Malang, Tugumalag.id – Rencana pengoperasian Koridor II Bus Trans Jatim di Malang Raya mendapat dukungan dari Anggota DPRD Kota Malang Rendra Masdrajad Safaat. Namun, ia mengingatkan agar kehadiran transportasi massal tersebut tidak mengorbankan angkutan kota (angkot) yang selama ini melayani masyarakat.
Menurut Rendra, pengembangan transportasi umum merupakan langkah yang perlu didukung untuk menghadirkan layanan yang lebih modern, nyaman, dan terintegrasi. Karena itu, kehadiran Trans Jatim harus menjadi pelengkap, bukan pengganti angkot.
“Kami mendukung hadirnya Koridor II Trans Jatim karena ini menjadi bagian dari upaya meningkatkan kualitas transportasi publik di Kota Malang. Masyarakat tentu membutuhkan layanan transportasi yang semakin baik dan mudah diakses,” ujarnya.
Baca juga: Hari Pertama Sekolah, Rendra Masdrajad Safaat Ajak Ayah Lebih Aktif Dampingi Anak
Kajian Teknis Ditargetkan Rampung Oktober
Rencana pengembangan Koridor II Trans Jatim saat ini terus dimatangkan melalui koordinasi lintas instansi. Pembahasan dilakukan dalam rapat yang dihadiri Komisi C DPRD Kota Malang, Dinas Perhubungan Kota Malang, serta UPT Pengelola Prasarana Perhubungan Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (P3 LLAJ) Malang.
Dalam rapat tersebut disampaikan bahwa kajian teknis ditargetkan selesai pada Oktober 2026. Dengan demikian, operasional Koridor II Trans Jatim dipastikan dapat berjalan pada tahun ini.
Angkot Diusulkan Menjadi Feeder
Rendra menilai pemerintah perlu memastikan pengoperasian koridor baru tidak memunculkan persaingan antarmoda transportasi. Menurutnya, sistem transportasi yang baik justru mampu mengintegrasikan seluruh moda yang ada.
“Trans Jatim jangan dipandang sebagai pengganti angkot, tetapi bagaimana keduanya bisa saling melengkapi. Sistem transportasi yang baik adalah sistem yang mampu memberikan nilai tambah bagi seluruh moda transportasi,” katanya.
Baca juga: Peringati Harganas, Rendra Masdrajad Safaat Fasilitasi Edukasi Ketahanan Keluarga bagi Puluhan Pasangan Suami Istri
Sebagai solusi, ia mengusulkan angkot difungsikan sebagai feeder atau angkutan pengumpan menuju koridor utama Trans Jatim. Selain itu, pemerintah juga diminta segera merealisasikan program angkutan pelajar agar sopir angkot tetap memiliki peluang usaha di tengah transformasi transportasi publik.
“Angkot bisa diarahkan menjadi feeder Trans Jatim sehingga tetap memiliki peran dalam sistem transportasi yang terintegrasi. Di sisi lain, program angkutan pelajar juga harus segera direalisasikan agar kesejahteraan para sopir angkot tetap terjaga,” jelasnya.
Menurut Rendra, skema tersebut lebih berkelanjutan dibanding membiarkan munculnya persaingan antarmoda. Masyarakat akan memperoleh layanan transportasi yang lebih baik, sementara sopir angkot tetap memiliki kepastian mata pencaharian.
“Harapan kami, pengoperasian Koridor II Trans Jatim bisa berjalan dengan baik tanpa menimbulkan gesekan di lapangan. Kalau pemerintah mampu menghadirkan solusi yang konkret bagi sopir angkot, saya yakin transformasi transportasi di Kota Malang akan mendapat dukungan dari semua pihak,” tutup Rendra Masdrajad Safaat.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Sumber: Rilis Rendra Masdrajad Safaat
editor: jatmiko























