Tugumalang.id – Kementerian Sosial (Kemensos) membuka Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) di Sentra Wyata Guna, Bandung, Jawa Barat, sebagai akses pendidikan alternatif bagi anak-anak dari keluarga prasejahtera dan kelompok rentan.
Sebanyak 36 peserta didik mengikuti kegiatan pembelajaran di sanggar tersebut. Program ini ditujukan bagi anak-anak yang sebelumnya menghadapi hambatan untuk memperoleh pendidikan, terutama akibat keterbatasan ekonomi.
Wakil Menteri Sosial (Wamensos) Agus Jabo Priyono mengatakan, kehadiran SKB menjadi bagian dari upaya pemerintah memastikan kondisi ekonomi tidak menjadi penghalang bagi anak-anak untuk memperoleh pendidikan.
Baca Juga: Mensos Gus Ipul Minta ASN Kemensos Jaga Integritas dan Jauhi Korupsi
Menurut Agus, negara memiliki tanggung jawab untuk menjangkau anak-anak yang berada dalam kondisi tidak mampu maupun rentan, termasuk dengan memberikan pendampingan dan fasilitas pendidikan secara gratis.
“Tugas negara, kewajiban negara seperti yang termaktub di dalam Pasal 34 Undang-Undang Dasar 1945 untuk kemudian mengintervensi, menjemput anak-anak ini, mendampingi anak-anak yang tidak mampu ini, mengantarkan anak-anak yang rentan ini, supaya mereka kembali punya harapan,” ujar Agus.
Ia menuturkan, pendidikan tidak hanya memberikan kesempatan bagi anak-anak untuk memperoleh pengetahuan, tetapi juga membuka harapan bagi mereka dan keluarganya dalam menghadapi masa depan.
“Harapan untuk menyongsong hari depan yang gemilang dengan jalan mereka harus bersekolah,” lanjutnya.
Baca Juga: Kemensos Pantau Kesehatan Siswa Sekolah Rakyat di Tengah Karhutla
Melalui SKB tersebut, Kemensos berupaya menghadirkan pembelajaran bagi kelompok yang menghadapi hambatan dalam mengakses pendidikan formal, sekaligus memberikan pendampingan agar anak-anak tetap memiliki kesempatan melanjutkan pendidikan.
Pernyataan tersebut disampaikan Agus Jabo saat membuka pelaksanaan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) SKB di Sentra Wyata Guna Bandung secara daring dari Kantor Kemensos, Jakarta, Rabu (16/9/2026).
Agus Jabo menambahkan bahwa SKB juga hadir sebagai batu loncatan bagi anak-anak untuk masuk Sekolah Rakyat.
Sanggar Kegiatan Belajar menyediakan layanan Pendidikan Kesetaraan Paket A (setara SD), Paket B (setara SMP), dan Paket C (setara SMA) yang terbuka untuk semua usia, dengan sistem pembelajaran yang fleksibel dan inklusif.
Saat ini, secara bertahap bekerjasama dengan Pemda, SKB dilaksanakan di 16 Sentra dan Sentra Terpadu milik Unit Pelaksana Teknis Ditjen Rehabilitasi Sosial Kemensos dengan total 611 peserta didik.
Peserta didik yang mengikuti SKB berasal dari anak yang tidak masuk Sekolah Rakyat karena faktor usia, penerima manfaat yang sedang menjalani rehabilitasi di Sentra dan Sentra Terpadu untuk mendapat akses pendidikan, serta masyarakat umum.
Agus Jabo menekankan, sekolah adalah jembatan emas bagi semua anak, termasuk anak-anak dari keluarga kurang mampu untuk menggapai masa depan yang lebih baik dan cerah.
Selain itu, pendidikan juga menjadi jalan utama untuk memutus transmisi kemiskinan antargenerasi. Menurutnya, pemerintah dan seluruh pihak terkait memiliki tugas serta tanggung jawab bersama untuk membangun jembatan tersebut, mendampingi, dan mengantarkan anak-anak dalam mewujudkan mimpi mereka.
“Seluruh anak Indonesia harus bersekolah. Apapun kondisi ekonominya, mereka harus kita antarkan, kita wujudkan apa yang menjadi mimpi-mimpi mereka, mimpi orang tua mereka, termasuk keinginan Bapak Presiden supaya anak-anak bisa mengangkat derajat keluarganya karena mereka bisa melanjutkan pendidikan dan kemudian bisa bekerja, bekerja di tempat-tempat yang bermartabat,” jelas Agus Jabo.
Dalam kesempatan tersebut, Agus Jabo juga berpesan kepada para peserta didik agar tidak merasa malu dengan perjalanan hidup maupun kondisi ekonomi keluarga mereka. Ia menegaskan bahwa negara berkomitmen untuk mendampingi agar dapat memperoleh kesempatan yang setara dalam pendidikan.
“Jangan malu, jangan pernah malu dengan perjalanan hidup kalian. Negara akan hadir, negara sekuat-kuatnya akan hadir untuk menjemput kalian supaya kalian ikut menikmati hasil pembangunan,” ujarnya.
Agus Jabo juga mendorong para peserta didik untuk terus belajar, membangun karakter, serta mempertahankan semangat dalam meraih cita-cita.
“Jangan pernah berhenti belajar. Kalian harus menjadi anak-anak yang kuat, anak-anak yang hebat. Kalian harus belajar, kalian harus menjadi anak-anak yang pintar. Pintar saja tidak cukup, kalian harus menjadi anak-anak yang memiliki karakter, karakter kebangsaan, karakter keagamaan, karakter sosial,” pesannya.
Tak lupa, Agus Jabo juga mengingatkan seluruh peserta didik untuk menghormati orang tua, guru, dan para pembimbing, serta menjalankan kedisiplinan selama mengikuti pendidikan.
“Apapun pekerjaan orang tua kalian, kalian harus bangga, kalian harus hormati orang tua kalian. Saat kalian nanti sekolah di Sentra-Sentra, kalian juga harus menghormati para guru, para pembimbing, dan kalian harus disiplin supaya apa yang menjadi mimpi kalian bisa terwujud,” tuturnya.
Sementara itu, Kepala Sentra Wyata Guna Feri Afrianto mengungkapkan, total ada 36 peserta didik dari usia anak maupun remaja yang akan mengikuti SKB. Delapan orang di antaranya penerima manfaat residensial dan penyandang disabilitas netra dari Sentra Wyata Guna. Kemudian ada 28 orang lainnya adalah calon peserta dari masyarakat di wilayah Kota Bandung.
“Manfaatkanlah kesempatan ini dengan sebaik-baiknya dan kami berharap bapak-ibu, anak-anak dan saudara-saudari semua yang sudah disambut di sini, kami berharap semua senang di sini,” jelasnya.
Feri menambahkan, pihaknya pun telah menjalin kerja sama dengan Balai Vokasional Kementerian Ketenagakerjaan agar setiap penerima manfaat mendapatkan pelatihan keterampilan secara gratis.
“Ada SKB dari sisi pendidikan, ada vokasional juga dari sisi untuk mendapatkan sertifikasi dan pekerjaan. Jadi semua kami optimalisasi, kerja sama dan networking,” tutupnya. (Adv)
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Sumber: Rilis Kemensos
Editor: Herlianto. A































