Malang, Tugumalang.id – Mahalnya harga pakan masih menjadi beban terbesar bagi peternak di berbagai daerah, termasuk Malang. Penelitian akademisi Universitas Airlangga (Unair) menemukan, limbah sawit berpotensi menjadi bahan baku pakan ternak yang lebih ekonomis.
Hal itu dipaparkan dalam workshop dan aksi nyata bertajuk Peningkatan Nilai Tambah Limbah Kelapa Sawit melalui Inovasi Pakan Ternak Berbasis Ekonomi Sirkuler di Malang, Selasa (20/10/2026). Kegiatan tersebut diikuti peternak serta pelaku UMKM pakan ternak dan perkebunan Malang Raya.
Ketua Laboratorium Pengembangan Ekonomi Pembangunan (LPEP) Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unair Prof Dyah Wulan Sari, SE., M.Ec.Dev., Ph.D. mengatakan, data Badan Pusat Statistik (BPS) dan Kementerian Pertanian pada 2025 mencatat produksi minyak sawit mentah nasional mencapai 47,24 juta ton. Produksi tersebut berasal dari area perkebunan seluas sekitar 16 juta hektare.
Baca juga: Sambut Hari Lingkungan Hidup, Unikama dan Grand Mercure Olah Limbah Jadi Pakan Ternak
Di sisi lain, biaya pakan masih menjadi persoalan utama peternak. Biaya tersebut bisa mencapai 60–70 persen dari total biaya produksi peternakan.
“Produksi sawit kita sangat besar dan setiap ton minyak yang dihasilkan juga menyisakan produk sampingan seperti solid sawit, bungkil inti sawit, dan pelepah. Sementara peternak menghadapi pakan yang mahal. Dua kondisi ini bisa dipertemukan lewat ekonomi sirkular, yakni limbah dari satu sektor menjadi bahan baku bagi sektor lain,” kata Dyah.
Biaya Pakan Bisa Turun 30–40 Persen
Dalam risetnya, Dyah mengungkapkan studi kasus Maulana Akbar, peternak kambing asal Kabupaten Tapin, Kalimantan Selatan. Peternak tersebut memanfaatkan solid sawit yang difermentasi, kemudian dicampur dengan hijauan dan konsentrat sebagai pakan ternak.
Hasilnya, biaya pakan turun 30–40 persen dibandingkan dengan penggunaan ampas tahu. Dalam uji coba selama 30 hari terhadap beberapa kambing, bobot ternak juga bertambah 3–4 kilogram.
Dyah menyebut kemitraan menjadi salah satu pelajaran penting dari kasus tersebut. Pasokan limbah yang berkelanjutan dari perusahaan sawit berpeluang menjamin ketersediaan bahan baku pakan.
“Jadi bagi peternak di Malang Raya, kuncinya adalah membangun kemitraan pasokan dan memastikan kualitas pengolahan. Dengan begitu, ketergantungan pada pakan komersial bisa berkurang dan usaha lebih efisien,” tuturnya.
Dyah juga mengajak peternak dan pelaku UMKM pakan ternak menganalisis kelayakan usaha pakan berbasis limbah sawit. Analisis tersebut mencakup perhitungan biaya produksi, keuntungan, hingga penyusunan model bisnis sederhana.
“Kami ingin peternak dan UMKM tidak hanya tahu bahwa limbah sawit bisa jadi pakan, tetapi juga mampu menghitung untung ruginya,” kata dia.
“Pengolahan limbah yang baik juga harus bisa mengurangi limbah yang terbuang dan membuka peluang usaha pakan yang baru,” imbuhnya.
Tiga Hari Pelatihan hingga Pendampingan Usaha
Workshop dan aksi nyata tersebut merupakan hasil sinergi Unair dengan Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP). Kegiatan berlangsung pada 20–22 Oktober 2026 di Malang Raya.
Pada hari pertama, kegiatan ditutup dengan seminar pengelolaan limbah sawit berkelanjutan dan ekonomi hijau. Hari kedua diisi pelatihan teknis pengolahan pakan ternak, mulai standar mutu dan keamanan pakan, formulasi pakan, teknologi fermentasi, hingga praktik pengolahan solid sawit, bungkil inti sawit, dan pelepah sawit.
Pada hari ketiga, peserta mendapatkan materi legalitas dan pengembangan usaha. Agendanya meliputi pendampingan Nomor Induk Berusaha (NIB) dan perizinan berusaha melalui OSS-RBA. Peserta juga mendapat materi skema pembiayaan, termasuk Kredit Usaha Rakyat (KUR), serta kesempatan mengikuti business matching dengan perbankan Himbara dan lembaga pembiayaan.
Ketua Pelaksana Akhmad Jayadi menjelaskan, workshop tersebut dirancang agar berlanjut menjadi aksi nyata yang dapat langsung diterapkan peserta.
Baca juga: Inovasi Pengabdian Masyarakat UM Bantu Peternak Sambigede Melalui Mesin Pencacah Pakan Ternak Double Intake
Selama tiga hari, peternak dan pelaku UMKM dibekali pemahaman tentang potensi limbah sawit, keterampilan mengolahnya menjadi pakan, pendampingan legalitas usaha, hingga kesempatan terhubung dengan perbankan melalui business matching.
“Kami ingin setiap peserta pulang dengan hasil nyata, mulai dari kemampuan membuat pakan dari limbah sawit, legalitas usaha seperti NIB, proposal pembiayaan yang siap diajukan, hingga rencana aksi untuk mengembangkan usahanya,” kata dia.
“Kami juga ingin kegiatan ini menjadi wadah bertemunya peternak, UMKM, akademisi, pemerintah, perusahaan sawit, dan perbankan di Malang Raya,” tandasnya.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
redaktur: jatmiko



































