Kota Batu, Tugumalang.id – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Batu bergerak cepat merespons terbitnya Peraturan Wali Kota Batu Nomor 20 Tahun 2026 tentang Rencana Aksi Daerah Percepatan Pencegahan dan Penurunan Stunting (P3S). Salah satunya dengan menggelar roadshow sosialisasi dan edukasi kepada kader Posyandu di 24 desa dan kelurahan se-Kota Batu.
Salah satu kegiatan digelar di Balai Desa Bumiaji, Rabu (29/7/2026). Sosialisasi dihadiri kader Posyandu, penyuluh KB, tenaga kesehatan puskesmas, Tim Pendamping Keluarga (TPK), kader kesehatan, PKK desa, jajaran pemerintah desa, serta Kepala Desa Bumiaji Edi Suyanto.
Berbagai tantangan dan kendala penanganan stunting di lapangan dibahas dalam kegiatan tersebut.
Saat ini, prevalensi stunting di Kota Batu tercatat 12,28 persen. Konsentrasi anak stunting terbanyak berada di Desa Oro-oro Ombo. Angka tersebut dinilai masih menjadi pekerjaan rumah karena rasio balita yang keluar dari status stunting dan munculnya kasus baru masih seimbang.
Baca juga: Antisipasi Hantavirus, Dinkes Kota Batu Perketat Pengawasan Sanitasi Hotel dan Tempat Wisata
Kepala Dinkes Kota Batu Aditya Prasaja mengatakan Perwali baru itu menjadi payung hukum sekaligus pijakan utama untuk memperkuat arah kebijakan penanganan stunting. Fokusnya tidak lagi sekadar menekan angka stunting, tetapi bergeser pada upaya pencegahan sejak dini.
“Lewat sosialisasi ini, kami ingin menyelaraskan strategi daerah dengan kebijakan pusat. Sekaligus mengurai benang permasalahan yang ada di lapangan dari para kader Posyandu di desa,” jelas Aditya.
Berdasarkan analisis situasi di Kota Batu, lebih dari 50 persen kasus stunting baru justru dialami bayi yang lahir dalam kondisi sehat. Kondisi itu terjadi karena orang tua kerap merasa bayinya tidak bermasalah sehingga kurang cermat memantau pertumbuhan anak.
“Akhirnya kemudian dalam prosesnya, orang tua tidak lagi cermat memantau grafik pertumbuhan bulanan anak. Sampai kemudian tiba-tiba nanti ada perlambatan tumbuh kembang dan jatuh ke status stunting,” bebernya.
Baca juga: Dinkes Kota Batu Jemput Bola Lakukan Skrining di Kantong-kantong TBC
Karena itu, Dinkes meminta kader Posyandu lebih aktif mengajak orang tua membaca grafik tumbuh kembang dan status gizi balita setiap bulan. Langkah tersebut diharapkan membuat intervensi dapat dilakukan lebih cepat saat grafik pertumbuhan anak mulai melambat.
“Ketika sudah bisa baca grafik tumbuh kembang anak, orang tua bisa paham tumbuh kembang anaknya. Jadi biar tidak kaget lagi nanti tiba-tiba ada vonis anaknya stunting. Jadi proses itu sama-sama tahu,” ujarnya.
Kolaborasi Pemdes dan Dinkes Jadi Kunci
Selain edukasi, penanganan stunting juga membutuhkan sinergi lintas sektor. Dinkes menilai kolaborasi dengan pemerintah desa menjadi kunci untuk mengatasi berbagai kendala di lapangan.
Aditya mencontohkan tingginya beban pelayanan di sejumlah Posyandu. Di Desa Bumiaji, misalnya, terdapat Posyandu dengan sasaran 100 hingga 150 balita. Ketimpangan antara jumlah sasaran dan kader membuat pelayanan pengukuran maupun edukasi Komunikasi, Informasi, dan Edukasi (KIE) belum optimal.
Untuk mengatasinya, Dinkes berencana menata ulang dan memecah Posyandu yang memiliki sasaran terlalu banyak. Pemerintah desa diharapkan berperan aktif merekrut kader baru yang selanjutnya akan mendapat pelatihan dari Dinkes.
Merespons hal itu, Kepala Desa Bumiaji Edi Suyanto menegaskan kesiapan pemerintah desa mendukung percepatan penurunan stunting.
“Kami sangat terbuka dan mendukung penuh program ini. Apapun permasalahan yang menyangkut stunting, desa siap mengawal penyelesaiannya,” kata Edi.
Sebagai bentuk dukungan, pemerintah desa akan menyediakan layanan antar-jemput menggunakan armada desa untuk menjangkau masyarakat yang enggan atau kesulitan datang ke Posyandu.
“Yang paling sulit itu kan orang tua yang tidak mau berdasarkan ‘keyakinan’ dalam tanda kutip ya. Itu yang sulit, tapi nanti kita dari desa juga akan bantu dengan menerjunkan petugas,” katanya.
Melalui Perwali P3S 2026 dan penguatan kolaborasi lintas sektor tersebut, Kota Batu berupaya memperkuat strategi pencegahan stunting demi mewujudkan generasi emas 2045.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
editor: jatmiko


























