MALANG, Tugumalang.id – Jakarta di pertengahan tahun 1974 menjadi momen yang tak terlupakan bagi seorang Surya Burhanuddin.
Pemuda yang baru saja menggenggam gelar Bachelor of Engineering (BE) yang memiliki harapan-harapan besar di tangan. Sedari mahasiswa, kerja keras menjadi bagian kehidupan Surya yang tak terpisahkan.
Dengan mimpi yang dirajut, ia menjalaninya dengan langkah yang mantap meski sederhana. Kerja keras dan konsistensi inilah yang membuatnya mendapat kepercayaan dan berbagai pekerjaan, mulai dari menggambar rumah, menghitung konstruksi, hingga menjadi asisten dosen.
Tetapi sebagai seorang anak muda, di dalam hatinya Surya ingin berada di tempat yang lebih pasti. Berada di sebuah lembaga besar yang dapat merajut mimpi di masa depan.
Takdir Perjalanan Bertemu Pupuk Sriwidjaja
Sebagaimana anak muda yang ingin menggapai cita-citanya, surat kabar menjadi wahana untuk mencari informasi. Lembar demi lembar surat kabar disimak, di antara berita yang tersaji saat itu, pandangan Surya tertuju pada satu baris yang menggetarkan hatinya.
Baca juga: Buku 50 Tahun Perjalanan Kasih Surya & Sjenny Bagian 1: Perjalanan Takdir dan Pohon Cinta
PT Pupuk Sriwidjaja-Proyek Sarana Distribusi Membutuhkan BE Sipil:, mungkin bagi sebagian orang kalimat ini biasa saja. Namun, bagi Surya kalimat tersebut seperti sebuah harapan.
Bagi seorang anak muda jurusan teknik sipil di masa itu, PT Pupuk Sriwidjaja atau yang akrab dengan Pusri bukanlah sekadar perusahaan. Melainkan lambang dari masa depan, yang membuat Surya tak menunda-nunda waktu untuk segera mengirim surat lamaran.
Semua berkas persyaratan dipersiapkan dengan baik dan segera ia kirim ke alamat Jalan Letjen S.Parman No.104 , Jakarta Barat.
Setelah itu hari-hari Surya diliputi dengan kecemasan dan deg-degan menunggu kabar dari Pusri. Hingga suatu hari kabar baik itu menghampirinya, ketika tukang pos mengetuk pintu rumahnya di pagi hari, mengirimkan amlop berkop PT Pupuk Sriwidjaja dengan perihal panggilan tes seleksi.
Begitu bahagianya hati Surya kala itu, sebaba di zaman itu belum seperti sekarang, pesan dapat dikirim lewat pesan elektronik maupun aplikasi lain yang lebih cepat.

Tetapi satu hal yang berkesan bagi Surya, di momen menunggu surat balasan itulah ia memaknai kata sabar.
:Semua kabar datang lewat surat dan setiap surat selalu membawa harapan. Hari-hari selanjutnya adalah masa yang dipenuhi berbagai persiapan untuk mengikuti seleksi. Kesempatan tidak datang dua kali, maka harus mempersiapkan segalanya dengan benar,: ujar Surya.
Rangkaian tes pun dilalui oleh Surya, mulai ujian tertulis, tes kesehatan, dan akhirnya wawancara. Di setiap momen tersebut, ia masih mengingatnya dengan jelas. Salah satunya momen wawancara di ruang yang sederhana namun berwibawa.
Di momen itulah, Surya bertemu dengan Kepala Proyek Sarana Distribusi, Ir. Nanang Susetyo Soetadji yang kelak sangat berpengaruh dalam perjalanan kariernya.
Wawancara yang berlangsung hangat dan lebih seperti percakapan dua orang yang tengah menilai kesungguhan satu sama lain.
Waktu demi waktu berlalu, hingga tiba di pertengahan September 1974. Kabar baik itu datang juga, Surya resmi diterima menjadi bagian dari PT Pupuk Sriwidjaja dan ditempatkan di Unit Kerja Proyek Sarana Distribusi (PSD).
Kabar yang membuatnya begitu bahagia setelah menunggu dengan sabar dan harap-harap cemas.
Dia bahagia, perasaan yang tak bisa dilukiskan dengan bahasa apapun, dia tahu bahwa takdir yang dinantikan dari upaya-upaya baik yang telah dilakukan, akhirnya datang juga.
