Pengukuhan profesor baru ini menambah deretan pakar dan akademisi UB dalam menjawab tantangan perubahan iklim, krisis energi, dan ketahanan pangan nasional.
Salah satunya Prof. Luqman Qurata Aini, S.P., M.Si., Ph.D. yang dikukuhkan sebagai Profesor bidang Bakteriologi pada Fakultas Bio-Industri Pertanian dan Kehutanan. Ia menjadi profesor aktif ke-25 di fakultas tersebut, profesor aktif ke-261 di UB, dan profesor ke-461 sepanjang sejarah UB.
Dalam paparan ilmiahnya, ia memperkenalkan gagasan COMUSTO-PGPB (Consortium of Multi-Stress Tolerance Plant Growth-Promoting Bacteria). Gagasan ini memanfaatkan konsorsium bakteri indigenous (lokal) yang mampu memacu pertumbuhan tanaman sekaligus bertahan terhadap tekanan lingkungan.
”Dari eksplorasi di kawasan UB Forest Malang, Prof. Luqman menemukan 7 isolat bakteri unggulan yang terbukti bertahan pada pH 5–6, salinitas 5–15%, suhu ekstrem hingga 60°C, serta kondisi kekeringan simulasi PEG 15%,” ungkapnya.
Baca juga: 4 Profesor Baru UB Malang akan Dikukuhkan, Teliti Tahu hingga Teknologi Harvesting Energi Alternatif
Pengujian pada tanaman selada hidroponik menunjukkan peningkatan pertumbuhan dan kemampuan pertahanan tanaman terhadap serangan hama trips. Hasil tersebut terutama terlihat pada isolat UB-53 dan UB-54.
Melalui pendekatan metagenomik dan metabolomik, penelitian itu juga mengidentifikasi 58 metabolit yang mengalami perubahan. Temuan tersebut menunjukkan potensi bakteri lokal dalam mendukung pertanian yang lebih sehat.
Inovasi ini menjadi salah satu pendekatan untuk memperkuat ketahanan tanaman melalui rekayasa ekologi agroekosistem. Penelitian tersebut berangkat dari tantangan pertanian, mulai perubahan iklim hingga penggunaan pupuk dan pestisida sintetis yang berpotensi mengganggu keseimbangan mikroorganisme tanah.
Temuan itu memberikan gambaran bahwa bakteri tidak hanya berpotensi mendukung pertumbuhan tanaman, tetapi juga berkaitan dengan mekanisme metabolisme dan pertahanan tanaman dalam menghadapi tekanan lingkungan.
”Memang pengembangan ini masih memerlukan pengujian keamanan hayati, kompatibilitas antarbakteri, stabilitas formulasi, dan validasi di berbagai lokasi sebelum dapat diterapkan secara lebih luas,” pungkasnya.
Profesor kedua yang dikukuhkan adalah Prof. Dr. Ir. Purnami, S.T., M.T., IPM., ASEAN Eng., dari Fakultas Teknik. Ia dikukuhkan sebagai Profesor bidang Energi Hidrogen. Prof. Purnami menjadi profesor aktif ke-36 di Fakultas Teknik, profesor aktif ke-262 di UB, serta profesor ke-462 sepanjang sejarah UB.
Dalam gagasan ilmiahnya, ia memperkenalkan kerangka AMI (Adaptive Multiphysics Intelligence). Inovasi ini dikembangkan untuk mendukung elektrolisis air, yakni proses pemisahan molekul air menjadi hidrogen sebagai sumber energi bersih masa depan.
Kerangka AMI menggabungkan medan magnet dinamis, fenomena fisik-mekanik, material berbasis karbon biomassa seperti sekam padi, serta kecerdasan buatan (Artificial Intelligence) berbasis Double Deep Q-Network (DDQN).
“Dalam eksperimen kami, penggunaan medan magnet dinamis mampu menghasilkan produksi hidrogen hingga 23,1 mililiter H₂, meningkat signifikan dibanding medan magnet statis yang mencatatkan 12,1 mililiter H₂. Integrasi AI membantu sistem mempelajari penyesuaian operasi secara adaptif,” jelas Prof. Purnami.
