Tugumalang.id – Film Like & Share terang-terangan membahas isu sensitif yang kerap terjadi di Indonesia, yakni kekerasan seksual terhadap perempuan, terutama remaja. Termasuk yang termasuk genre drama ini direkap dalam story telling sekaligus sinematografi yang menarik.
Film gubahan sutradara Gina S. Noer ini tidak hanya dapat dinikmati sebagai tontonan belaka, tetapi juga untuk mempelajari pesan-pesan penting di dalamnya.
Film yang dirilis di Netflix pada tahun 2022 itu mengangkat topik permasalahan remaja, seperti percintaan, mencari jati diri, pergaulan bebas, media sosial, dan kekerasan seksual.
Baca Juga: 5 Film dengan Plot Twist Paling Mengejutkan yang Bikin Melongo
Film ini menceritakan tentang dua gadis SMA bernama Lisa (Aurora Ribero) dan Sarah (Arawinda Kirana) yang bersahabat sejak kecil dan sering menghabiskan waktu bersama, salah satunya adalah membuat video Youtube tentang food ASMR.
Kedua sahabat ini memiliki latar belakang dan masalah yang berbeda. Lisa yang kerap memiliki masalah di rumah, terlebih dengan ibunya yang serba menuntut. Membuat dirinya merasa tidak betah di rumah dan menutup diri.
Kemudian Sarah yang yatim piatu, hidup berdua bersama kakaknya Ario (Kevin Julio) yang jarang memiliki waktu untuk mengobrol karena sibuk.
Baca Juga: 10 Rekomendasi Film Live Action Disney untuk Menemani Libur Lebaran
Permasalahan kedua remaja ini mulai berkembang ketika Lisa terobsesi menonton video pornografi yang membuat hubungan keduanya renggang. Di satu sisi, Sarah bertemu dengan seorang laki-laki bernama Devan (Jerome Kurnia).
Film Like & Share memberikan banyak pesan kepada para penonton dengan masalah kasus kekerasan seksual dan pelecehan seksual yang sering terjadi di lingkungan sekitar, baik di dalam keluarga, tempat tinggal, kantor, sekolah, bahkan perguruan tinggi.
Memahami Trauma Kekerasan Seksual
Trauma kekerasan seksual merupakan kondisi psikologis yang muncul sebagai akibat dari pengalaman kekerasan atau pelecehan seksual.
Trauma ini tidak hanya menyerang fisik korban, namun juga dapat mengganggu kesehatan mental dan emosional dalam jangka panjang.
Salah satu gejalanya meliputi perasaan depresi, cemas, takut, malu, marah, hingga kehilangan percaya diri dan kepercayaan pada orang lain.
Dikutip dari Dr. Rizal Fadli, dalam beberapa kasus, trauma ini juga dapat memicu Sindrom Trauma Pemerkosaan atau Rape Trauma Syndrome (RTS) dan Post Traumatic Disorder (PTSD).
Di dalam film Like & Share, si korban yakni Sarah jatuh pasrah ketika Lisa meyakinkan dirinya bahwa kasus revenge porn yang terjadi padanya dapat diperjuangkan.
Tetapi, Sarah hanya menunjukkan keputusasaan, kehilangan harapan untuk bertahan hidup, seolah-olah merasa bahwa hidupnya telah berakhir.
Keputusasaan Sarah mencerminkan realita yang sering terjadi di masyarakat, di mana korban tidak hanya harus memikul trauma, tetapi juga menghadapi tekanan sosial, rasa malu, dan ketakutan akan stigma.
Rasa bersalah yang tak seharusnya dipikul, serta ketakutan akan tidak dipercayai oleh orang-orang terdekat, menjadi beban mental yang sangat berat.
Dalam konteks revenge porn, korban sering merasa bahwa citra dirinya telah rusak selamanya. Membuat mereka memilih diam, menjauh, bahkan tidak jarang memikirkan untuk mengakhiri hidup.
Namun, di titik inilah film Like & Share mengangkat peran penting solidaritas dan dukungan antarsesama. Meski awalnya hubungan Lisa dan Sarah merenggang, keberanian Lisa untuk mendorong Sarah menghadapi ketakutannya membuka ruang perlawanan.
Perjuangan yang muncul dari rasa peduli dan empati menjadi inti dari pesan film ini: bahwa penyintas tidak seharusnya menghadapi trauma sendirian, dan bahwa suara yang membela mereka bisa menjadi titik balik menuju pemulihan.
Film ini tidak menyederhanakan proses penyembuhan, melainkan justru menampilkan kompleksitasnya. Pada akhirnya, Like & Share bukan hanya film yang menceritakan tentang remaja dan media sosial, tetapi menjadi potret nyata tentang bagaimana trauma kekerasan seksual dapat mengakar dalam kehidupan korban.
Trauma ini bukan sekadar luka yang membekas sementara, melainkan sesuatu yang mampu mempengaruhi identitas, hubungan sosial, bahkan keinginan seseorang untuk terus hidup.
Melalui karakter Sarah, penonton diajak menyelami kedalaman rasa sakit yang tak terlihat. Betapa tubuh dan ruang pribadi yang dilanggar tak hanya meninggalkan ketakutan, tetapi juga membuat korban merasa hancur sebagai individu.
Namun, film ini juga menunjukkan bahwa trauma bukan akhir dari segalanya. Ketika seseorang memilih untuk percaya, ketika satu tangan terulur untuk membantu, ketika suara korban didengar tanpa dihakimi, di sanalah harapan mulai tumbuh.
Like & Share mengajarkan bahwa penyembuhan trauma kekerasan seksual bukan hanya tugas korban, melainkan tanggung jawab kolektif kita semua.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Penulis: Keshia Putri Susetyo (Magang)
Editor: Herlianto. A
