Hal yang lebih menggetarkannya bahwa dari sekian banyak pelamar dengan latar belakang Teknik Sipil hanya satu orang yang diterima saat itu, yakni Surya Burhanuddin.
Ia pun tersenyum, menunduk syukur. Kalimat alhamdulillah dan puji syukur kepada kuasa Sang Ilahi, terucap dari bibirnya.
Kisah Surya ini memberikan keteladanan tentang makna dari kata konsisten dalam mengejar cita-cita. Tidak ada hasil yang mengkhianati usaha, barangkali demikian pesan yang disampaikan oleh Surya di bagian ini.
Tidak perlu tergesa-gesa, usaha mengejar cita-cita dapat dilakukan dengan langkah sederhana namun konsisten.
Di sanalah ia belajar tentang kerja keras, tentang arti kepercayaan, tentang cara membangun sesuatu dari nol, tentang bagaimana memimpin, dan yang terpenting, tentang bagaimana perjalanan hidup bukan hanya sekadar mencari rezeki tetapi menemukan makna.
Menapaki Jalannya Sendiri
Sementara di sisi kehidupan yang lain, Sjenny menapaki karier di dunia tarik suara bersama dua adiknya, Trio Djamain Sister. Saat itu nama trio ini semakin di kenal oleh khalayak umum.
Trio Djamain Sister ketika itu akan merilis album piringan hitam, Qasidah Modern. Mereka menyanyikan lagu-lagu religi dan nasional dengan harmoni yang khas, termasuk lagu Mars Musabaqah Tilawatil Quran yang hingga puluhan tahun kemudian masih bergaung di setiap perayaan kompetisi akbar Musabaqah Tilawatil Quran.
Di saat Surya mulai menapaki dunia kerja di bidang industri, dan Sjenny meniti karier di bidang seni yang saat itu mulai menanjak. Perjalanan dua insan ini seperti perjalanan pararel yang berjalan beriringan, berbeda dunia, namun satu arah.
Kini, ketika Surya menengok ke belakang kembali ke tahun 1974 sebagai perjalanan titik balik yang meeguhkan jalan hidupnya.
Baca juga: Bersejarah, Buku Eksklusif untuk Peringati 50 Tahun Pernikahan Surya dan Sjenny Telah Terbit
Dari sekian banyak jalan hidup yang mungkin ia tempuh, takdir menuntunnya ke satu tempat, PT Pupuk Sriwidjaja, perusahaan yang kelak menjadi rumah pertamanya selama puluhan tahun.
Di sanalah Surya belajar tentang makna kerja keras, tentang arti kepercayaan, tentang cara membangun sesuatu dari nol, tentang bagaimana memimpin dan yang yang terpenting, tentang bagaimana perjalanan hidup bukan hanya sekadar mencari rezeki, tetapi menemukan makna.
Kisah Surya dan Sjenny membuat orang belajar tentang bagaimana menerima cara Tuhan menulis kisah manusia. Bukan dengan garis lurus yang mudah ditebak, tetapi lewat persimpangan dan perjalanan, di mana setiap langkah kecil yang dijalani dengan tulus, akhirnya akan dipertemukan dengan takdir yang terbaik.
Tentang Buku 50 Tahun Perjalanan Kasih Surya & Sjenny (1976-2026)
Buku ini memberi makna dari peristiwa menuju renungan kehidupan ini. Tidak hanya melulu berbicara tentang kisah pribadi, seseorang, tapi lebih dari itu juga memberikan makna inspirasi dan motivasi yang luas tentang:
1. Daya juang dalam bekerja selama 32 tahun untuk meningkatkan nilai diri sendiri dan nilai tempat bekerja, dalam skala ruang wilayah Nusantara dan 5 benua dunia.
2. Bagaimana mendidik generasi muda sebagai aset dengan melakukan investasi global untuk menjadikan aset yang bernilai global.
3. Implementasi rasa syukur dengan memberi makna bagi kehidupan orang lain, melalui kedermawanan menuntun lebih dari 700 generasi muda Indonesia, menimba ilmu global lintas negara menembus langit menggapai dunia.
Buku ini secara tersurat memiliki 356 halaman, namun secara tersirat memiliki ribuan halaman makna. Jika pembaca ingin memiliki buku inspiratif ini dapat menghubungi +6017-290-9680 (Subur).
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
editor: jatmiko























