Jombang, Tugumalang.id – Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Yahya Cholil Staquf menegaskan NU harus menjadi penyangga efektif dalam menghantarkan berbagai program pemerintah demi kemaslahatan rakyat.
Pernyataan itu disampaikan Gus Yahya, sapaan akrabnya, dalam sambutan pembukaan Muktamar ke-35 NU yang turut dihadiri Presiden Prabowo Subianto.
Gus Yahya menyebut Muktamar ke-35 NU sebagai muktamar pertama NU di abad kedua sejak organisasi tersebut didirikan sebagai ikhtiar untuk mengukuhkan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Ia melaporkan, muktamar dihadiri 2.232 delegasi dari berbagai pengurus wilayah dan pengurus cabang se-Indonesia. Acara tersebut juga disaksikan sekitar 50.000 warga Nahdliyin.
“Ini semua adalah petikan kecil saja dari keseluruhan landskap Nahdlatul Ulama yang begitu luas menyebar di seluruh Indonesia,” ujarnya.
Konstituensi Besar, Tanggung Jawab Besar
Mengutip hasil survei, Gus Yahya menyebut warga NU di Indonesia mencapai sekitar 57 persen dari total penduduk muslim Tanah Air. Dengan jumlah penduduk muslim sekitar 244 juta jiwa, ia menghitung populasi warga NU lebih dari 120 juta orang.
“Ini adalah konstituensi yang sangat besar dan sekaligus tanggung jawab yang luar biasa besar,” katanya.
Baca juga: Presiden Prabowo Buka Muktamar Ke-35 NU di Tambakberas
Ia menuturkan, setelah melalui perenungan panjang, kepengurusan PBNU sampai pada satu keyakinan. Jika organisasi ini ingin sungguh-sungguh mendatangkan manfaat dan maslahat nyata bagi warganya, tidak ada jalan lain selain menjalin kerja sama dengan pemerintah.
“Nahdlatul Ulama harus mampu menjadi penyangga yang menyumbang kelancaran penghantaran berbagai macam agenda dan program pemerintah untuk kemaslahatan rakyat agar sungguh-sungguh sampai kepada rakyat,” tegasnya.
Menurutnya, ke depan salah satu prinsip penting jamiah ini adalah kemampuan mengoordinasikan berbagai ikhtiar organisasi dengan pelaksanaan agenda dan program pemerintah.
Dengan begitu, kinerja dan kapasitas NU dapat terus dikembangkan agar menjadi penghantar manfaat yang lebih efektif bagi rakyat.
Selain kerja sama dengan negara, Gus Yahya menyoroti pentingnya NU menyangga kokohnya kehidupan berbangsa melalui semangat tolong-menolong antarwarga.
Ia mengutip mukadimah Qonun Asasi karya pendiri NU, Hadratussyekh KH Muhammad Hasyim Asy’ari, yang menyebut ta’awun atau tolong-menolong sebagai landasan bagi tegaknya tatanan kemasyarakatan.
Ia menjelaskan, dalam tatanan masyarakat yang dilandasi prinsip tolong-menolong, orientasi warga tidak lagi tertuju pada persoalan kekuasaan atau posisi sosial. Orientasinya adalah kerja sama demi kepentingan, kekuatan, dan kemuliaan bersama.
“Sangat tepat momentum muktamar ini kita jadikan titik tolak untuk ke depan berupaya memperkuat bangsa yang kita cintai ini dengan ta’awun, tolong-menolong di antara warga, bukan hanya warga Nahdlatul Ulama saja, tapi bersama segenap warga bangsa,” ujarnya.
Baca juga: Rais Syuriyah PWNU Jateng Ingatkan Bahaya Politik Transaksional di Muktamar
Dalam sambutan tersebut, Gus Yahya juga menyampaikan rasa terima kasih atas kehadiran Presiden Prabowo Subianto yang berkenan membuka secara resmi Muktamar ke-35 NU.
Ia sempat berseloroh mengenai keselarasan angka penyelenggaraan muktamar. Gus Yahya juga menyampaikan harapannya agar Muktamar ke-36 NU pada 2031 kelak kembali dibuka Presiden Prabowo.
Ia menegaskan, selama lima hari ke depan, 2.232 pimpinan NU se-Indonesia yang hadir sebagai muktamirin akan menentukan arah organisasi sekaligus arah langkah bagi lebih dari 120 juta warga Nahdlatul Ulama.
“Tidak boleh arah Nahdlatul Ulama ini tidak bersesuaian dengan arah bangsa dan negara,” tegasnya, seraya mengutip pernyataan KH Abdul Wahab Hasbullah bahwa Nahdlatul Ulama dan Indonesia tidak boleh dan tidak mungkin bisa dipisahkan.
Gus Yahya menutup sambutannya dengan ucapan terima kasih kepada Presiden, Wakil Presiden, dan seluruh hadirin atas kehadiran mereka pada majelis pembukaan Muktamar ke-35 NU. Ia sekaligus berdoa agar keberkahan menaungi seluruh rangkaian acara.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Sumber: Rilis Panitia Muktamar NU/Panji Nur Muhammad Sholih
editor: jatmiko































