Oleh: Khoirul Anwar
ADA sesuatu yang menarik sedang tumbuh di Malang. Bukan hanya kegiatan kebudayaan. Bukan pula sekadar romantisme sejarah perjuangan. Bukan juga hura-hura sesaat.
Yang tumbuh adalah bibit kesadaran baru bahwa masa depan sebuah kota tidak cukup dibangun dengan jalan, dihiasi gedung tinggi, atau digenjot melalui investasi dan teknologi.
Kota membutuhkan jiwa. Masyarakat membutuhkan identitas. Generasi muda membutuhkan akar yang membuat mereka mengetahui dari mana mereka berasal, siapa diri mereka, dan ke mana harus melangkah.
Kesadaran itulah yang dapat mempertemukan tiga gagasan besar yang diusung dua tokoh besar pula. Yakni, Ngalam Hebak, Malang Kota Pejuang, dan AI Osob Kiwalan.
Ketiganya tampak berbeda. Yang pertama berbicara tentang budaya. Yang kedua menghidupkan sejarah perjuangan. Yang ketiga memasuki dunia kecerdasan buatan untuk menjaga warisan hingga ribuan tahun ke depan.
Namun, sesungguhnya ketiganya mempunyai satu tujuan: membangun identitas Malang yang kuat dalam menghadapi Indonesia Emas 2045. Tepatnya, jika dilokalkan, mempersiapkan generasi emas Ngalam 2045 menuju Indonesia Emas.
Inilah tesis yang perlu kita letakkan bersama. Budaya memberi akar. Perjuangan memberi karakter. Teknologi menjaga keberlanjutan masa depan.
Tanpa budaya, kemajuan kehilangan identitas. Tanpa semangat perjuangan, kemajuan kehilangan karakter. Tanpa teknologi, warisan budaya dan perjuangan berisiko kehilangan relevansinya bagi generasi mendatang.
Ngalam Hebak: Identitas yang Menyatukan
Langkah menarik datang dari Kapolresta Malang Kota Kombes Pol Danang Setiyo Pambudi. Melalui inisiasi gerakan Ngalam Hebak atau Malang Kabeh, ia menghadirkan cara berbeda dalam memandang keamanan dan kehidupan masyarakat.
Menjaga kota ternyata bukan hanya persoalan patroli, penegakan hukum, atau pengamanan ruang publik. Menjaga kota juga berarti merawat identitas, kebersamaan, dan rasa memiliki masyarakat terhadap tempat tinggalnya.
Ngalam Hebak menjadikan Osob Kiwalan sebagai pintu masuk. Namun, bahasa walikan hanyalah permukaan dari kekayaan kebudayaan Malang yang jauh lebih luas.
Di dalamnya terdapat solidaritas, keberanian, kreativitas, egalitarianisme, dan keterbukaan. Yang terpenting, ada semangat kebersamaan khas Arek Malang.
Baca juga: Menuju Ngalam Tahes, Wawali Kota Malang Dorong Generasi Muda Bangun Pola Hidup Sehat
Gerakan ini menjadi penting ketika modernisasi sering membuat kota-kota semakin menyerupai satu sama lain. Pusat perbelanjaannya mirip. Bangunannya seragam. Bahkan, gaya hidup masyarakatnya semakin kehilangan kekhasan. Malang tidak boleh kehilangan wajahnya sendiri.
Ngalam Hebak seharusnya berkembang sebagai gerakan sosial yang inklusif. Gerakan ini tidak hanya milik warga yang lahir di Malang, tetapi juga siapa pun yang mencintai, tinggal, berkarya, dan berkontribusi bagi Malang.
Di sinilah identitas berubah menjadi kekuatan sosial. Kebudayaan bukan alat untuk membedakan siapa yang paling asli, melainkan jembatan yang mempertemukan semua orang.
Malang Kota Pejuang: Identitas yang Membentuk Karakter
Pilar kedua menemukan relevansinya melalui gagasan Malang Kota Pejuang, yang perlu memperoleh energi kelembagaan dari TNI, terutama Korem 083/Baladhika Jaya di bawah kepemimpinan Danrem Kolonel Inf Wahyu Ramadhanus Suryawan.
Gagasan ini penting karena Malang bukan sekadar kota pendidikan, wisata, atau olahraga. Malang juga memiliki warisan perjuangan yang membentuk perjalanan Republik Indonesia.
Ada Mas Isman, tokoh Brigade TRIP. Ada KH Masjkur, ulama sekaligus tokoh perjuangan nasional. Ada sejarah Laskar Sabilillah, Hizbullah, PETA, serta perjuangan rakyat mempertahankan kemerdekaan.
Pertempuran Jalan Salak pada 31 Juli 1947 menjadi salah satu penanda pengorbanan generasi muda. Sementara itu, keberadaan berbagai kesatuan militer, termasuk Divisi Infanteri 2 Kostrad di Singosari, menegaskan hubungan panjang Malang dengan tradisi pertahanan negara.
Namun, sejarah tidak boleh berhenti sebagai nama jalan, monumen, atau makam pahlawan. Apalagi, jika hanya menjadi bagian dari upacara tahunan. Sejarah harus menjadi sumber pembentukan karakter.
