Malang Tugumalang.id – Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) RI Arifatul Choiri Fauzi menegaskan pentingnya memperkuat peran perempuan sebagai penggerak sekaligus pemimpin transformasi global.
Hal itu disampaikan dalam The 1st International Women’s Conference di Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang, Sabtu (7/11/2026).
Ia membuka langsung forum internasional bertajuk “Women’s Faith, Knowledge, Leadership, and Global Transformation” tersebut. Sejumlah tokoh nasional dan akademisi internasional turut hadir dalam forum pertukaran gagasan sekaligus penguatan solidaritas perempuan lintas negara itu. Di antaranya, H.E. Naziha Labidi dari Tunisia, Dr. Basimah Haqqawi dan H.E. Muhamed Larbi dari Maroko, hingga Hj. Sinta Nuriyah Wahid, istri Presiden ke-4 RI KH Abdurrahman Wahid.
Arifatul mengatakan, dunia saat ini menghadapi perubahan sangat cepat seiring perkembangan teknologi, keterhubungan global, dan kemajuan ilmu pengetahuan. Namun, berbagai tantangan mendasar masih membayangi. Mulai ketimpangan sosial ekonomi, konflik kemanusiaan, perdagangan orang, perubahan iklim, hingga kekerasan berbasis gender.
“Sehingga kita harus memastikan bahwa perempuan bukan hanya menjadi kelompok yang terdampak oleh perubahan dunia, tetapi perempuan harus mengambil peran sebagai penggerak dan pemimpin transformasi,” tegasnya.
Baca juga: UIN Malang Bangun Jejaring Strategis dengan Para Duta Besar Negara Sahabat
Ia juga menyoroti masih tingginya angka kekerasan terhadap perempuan dan anak di Indonesia. Berdasarkan survei yang disampaikan Kementerian PPPA, satu dari empat perempuan pernah mengalami kekerasan. Sementara itu, satu dari dua anak Indonesia berusia 13 hingga 17 tahun juga pernah mengalami kekerasan. Kondisi tersebut membutuhkan penguatan perlindungan sekaligus fondasi moral dan nilai keluarga.
Kesenjangan Perempuan dalam Ekonomi dan Kepemimpinan
Selain persoalan perlindungan, keterlibatan perempuan dalam sektor ekonomi dan pengambilan keputusan masih menghadapi kesenjangan. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan tingkat partisipasi angkatan kerja perempuan meningkat dari 53,13 persen pada 2020 menjadi 56,42 persen pada 2024. Namun, angka tersebut masih jauh dibandingkan laki-laki yang mencapai 84,66 persen.
Keterwakilan perempuan dalam jabatan strategis juga belum ideal. Dari 674 pejabat Jabatan Pimpinan Tinggi (JPT) Madya, hanya 114 orang atau sekitar 16,9 persen merupakan perempuan. Sementara itu, di DPR RI periode 2024–2029, keterwakilan perempuan mencapai 127 dari total 580 anggota atau 21,9 persen. Angka tersebut menjadi capaian tertinggi, tetapi masih belum memenuhi afirmasi 30 persen.
Arifatul menilai kesenjangan tersebut tidak lepas dari hambatan struktural. Di antaranya, beban pekerjaan domestik dan pengasuhan yang masih lebih banyak dibebankan kepada perempuan, terbatasnya akses terhadap pekerjaan layak, serta kesenjangan upah.
Untuk itu, ia menekankan bahwa kesetaraan gender bukanlah persaingan antara laki-laki dan perempuan. Sebaliknya, kesetaraan merupakan upaya bersama untuk menghadirkan kesempatan dan manfaat pembangunan yang setara.
Untuk memperkuat kontribusi perempuan, Arifatul menawarkan lima agenda strategis. Yakni pendidikan dan literasi, perlindungan dari kekerasan, penguatan kepemimpinan dan partisipasi, pemberdayaan ekonomi, serta solidaritas dan kolaborasi.
Ia berharap konferensi internasional tersebut mampu melahirkan gagasan progresif, rekomendasi kebijakan aplikatif, dan jejaring kerja sama berkelanjutan demi masa depan yang lebih adil, inklusif, dan damai.
Kepemimpinan Perempuan Hadapi Perkembangan AI
Sementara itu, Rektor UIN Malang Prof. Dr. Hj. Ilfi Nur Diana, M.Si., CAHRM., CRMP., mengatakan kepemimpinan perempuan memiliki peran penting dalam menghadapi perubahan zaman, termasuk perkembangan kecerdasan buatan (AI).
Baca juga: Menteri PPPA Sebut Penggunaan Gadget Jadi Salah Satu Faktor Kekerasan Anak
Ia menegaskan, perempuan di lingkungan kampus juga harus mampu menjadi produsen ilmu pengetahuan, bukan sekadar konsumen.
“Kami tidak ingin perempuan di kampus ini hanya menjadi konsumen ilmu pengetahuan, tapi harus menjadi produsen ilmu pengetahuan,” tuturnya.
Ilfi juga memperkenalkan konsep Motherly Transformational Leadership, yakni kepemimpinan transformatif yang mengedepankan inspirasi, motivasi, gagasan, serta kasih sayang dalam mendorong perubahan.
Baginya, pendekatan tersebut semakin dibutuhkan, terutama untuk menjawab persoalan kesehatan mental di lingkungan pendidikan. Ia berharap konferensi internasional ini memperkuat kolaborasi laki-laki dan perempuan dalam membangun kepemimpinan yang inklusif, sekaligus melahirkan gagasan nyata bagi kemajuan bangsa.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
redaktur: jatmiko





