Baca juga: Teliti Energi Baru hingga Taktik Perangi Mafia Kartel, 4 Profesor di UB Malang Dikukuhkan
Profesor ketiga berasal dari Fakultas Bio-Industri Pertanian dan Kehutanan, yakni Prof. Dr. Afifuddin Latif Adiredjo, S.P., M.Sc. Ia dikukuhkan sebagai Profesor bidang Pemuliaan Tanaman Pangan dan Semusim. Ia menjadi profesor aktif ke-263 di UB sekaligus profesor ke-463 sepanjang sejarah universitas tersebut.
Dalam paparan ilmiahnya, ia menawarkan solusi untuk menjawab ancaman perubahan iklim terhadap sektor pertanian. Ia merumuskan model SIGAP (Seleksi agro-morfo-fisiologis, Introgresi gen, Genostabilitas multisifat, Autentikasi molekuler, dan Penargetan lingkungan).
Model SIGAP mampu memangkas waktu siklus pemuliaan tanaman dengan memadukan pendekatan pemuliaan klasik dan genomik berbasis DNA.
Penerapan model tersebut pada tanaman melon menghasilkan tiga varietas hibrida (Gambar 3.3) yang telah memperoleh hak Perlindungan Varietas Tanaman (PVT).
“Melalui model SIGAP, kami berhasil mengembangkan hibrida melon yang mampu beradaptasi di lingkungan dataran tinggi bersuhu rendah. Tiga varietas hibrida hasil riset ini telah mengantongi hak paten Perlindungan Varietas Tanaman (PVT),” terang Prof. Afifuddin.
Ke depan, model SIGAP berpotensi mempercepat kemajuan genetik dan mengarahkannya secara tepat ke lingkungan target yang terus berubah. Model ini juga diharapkan mendukung penyaluran varietas hingga ke petani.
Dengan demikian, SIGAP mempercepat proses dari pemanfaatan marka molekuler menuju varietas yang dilindungi dan benih yang dapat digunakan petani.
Profesor keempat adalah Prof. Hery Toiba, S.P., M.P., Ph.D. Ia dikukuhkan sebagai Profesor bidang Ekonomi Sistem Pangan pada Fakultas Bio-Industri Pertanian dan Kehutanan.
Ia menjadi profesor aktif ke-27 di fakultas tersebut, profesor aktif ke-264 di UB, serta profesor ke-464 sepanjang sejarah UB.
Dalam penelitiannya, Prof. Hery memaparkan gagasan Model SiMPaTI (SIsteM PAngan adapTIf) untuk membangun ketahanan pangan di tengah tantangan cuaca ekstrem dan gejolak harga pasar.
Menurut dia, selama ini kebijakan pangan masih bertumpu pada swasembada dan peningkatan produksi.
”Seolah-olah iklim selalu normal dan pelaku pangan hanya menunggu arahan. Jika dibiarkan, setiap guncangan iklim akan menggerus pendapatan, memperburuk gizi anak, dan menambah keluarga rentan,” bebernya.
Model tersebut bertumpu pada tiga pilar utama, yakni ketangguhan (resilience), kapasitas adaptif, dan agensi atau kebebasan memilih.
Gagasan utamanya adalah ketangguhan sistem pangan tidak hanya dibangun dari atas, tetapi juga tumbuh dari bawah melalui jutaan keputusan adaptif yang diambil pelaku pangan setiap hari.
Secara filosofis, model ini memandang ketangguhan sebagai hasil pilihan manusia, bukan semata-mata teknologi (ontologi). Pengetahuannya dibangun dari bukti lapangan yang diuji secara kausal (epistemologi), sedangkan manfaatnya diarahkan pada gizi dan kesejahteraan masyarakat (aksiologi).
Melalui model ini, ia ingin menggeser paradigma ketahanan pangan yang selama ini berfokus pada pendekatan top-down, seperti swasembada dan angka produksi, menjadi bottom-up. Pendekatan tersebut menitikberatkan kapasitas adaptif pelaku di lapangan, seperti petani, nelayan, dan peternak.
“Nama SiMPaTI dipilih dari kepedulian terhadap manusia di balik angka produksi. Ketangguhan sistem pangan tumbuh dari jutaan keputusan adaptif harian pelaku pangan, baik saat menggeser jadwal tanam atau menyesuaikan mata pencaharian,” kata dia.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
redaktur: jatmiko




































