Jombang, Tugumalang.id – Rabithah Ma’ahid Islamiyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (RMI PBNU) menggelar Halaqah Pengasuh Pesantren Putri bertajuk “Peran Bu Nyai dalam Mewujudkan Pesantren Aman” di PP Annajiyah 1 Bu, Tambakberas, Jombang, Jumat (28/8/2026).
Acara yang dimulai pukul 14.00 WIB itu dihadiri lebih dari 350 peserta. Estimasi kehadiran mencapai sekitar 400 kiai dan nyai dari berbagai pesantren.
Ketua RMI PBNU KH Hodri Ariev mengatakan, halaqah bertema pesantren aman tersebut telah memasuki pertemuan ke-26. Menurutnya, titik tengah keberadaan pesantren tetap terletak pada sosok kiai dan nyai.
Hal itu disampaikan di tengah munculnya berbagai lembaga pendidikan yang serupa pesantren, tetapi tidak memiliki figur kiai atau nyai. Ia menyebut relasi santri dengan kiai menyerupai hubungan murid dengan mursyid yang menuntut kepatuhan dan ketundukan.
KH Hodri juga menyoroti fenomena banyaknya pihak yang ingin menyandang gelar kiai atau nyai karena posisi tersebut dianggap memiliki hak istimewa.
Untuk mewujudkan pesantren yang aman, ia menawarkan dua langkah. Pertama, keteladanan dalam menghormati yang lebih tua. Kedua, membangun sistem yang mendorong pencegahan tindak penganiayaan antarsesama.
Baca juga: Jadi Ketua PW RMI NU Jatim Periode 2024-2029, Gus Hakim Singgung Kekerasan di Pesantren
Ia mengutip hadis tentang kasih sayang kepada sesama makhluk di bumi. Menurutnya, pesan tersebut tidak boleh berhenti sebagai riwayat, tetapi harus diwujudkan melalui pembentukan satuan tugas yang menjaga santri putra maupun putri dari kekerasan.
Bu Nyai Dituntut Berintegritas dan Berilmu
Pemateri kedua, Nyai Dr. Hj. Dr. Lilik Nur Kholidah dari PP Al-Hikmah Purwoasri Kediri, mengangkat topik pengasuh yang berintegritas, berilmu, dan bersanad.
Ia menjelaskan, RMI berjalan sesuai kaidah Robithatul Ma’ahidil Islamiyyah. Dalam hal itu, pengasuh berperan sebagai mitra kerja kiai.
Karena itu, seorang bu nyai dituntut memiliki al-wa’yu diniyyah atau pemahaman keagamaan yang cemerlang, wa’yul ilmi, dan wa’yul wathoniyyah.
Nyai Lilik juga membagikan pengalaman ketika dahulu menolak amanah pengembangan pesantren. Ia kemudian ditegur seorang bu nyai senior bahwa seseorang yang tidak pernah keluar bergaul dengan pihak luar tidak akan pernah menyadari kekurangan dirinya sendiri.
Baca juga: PBNU Instruksikan Qunut Nazilah di Seluruh Indonesia Pasca AS-Israel Serang Iran
Menurutnya, idealnya kiai atau nyai menjadi pihak pertama yang mengetahui kondisi santrinya, termasuk kemampuan membaca Al-Qur’an.
Sementara itu, Nyai Hj. Nawal Nur Arafah, pengasuh Pondok Pesantren Al-Anwar 4 Sarang, membawakan materi tentang sistem pengasuhan berbasis maslahah.
Ia mengutip riwayat bahwa keunggulan Abu Bakar Ash-Shiddiq dibanding sahabat lain bukan terletak pada kuantitas ibadah shalat atau puasanya, melainkan pada kedalaman keimanan yang tertanam di hatinya.
Nyai Nawal menyayangkan hilangnya tradisi riyadhah sebagai kunci keberhasilan pengasuhan yang dahulu lazim diterapkan. Ia mendorong pendekatan bertahap dalam mendidik santri, sebagaimana Al-Qur’an tidak langsung memerintahkan shalat.
Ia juga menekankan pentingnya edukasi kesehatan mental sejak dini untuk mencegah budaya senioritas yang berpotensi berujung pada perundungan maupun kekerasan seksual.
Emil Dardak Soroti Ekonomi dan Perlindungan Pesantren
Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Dardak hadir sekitar pukul 16.00 WIB. Ia memaparkan capaian program ekonomi pesantren (ekontren) yang pernah diinisiasi Jawa Timur dan kini diperluas melalui skema koperasi pondok pesantren (kopontren).
Emil menegaskan dukungan pemerintah provinsi terhadap penguatan ekonomi, aspek kesehatan, serta perlindungan di lingkungan pesantren. Ia juga menyampaikan bahwa program RMI dinilai sudah baik dan tinggal memerlukan pengawalan implementasi.
Dalam sesi tanya jawab, peserta menyoroti keprihatinan atas banyaknya santri yang berorientasi semata pada aspek akademik formal dan minim niat mencari keberkahan. Persoalan kekerasan seksual juga disebut turut menjangkau tingkat pengurus pesantren.
Menanggapi hal itu, KH Hodri Ariev menekankan pentingnya mendorong hati santri untuk senantiasa bertaqarrub kepada Allah. Sebab, aturan semata rentan disiasati oleh santri yang lebih cerdik.
Nyai Lilik menambahkan bahwa masa berkhidmah santri merupakan momen untuk memperoleh hikmah dan keberkahan. Sementara Nyai Nawal menegaskan kelulusan santri tidak akan bermakna jika orientasi belajarnya sekadar mengejar ijazah.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Sumber: Rilis panitia muktamar/ Panji Nur Muhammad Sholih
editor: jatmiko






























