Kota Batu, Tugumalang.id – BPBD Kota Batu menuntaskan penyisiran dan pembersihan 109 titik rawan di sepanjang alur hulu Daerah Aliran Sungai (DAS) Brantas. Langkah mitigasi ini dilakukan untuk mencegah terbentuknya bendung alam pemicu banjir bandang menjelang musim penghujan.
Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kota Batu Gatot Noegroho mengatakan, operasi penyisiran tim gabungan berlangsung sejak Juni hingga 12 Agustus 2026.
“Dari rangkaian kegiatan yang dimulai sejak Juni lalu, tim berhasil mengidentifikasi dan membersihkan 109 titik rawan penyumbatan. Ini merupakan langkah antisipasi menyeluruh sebelum curah hujan tinggi terjadi,” ujar Gatot, Selasa (25/8/2026).
Dalam pemetaan di lapangan, petugas mengamankan berbagai material yang berpotensi menyumbat aliran air. Di antaranya pohon tumbang, kayu melintang, rumpun bambu, material longsoran, hingga tumpukan sampah pertanian.
Sebanyak 109 titik rawan itu tersebar di kawasan Coban Petung, Pusung Lading, Sungai Krecek, Glagahwangi, Sumber Darmi, dan Sumber Brantas Pohon 8. Dalam penyisiran tersebut, petugas menemukan sejumlah pohon tumbang yang berpotensi menjadi bendung alam.
Baca juga: BPBD Kota Batu Ingatkan Pendaki Tak Buang Puntung Rokok di Gunung
Antisipasi Bendung Alam di Hulu
Gatot menegaskan, pengintensifan mitigasi di kawasan hulu merupakan pembelajaran dari tragedi banjir bandang di kawasan Bulukerto pada November 2021.
Kala itu, sisa material kayu akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) 2019 di lereng Gunung Arjuno-Welirang terbawa arus dan menumpuk di Pusung Lading hingga membentuk bendung alam. Ketika hujan berintensitas tinggi mengguyur, bendung alam tersebut jebol dan menerjang permukiman warga dengan membawa lumpur serta kayu.
“Kami tidak ingin kejadian 2021 terulang kembali. Jika di hulu terdapat sumbatan, risikonya akan sangat besar ketika debit air tiba-tiba naik. Oleh karena itu, kayu-kayu melintang kami potong dan sisihkan agar aliran air tetap lancar,” tegasnya.
Meski 109 titik rawan telah rampung disisir, BPBD Kota Batu menyatakan upaya mitigasi tidak berhenti di sini. Pemantauan berkala akan terus dilakukan karena kondisi geografis di hulu bersifat dinamis dan rentan berubah setelah hujan.
BPBD juga mengimbau masyarakat, khususnya yang bermukim di sepanjang bantaran sungai, tetap waspada. Warga diminta aktif melaporkan jika melihat adanya potensi hambatan pada aliran sungai.
“Harapannya risiko bencana dapat kita tekan sejak awal. Kami memilih berupaya melakukan mitigasi sebelum bencana terjadi, bukan sekadar merespons setelah kejadian,” pungkas Gatot.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
editor: jatmiko





























