Kota Batu, Tugumalang.id – Kepala Dinas Pendidikan Kota Batu Alfi Nurhidayat memastikan pelaksanaan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) tahun ajaran 2026/2027 di Kota Batu bebas dari praktik perpeloncoan. Komitmen itu diwujudkan melalui penerapan konsep SAE yang selaras dengan visi dan misi daerah.
Alfi menegaskan, MPLS harus menjadi momentum membangun fondasi karakter siswa, bukan sekadar agenda seremonial tahunan maupun ajang perpeloncoan. Untuk itu, Disdik Kota Batu menerapkan konsep SAE, yakni Santun, Aktif, dan Edukatif.
“Pelaksanaan MPLS di Kota Batu harus benar-benar menjadi momentum membangun pondasi karakter peserta didik baru. Kami ingin kegiatan ini berdampak positif, menyenangkan, sekaligus jauh dari praktik-praktik yang tidak mendidik,” ungkap Alfi, Jumat (3/7/2026).
Baca juga: Upgrade Kompetensi Guru, Dinas Pendidikan Kota Batu Perluas Digitalisasi Pendidikan di Jenjang SD
Konsep SAE Jadi Landasan MPLS
Alfi menjelaskan, aspek Santun diwujudkan melalui pembiasaan etika, sopan santun, penghormatan kepada guru dan orang tua, serta penguatan budaya saling menghargai. Sementara aspek Aktif diarahkan agar siswa berani mengenali potensi diri, aktif bertanya, serta antusias mengenal organisasi dan kegiatan ekstrakurikuler sejak dini.
Sementara itu, aspek Edukatif, kata Alfi, menjadi ruh utama seluruh rangkaian kegiatan MPLS. Setiap materi maupun permainan yang diberikan harus memiliki nilai pembelajaran yang jelas tanpa menyisipkan unsur intimidasi.
“Kami menegaskan tidak boleh ada aktivitas yang mempermalukan siswa. Semua kegiatan harus memiliki nilai pendidikan dan mampu menumbuhkan rasa percaya diri peserta didik,” tegasnya.
Perkuat Literasi Digital dan Kesehatan Mental
Selain penguatan karakter, Disdik Kota Batu juga mendorong sekolah menyisipkan materi yang relevan dengan tantangan zaman. Di antaranya pengenalan literasi digital, edukasi pencegahan cyberbullying, hingga pemanfaatan platform pembelajaran digital sekolah secara bijak.
“Anak-anak sekarang hidup di era digital. Karena itu, mereka perlu dibekali bagaimana menggunakan teknologi secara positif, produktif, dan bertanggung jawab sejak hari pertama masuk sekolah,” imbuhnya.
Isu kesehatan mental peserta didik selama masa transisi ke jenjang pendidikan baru juga menjadi perhatian. Materi mengenai pencegahan perundungan (bullying), intoleransi, kekerasan seksual, hingga pentingnya menjaga kebersihan lingkungan sekolah diharapkan menjadi bagian wajib dalam MPLS.
“Orientasi sekolah harus menjadi ruang yang aman bagi siswa baru. Mereka harus merasa diterima, nyaman, dan memiliki semangat tinggi untuk belajar,” tutur Alfi.
Baca juga: Dinas Pendidikan Kota Batu Dorong Dapur MBG Serap Hasil Tani dan Ternak Lokal
Guru dan OSIS Diminta Jadi Pendamping
Karena itu, Alfi menginstruksikan seluruh panitia MPLS, baik guru maupun pengurus OSIS, agar memosisikan diri sebagai pendamping dan sahabat bagi siswa baru. Seluruh materi juga wajib mengacu pada pedoman resmi Kementerian Pendidikan dengan menghapus penugasan yang dinilai membebani siswa maupun orang tua.
“Kakak-kakak pendamping juga harus menjadi pembimbing, bukan seolah menjadi penguasa. Tidak boleh lagi ada tugas membawa barang-barang aneh atau aktivitas yang menyulitkan orang tua. MPLS harus serius tapi tetap menyenangkan,” cetusnya.
Selain itu, pada akhir masa orientasi sekolah diminta menyediakan ruang refleksi agar peserta didik dapat membagikan pengalaman positif yang mereka peroleh. Alfi berharap skema tersebut mampu mencetak generasi muda Kota Batu yang tidak hanya cerdas, tetapi juga berakhlak mulia, adaptif, dan peduli lingkungan.
“Dengan komitmen bersama antara sekolah, Dinas Pendidikan, dan dukungan orang tua, kami ingin MPLS menjadi gerbang lahirnya generasi Kota Batu yang cerdas, berkarakter, serta siap berkontribusi bagi pembangunan daerah sesuai semangat mBatu SAE,” pungkas Alfi.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
editor: jatmiko
























