MALANG, Tugumalang.id – Nisa, Hanifah, dan Hussein, tiga anak asal Desa Kebobang, Kecamatan Wonosari, Kabupaten Malang, telah tinggal bersama budhenya selama dua tahun terakhir. Di usia yang masih belia, mereka harus menerima kenyataan pahit kehilangan kedua orang tua.
Ayah mereka meninggal dunia karena penyakit lambung sekitar tiga tahun lalu. Setahun berselang, sang ibu menyusul setelah berjuang melawan kanker payudara yang telah lama dideritanya.
Pada Minggu (8/3/2026), tiga kakak beradik tersebut menerima santunan dari Komisaris Utama PT Anugerah Citra Abadi (ACA), Iwan Kurniawan. Selain menerima bantuan uang tunai, mereka juga mendapatkan mainan.
Baca juga: Terus Tebar Kebaikan, Komut PT ACA Akan Beri Beasiswa untuk 1.000 Anak Berprestasi
Santunan dalam Kegiatan Pekan Islami
Tahun ini menjadi tahun ketiga Nisa, Hanifah, dan Hussein mengikuti kegiatan Pekan Islami yang digelar PT ACA. Dalam kesempatan tersebut, Iwan Kurniawan berpesan agar mereka kembali hadir pada kegiatan serupa di tahun mendatang.
“Ingatkan budhe supaya tahun depan mengantar ke sini lagi,” kata Iwan.
Saat ini Nisa duduk di bangku kelas 3 sekolah dasar. Sementara adiknya, Hussein, masih berusia lima tahun.

Tinggal Bersama Budhe di Desa Kebobang
Ketiga anak tersebut tinggal bersama budhe mereka, Dwi Astuti Setyowati, di Desa Kebobang, Kecamatan Wonosari, Kabupaten Malang. Sementara itu, tiga kakak mereka yang lain tetap tinggal di Surabaya untuk melanjutkan pendidikan.
Kepada wartawan, Dwi menceritakan awal mula ketiga keponakannya harus kehilangan orang tua. Ia merupakan kakak dari ibu kandung Nisa, Hanifah, dan Hussein.
“Awalnya mereka tinggal di Surabaya. Ayahnya sakit lambung, lalu tidak tertolong dan meninggal dunia,” kata Dwi.
Ayah mereka, Sudi Abbas, sehari-hari bekerja mengumpulkan barang-barang bekas untuk dijual kembali.
Saat Sudi meninggal dunia di rumah sakit, istrinya, Cici Indrayati, sedang menjalani perawatan kemoterapi di Pasuruan. Kondisi tersebut membuat Cici dan anak bungsunya yang saat itu masih berusia dua tahun tidak dapat mendampingi Sudi pada saat-saat terakhir.
“Waktu itu, istrinya sudah dalam keadaan sakit, kena kanker payudara,” ujar Dwi.
Setahun kemudian, Cici menyusul suaminya setelah kanker yang dideritanya semakin memburuk.
Baca juga: 19 Tahun Perjalanan Pekan Islami, PT ACA Salurkan Santunan ke Ratusan Ribu Anak Yatim di Malang
Perlahan Bangkit dan Kembali Berprestasi
Sejak saat itu, Nisa, Hanifah, dan Hussein tinggal bersama Dwi di Desa Kebobang. Sementara tiga kakak mereka tetap melanjutkan pendidikan di Surabaya.
Kakak tertua kini telah menempuh bangku kuliah sekaligus bekerja untuk memenuhi kebutuhannya sendiri. Dua kakak lainnya mendapat bantuan dari keluarga pihak ayah.
“Awalnya tidak mudah karena mereka terbiasa dengan orang tua,” kata Dwi.
Seiring waktu, ketiga anak tersebut mulai beradaptasi dan menjalani aktivitas seperti anak-anak lainnya. Mereka bersekolah, mengaji, serta mengikuti les.
Dwi juga mengungkapkan bahwa kemampuan belajar mereka terus berkembang. Dari yang sebelumnya belum bisa membaca dan menulis, kini mereka sudah mampu melakukannya dengan baik.
“Bahkan mereka dapat prestasi di sekolah dan di tempat mengaji,” imbuh Dwi.
Ia berharap ketiga keponakannya kelak dapat tumbuh menjadi pribadi yang sukses, berbakti kepada orang tua, serta tidak pernah lupa mendoakan kedua orang tua mereka yang telah meninggal dunia.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Reporter: Aisyah Nawangsari Putri
redaktur: jatmiko





