Semangat pejuang hari ini tidak selalu diwujudkan dengan mengangkat senjata. Pejuang hadir melalui keberanian melawan korupsi, menjaga integritas, menolak kekerasan, membela kepentingan publik, serta bekerja sungguh-sungguh untuk masyarakat.
Karena itu, Malang Kota Pejuang perlu dipikirkan bukan sekadar sebagai gerakan untuk mengenang masa lalu. Kota Pejuang merupakan ikhtiar menerjemahkan nilai perjuangan ke dalam kehidupan generasi masa depan.
Kita ingin anak-anak Ngalam bukan hanya mengetahui siapa pahlawan mereka, melainkan juga menjadi generasi muda yang memahami mengapa mereka harus berani, jujur, disiplin, dan bertanggung jawab.
AI untuk Osob Kiwalan: Identitas yang Menjangkau Masa Depan
Pilar ketiga membawa kita memasuki tantangan baru. Dunia sedang bergerak menuju peradaban kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Gagasan ini menjadi perhatian Dekan FISIP UB Dr. Imron Rojuli.
Pertanyaannya sederhana. Apakah teknologi akan membantu merawat kebudayaan lokal atau justru mempercepat hilangnya identitas daerah?
Baca juga: Ngalam Santun, Komitmen Wahyu-Ali Wujudkan Kota Malang Ramah Disabilitas
Di sinilah perguruan tinggi, terutama FISIP Universitas Brawijaya, bersama akademisi, komunitas budaya, dan pengembang teknologi, dapat mengambil peran strategis.
AI untuk Osob Kiwalan bukan sekadar membuat mesin yang mampu menerjemahkan bahasa walikan.
Gagasan besarnya adalah membangun kecerdasan budaya (cultural intelligence) yang mampu mendokumentasikan bahasa, sejarah, cerita rakyat, nilai sosial, dan pengetahuan lokal Malang.
Bayangkan, generasi 2045 dapat berdialog dengan sistem AI mengenai sejarah Brigade TRIP, mengenal makna Osob Kiwalan, menjelajahi situs perjuangan, atau mempelajari kebudayaan Malang melalui teknologi interaktif.
Namun, teknologi harus tetap ditempatkan sebagai alat. Masyarakat, budayawan, sejarawan, dan akademisi tetap menjadi penjaga autentisitas pengetahuan.
AI tidak boleh menciptakan sejarah palsu ataupun mengubah warisan budaya menjadi sekadar komoditas digital.
Menuju Satu Orkestra Ngalam 2045
Ketiga gerakan ini tidak semestinya berjalan sendiri-sendiri. Semuanya harus bersinergi dan berkolaborasi untuk mencapai satu tujuan bersama.
Kapolresta dengan Ngalam Hebak membuka ruang kebudayaan dan kohesi sosial. Danrem bersama unsur TNI dapat memperkuat gerakan Malang Kota Pejuang melalui pendidikan karakter dan pewarisan nilai kepahlawanan. Perguruan tinggi menghadirkan kekuatan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Namun, orkestra tersebut harus melibatkan pemerintah daerah, komunitas, sekolah, pesantren, media, dan pelaku usaha. Yang tidak kalah penting adalah masyarakat luas sebagai bagian dari civil society.
Polri dan TNI dapat menjadi pemantik, sedangkan kampus menjadi pusat pengetahuan. Masyarakatlah yang harus menjadi pemilik gerakan.
Inisiatif ini juga memerlukan agenda nyata. Sekolah mengenalkan sejarah lokal. Komunitas menghidupkan kebudayaan. Teknologi mendokumentasikan pengetahuan. Ruang publik menjadi tempat perjumpaan antargenerasi.
Dengan demikian, tiga pilar tersebut bukan tiga proyek terpisah. Ketiganya menjadi satu arsitektur identitas Malang 2045.
Ngalam Hebak menjawab siapa kita. Malang Kota Pejuang menjelaskan dari mana karakter kita lahir. AI untuk Osob Kiwalan memastikan identitas itu dapat diwariskan kepada generasi berikutnya.
Pada akhirnya, keberhasilan pembangunan tidak cukup diukur melalui pertumbuhan ekonomi dan kecanggihan teknologi.
Keberhasilan juga terlihat ketika generasi muda mampu melangkah jauh ke dunia global tanpa kehilangan kebanggaan terhadap tanah kelahirannya.
Malang harus maju tanpa kehilangan akar. Modern tanpa melupakan sejarah. Canggih tanpa meninggalkan kemanusiaan.
Sebab, masa depan yang kuat bukan masa depan yang meninggalkan masa lalu, melainkan masa depan yang mampu menjadikan warisan budaya dan perjuangan sebagai sumber kemajuan.
Itulah jalan menuju Ngalam 2045. Malang yang berbudaya, berkarakter pejuang, dan berkeadaban teknologi. Malang Kabeh. Ngalam Hebak.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
*Penulis adalah Ketua Komisi Komdigi MUI Jatim sekaligus Wakil Ketua PCNU Kota Malang.
editor: jatmiko
Tugumalang.id mengundang akademisi maupun praktisi untuk menulis di Ruang Cendekia melalui email: ruangakademika2026@gmail.com.






































