Jombang, Tugumalang.id – Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Savic Ali menilai pemimpin NU ke depan harus memiliki visi kuat, kapasitas kepemimpinan, serta kemampuan membaca dan merespons perubahan zaman.
Hal itu disampaikan Savic Ali saat ditemui di sela pelaksanaan Muktamar ke-35 NU di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, Kamis (27/8/2026).
Muktamar ke-35 NU berlangsung pada 27–31 Agustus 2026. Forum tersebut menjadi forum tertinggi organisasi untuk menentukan arah NU sekaligus memilih kepemimpinan periode berikutnya.
Menurut Savic, karakter visioner penting dimiliki siapa pun yang akan memimpin NU, baik Rais Aam maupun Ketua Umum PBNU.
Baca juga: Muktamar NU Mulai Bahas Tata Tertib Pemilihan Ketum PBNU
Ia menekankan, tantangan kepemimpinan NU ke depan tidak cukup dijawab dengan kemampuan menjalankan rutinitas organisasi. Pemimpin harus mampu melihat perubahan secara lebih luas dan menerjemahkannya menjadi gagasan yang relevan bagi kebutuhan warga NU.
“Orang yang punya visi, yang bisa menjaga pergerakan zaman, bisa merespons,” kata Savic.
Menurutnya, kemampuan membaca zaman harus diikuti kemampuan menghasilkan gagasan yang tepat. Karena itu, karakter visioner penting dalam diri calon pemimpin NU.
Savic mencontohkan Gus Dur yang memimpin dengan gagasan.
“Gus Dur itu kan memimpin dengan gagasan. Akhirnya banyak anak muda yang terinspirasi untuk belajar, berkembang, dan sebagainya,” ujarnya.
Baca juga: Rais Syuriyah PWNU Jateng Ingatkan Bahaya Politik Transaksional di Muktamar
Ia menilai gagasan yang kuat dapat menjadi energi bagi generasi muda NU. Pemimpin perlu memiliki pemikiran dan spirit yang mampu menginspirasi anak muda untuk terus belajar, berkembang, dan berani memasuki ruang-ruang baru.
Selain visi, Savic memandang kapasitas leadership sebagai aspek penting dalam kepemimpinan NU. Memimpin organisasi sebesar NU, menurutnya, bukan pekerjaan sederhana.
Struktur NU yang luas dan memiliki banyak tingkatan, badan otonom, lembaga, serta komunitas membuat pemimpin membutuhkan kemampuan mengonsolidasikan berbagai kepentingan tanpa kehilangan arah gerakan organisasi.
Savic mengatakan kapasitas tersebut semakin penting karena organisasi NU tidak sepenuhnya tersentralisasi. Karena itu, pemimpin tidak hanya dituntut mampu mengambil keputusan, tetapi juga menghubungkan berbagai gagasan dan menggerakkan kader di berbagai lapisan.
“Tidak mudah sebenarnya untuk leadership itu, apalagi NU itu kan sebenarnya desentralisasi, tidak terlalu mengenal hierarkis,” katanya.
Karena itu, ia berharap pemimpin NU periode mendatang tidak berhenti pada kemampuan administratif dan manajerial. Keduanya tetap diperlukan, tetapi harus ditopang visi, kepemimpinan, serta kemampuan membangun inspirasi di kalangan kader.
Dalam konteks Muktamar ke-35 NU, harapan tersebut relevan karena forum ini tidak hanya menentukan figur Rais Aam dan Ketua Umum PBNU periode 2026–2031. Muktamar juga merumuskan arah roadmap untuk lima tahun mendatang.
Dengan demikian, sosok pemimpin yang dibutuhkan NU bukan sekadar figur yang mampu mempertahankan jalannya organisasi. Pemimpin juga harus mampu membaca perubahan, merumuskan respons, menghubungkan gagasan, dan menggerakkan generasi berikutnya.
Bagi Savic, visi dan leadership menjadi modal penting agar NU tetap mampu menjawab tantangan zaman tanpa kehilangan daya geraknya.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Sumber: Rilis panitia muktamar/ Panji Nur Muhammad Sholih
editor: jatmiko































