Malang, Tugumalang.id – Banyak kreator TikTok Affiliate belakangan ini mengeluhkan omzet yang menurun. Tidak sedikit pula yang merasa video sudah dibuat dengan serius dan penuh kreativitas, tetapi tetap sepi penonton maupun pembeli.
Fenomena tersebut menjadi perhatian konten kreator sekaligus IT dan Digital Marketing Manager, Hendra Setyo, yang membahas perubahan besar algoritma TikTok pada 2026. Menurutnya, standar konten berkualitas di TikTok kini mengalami pergeseran signifikan.
Jika sebelumnya visual estetik, editing rapi, dan hook menarik menjadi faktor utama, kini TikTok lebih memprioritaskan konten yang mampu menghasilkan penjualan melalui sistem bernama GMV Max.
Pergeseran Standar Konten Berkualitas di TikTok
Hendra Setyo menjelaskan bahwa GMV Max merupakan fitur iklan dari seller yang memungkinkan TikTok memilih video kreator secara otomatis untuk didukung melalui distribusi iklan tambahan.
Menurutnya, sistem tersebut bekerja berdasarkan performa penjualan, bukan semata kreativitas visual.
“GMV Max itu tidak melihat konten dari segi kreativitas atau visual yang gimana-gimana. Mereka bekerja berdasarkan data; konten mana yang memberikan penjualan, ya itulah yang akan diberikan anggaran untuk diiklankan,” ujar Hendra Setyo dalam kanal YouTube miliknya.
Karena itu, video sederhana berupa teks berjalan atau gerakan sederhana sekalipun tetap berpeluang mendapatkan traffic besar apabila mampu menghasilkan pembelian organik.
Kondisi inilah yang membuat banyak kreator mulai menyadari bahwa algoritma TikTok 2026 lebih berorientasi pada konversi dibanding sekadar engagement visual.
Algoritma TikTok Kini Mengandalkan Data Penjualan
Persaingan konten di TikTok juga semakin ketat dengan munculnya akun-akun berbasis AI yang membanjiri beranda pengguna. Hal tersebut membuat banyak afiliator merasa tidak lagi memiliki rumus pasti untuk menembus FYP.
Hendra mengakui bahwa saat ini memang terdapat unsur keberuntungan dalam proses distribusi algoritma. Namun, keberuntungan tersebut tetap berkaitan erat dengan kecocokan data audiens yang dibaca TikTok.
Sebuah video bisa gagal berkembang bukan karena kualitasnya buruk, melainkan karena sistem belum menemukan target penonton yang tepat. Sebaliknya, akun besar cenderung lebih mudah memperoleh traffic karena telah memiliki riwayat data penjualan yang kuat.
Dengan data tersebut, TikTok dinilai lebih percaya untuk memperluas distribusi video kepada calon pembeli lain yang relevan.
Strategi Bertahan Menghadapi Algoritma TikTok 2026
Untuk menghadapi perubahan algoritma TikTok Affiliate 2026, Hendra Setyo membagikan beberapa strategi yang bisa diterapkan kreator agar tetap bertahan dan berkembang.
1. Aktif Mengambil Hati Seller
Langkah pertama yang dinilai penting adalah membangun komunikasi aktif dengan seller. Kehadiran fitur Creative Boost memungkinkan penjual memilih video kreator tertentu untuk mendapatkan dukungan iklan.
Karena itu, hubungan baik dengan seller dapat membuka peluang distribusi yang lebih besar melalui GMV Max.
2. Memperbanyak Variasi Produk
Hendra juga menyarankan afiliator agar tidak terpaku pada satu jenis produk saja. Variasi produk dinilai penting untuk membantu sistem membaca kecocokan akun dengan target pasar tertentu.
Dengan mencoba berbagai kategori produk, peluang menemukan produk yang cocok dengan algoritma akan semakin besar.
“Tugas kita fokus adalah untuk ngonten, fokus untuk perbaikin… dan kita juga berupaya untuk variasi produk ya. Cari-cari produk-produk yang ada GMV Max-nya,” jelas Hendra.
3. Konsisten Melakukan Live Streaming
Strategi berikutnya adalah menjaga konsistensi live streaming. Menurut Hendra, live bukan semata untuk mengejar penjualan instan, tetapi juga menjadi sinyal aktivitas akun kepada sistem TikTok.
“Live itu bukan untuk dapat penjualan ya teman-teman ya. Tapi memang untuk ibaratnya sedikit nyolek algoritma gitu ya,” ungkapnya.
Dengan aktivitas live yang rutin, akun dianggap lebih aktif sehingga berpotensi memperoleh perhatian lebih dari algoritma maupun seller.
4. Membangun Kepercayaan Lewat Konten Autentik
Di tengah maraknya konten AI yang repetitif, Hendra menilai kepercayaan penonton menjadi aset paling penting bagi afiliator.
Konten yang jujur dan autentik dinilai lebih mampu membangun loyalitas audiens dalam jangka panjang. Menurutnya, afiliator tidak hanya sekadar menjual produk, tetapi juga membangun komunitas yang percaya terhadap rekomendasi yang diberikan.
Kesimpulannya, algoritma TikTok 2026 memang menghadirkan tantangan baru bagi kreator TikTok Affiliate. Fokus pada konsistensi, peningkatan kualitas konten, serta kemampuan membaca kebutuhan pasar menjadi langkah penting agar tetap mampu bersaing di tengah perubahan sistem distribusi TikTok yang semakin berbasis data penjualan.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
‘Isyatur Rodhiyah/Magang
redaktur: jatmiko
























