersebut. Hasil dari kemitraan ini nantinya akan disalurkan kembali kepada masyarakat untuk dikelola. Sehingga merata kesempatan untuk berusaha dan memiliki sumber penghasilan sendiri.
CCF telah menyediakan sebuah tempat sebagai basecamp Team AMED dan sekaligus sebagai tempat diskusi dalam perencanaan dan pengembangan ekonomi di Desa Botolinggo.
”Kami akan mencoba menggali potensi-potensi yang bernilai ekonomi yang ada di Desa Botolinggo, salah satunya adalah keindahan alamnya. Akses Wifi Gratis akan segera kami buat sebagai media pembelajaran buat anak-anak muda serta membantu kinerja Team AMED kedepannya,” jelasnya.
Disisi lain, CCF tidak meninggalkan sisi sosial dan keagamaan. CCF akan membuat Rumah Makan Gratis yang akan beroperasi 1x setiap minggunya. Serta Team AMED telah menyiapkan sebuah musala yang nantinya akan digunakan sebagai tempat belajar mengaji untuk masyarakat.
”AMED baru berjalan dan masih banyak hal yang harus kami persiapkan. Maka dari itu, usulan dan masukan dari sahabat-sahabat semua kami perlukan disini. Besar harapan kami AMED ini mampu menjadi contoh untuk pengembangan ekonomi desa di tempat lain di Indonesia,” pungkasnya.