Malang, Tugumalang.id – Gabungan Pengusaha Makan Bergizi Indonesia (Gapembi) Malang Raya mulai ketar ketir dengan adanya wacana dapur MBG pindah ke kantin sekolah. Hitung hitungan modal pembangunan SPPG yang belum kembali mulai mengemuka.
Diketahui, kabar soal Badan Gizi Nasional (BGN) membuka peluang kantin sekolah bisa menjadi alternatif dapur MBG (Makan Bergizi Gratis) tengah menjadi perbincangan hangat.
Ketua Gapembi Malang Raya, Djoni Sudjatmoko mengatakan bahwa dapur MBG pindah ke kantin sekolah adalah skema yang tidak logis. Menurutnya, negara tidak punya uang untuk memoles kantin sekolah menjadi dapur MBG berstandar higienis.
Djoni menyebut, setiap kantin sekolah harus mengeluarkan biaya sekitar Rp 1,5 miliar untuk membuat dapur berstandar higienis, seperti SPPG yang sudah beroperasi saat ini. Jika di Indonesia ada 400 ribu sekolah sasaran MBG, maka diperkirakan negara harus menggelontor biaya sekitar Rp 600 triliun.
“Terus negara harus mengganti duitnya mitra yang sudah membangun SPPG? Ada 27 ribu mitra. Dari mana duitnya. Ini kan gak logis,” kata Djoni.
Baca juga: Menko Pangan Dorong Gapembi Jatim Perkuat Pembinaan SPPG
Sementara itu, ia mengaku setuju jika skema kantin sekolah jadi dapur MBG, diterapkan di sekolah sekolah terpencil atau wilayah 3T (Tertinggal, Terdepan dan Terluar).
Di sisi lain, dia juga menegaskan bahwa operasional SPPG di daerah saat ini sudah berjalan bagus. Prosentase keracunan akibat makanan MBG menurutnya juga telah turun drastis.
“Bahkan gak ada satupun yang meninggal karena keracunan, gak ada yang catat atau sakit dan gak sembuh karena keracunan MBG,” tegasnya.
Dengan lantang ia menyebut program MBG adalah program yang bagus. Selain untuk meningkatkan asupan gizi generasi, juga memberikan dampak pergerakan ekonomi di berbagai rantai pemasok pangan.
Untuk itu, dia secara pribadi mengaku tergerak menjadi salah satu mitra pertama yang membangun SPPG di Malang. Meski menyebut modalnya mencapai Rp 2,5 milyar per SPPG, dengan tegas ia menyatakan mau bermitra karena Merah Putih.
Namun di tengah polemik program MBG, mulai dari Kepala BGN jadi tersangka korupsi, wacana kantin sekolah bisa jadi dapur MBG hingga demo mahasiswa menuntut hentikan MBG, Djoni mengklaim modal biaya membangun SPPG masih lama kembalinya.
Sebagai pebisnis, ia menceritakan bahwa bisnis membangun lapangan padel lebih cepat untungnya. Belum setahun sudah kembali modal. Lalu bisnis properti, profit 200 persen hanya perlu waktu 2 tahun.
“Kalau ini (SPPG) dibilang menguntungkan, duit modal kembali itu lo masih 2 tahun lebih. Modal kami 1 dapur itu Rp 2,5 milyar,” ungkapnya.
Baru baru ini, Djoni menginisiasi gerakan aksi damai bertajuk Apel Akbar dan Senam Bersama di Bundaran Alun Alun Tugu Kota Malang pada Sabtu (20/6/2026). Ribuan simpatisan MBG digerakkan ikut acara itu. Bahkan juga dihadiri Anggota DPR RI, Moreno Soeprapto hingga Wakil Ketua DPRD Kota Malang, Rimzah. Mereka dari Gerindra.
Gerakan itu membawa misi memahamkan masyarakat bahwa dampak program MBG sudah dirasakan penerima manfaat, petani, peternak, pedagang kecil, UMKM hingga relawan.
Aksi itu viral di media sosial. Namun banyak yang menghujat. Sebab, gerakan itu ditengarai sebagai tandingan 2 aksi mahasiswa di Malang pada 15 dan 17 Juni 2026 yang salah satu tuntutannya yakni menghentikan program MBG.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
editor: jatmiko


















