Minggu, Agustus 30, 2026
Tugumalang.id
No Result
View All Result
  • Home
  • Tugu SehatNEW
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis & Properti
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Advertorial
  • Home
  • Tugu SehatNEW
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis & Properti
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Advertorial
No Result
View All Result
Tugu Malang ID
No Result
View All Result
Home Tips

Permissive Parenting VS Gentle Parenting, Hampir Sama tapi Hasilkan Dampak yang Jauh Berbeda pada Anak

Redaksi by Redaksi
Januari 16, 2025 12:29 pm
in Tips
Parenting

Ilutrasi: Gambaran penerapan parenting/ pinterest

Share WhatsappShare FacebookShare Twitter

MALANG, Tugumalang.id – Di era zaman yang terus bergerak maju, pengetahuan terus dikembangkan termasuk pengetahuan tentang pola asuh orang tua yang akan mempengaruhi tumbuh kembang anak. Pada tahun 1960-an, seorang psikolog bernama Diana Baumrind mengenalkan tiga gaya utama pengasuhan anak, yang diantara yaitu authoritarian parenting, authoritative parenting, dan permissive parenting. Kemudian, ilmu parenting terus dikembangkan hingga pada 2015 istilah gentle parenting dipopulerkan oleh Sarah Ockwell-Smith

Banyak orang salah paham bahwa gentle parenting atau pola asuh yang lembut ini disamakan dengan permissive parenting. Padahal, dampak dari penerapan masing-masing pola asuh ini berbeda pada anak.

READ ALSO

5 Toko Jam dan Aksesori di Pasar Besar Malang yang Bisa Dikunjungi

Kitab Fathul Izar Uraikan Adab Hubungan Suami Istri, dari Waktu, Etika hingga Doa

Perbedaan permissive dan gentle parenting

Istilah permissive parenting populer lebih dulu dibandingkan istilah gentle parenting, sehingga pola asuh dengan permissive sudah banyak diterapkan oleh orang tua zaman dulu, sedangkan gentle parenting masih asing di telinga sebagian orang.

Permissive parenting adalah pola asuh yang cenderung memanjakan, dan memberikan kelonggaran untuk anak. Orang tua dengan permissive parenting tidak atau jarang memiliki ekspektasi tertentu pada anak, jarang mendisiplinkan dan lebih responsif terhadap hal- hal yang dialami anak. Intinya, pelaku permissive parenting lebih mengutamakan kenyamanan anak sehingga anak sulit tumbuh mandiri, tidak disiplin dan tanggung jawab.

Sedangkan, gentle parenting adalah pola asuh yang lembut dengan menumbuhkan rasa empati, pengertian dan rasa hormat, namun dengan tetap menerapkan batasan, tanggung jawab, dan kedisiplinan. Gentle parenting cenderung memperhatikan perasaan serta memberikan pola asuh yang sesuai berdasarkan psikologi setiap usianya.

Baca Juga: Dosen UM Gelar Deteksi Dini dan Seminar Parenting di PAUD Terpadu Miracle Kids Malang

Kelemahan dan Kelebihan permissive dan gentle parenting

Di dunia ini tidak ada yang sempurna, begitu juga pola asuh permissive parenting dan gentle parenting tentu memiliki kekurangan dan kelebihannya masing-masing.

– Permissive parenting
Kelebihan
1. Meningkatkan kepercayaan anak kepada orang tuanya.
Permissive parenting dengan kecenderungan responsif terhadap apa yang dialami anak akan meningkatkan rasa kepercayaan anak kepada orang tua. Sehingga hubungan emosional akan lebih dekat dan anak lebih bebas mengekspresikan dirinya tanpa takut di hukum. Sikap orang tua dengan permissive parenting ini juga akan menjadi garda terdepan jika anak terlibat konflik yang mana seharusnya konflik tersebut harus diselesaikan anaknya sendiri, seperti bertengkar dengan teman.

2. Anak tidak gampang stres
Pengasuhan yang lebih longgar dan kecenderungan memanjakan menyebabkan anak merasa santai, rileks, dan tidak akan terbebani dengan tuntutan yang sebenarnya harus ia lakukan.

Kekurangan

1. Kurangnya batasan yang jelas
Orang tua dengan pola asuh permissive parenting tidak menetapkan aturan yang jelas sehingga anak kesulitan memahami konsekuensi dari tindakan mereka. Tidak adanya batasan dan aturan, dapat menyebabkan perilaku anak yang tidak terkendali atau tidak sopan.

2. Kecenderungan menjadi manja
Anak yang dibesarkan dengan cara permisif sering kali tidak diajarkan untuk menghadapi masalah dan tanggung jawab. Anak terbiasa bahwa masalah akan diselesaikan orang tuanya. Sehingga, anak tidak merasa terbebani dan menjadi manja.

3. Ketergantungan pada orang tua
Kurangnya pembelajaran mengenai batasan dan konsekuensi, anak bisa tumbuh menjadi kurang mandiri dan terlalu bergantung pada orang tua dalam mengambil keputusan.

Gentle parenting

Kelebihan
1. Mengajarkan empati dan pengelolaan emosi
Gentle parenting menggunakan pendekatan berbasis komunikasi dengan empati, sehingga anak akan belajar memahami perasaan orang lain. Selain itu, dengan gentle parenting anak akan belajar untuk memahami emosinya, bagaimana respon yang benar apabila anak sedang sedih, marah, atau kecewa.

2. Membangun hubungan antara orang tua dan anak
Gentle parenting yang melibatkan pengertian, kasih sayang, dan rasa hormat dalam komunikasi mereka, akan menciptakan hubungan yang lebih sehat antara orang tua dan anak.

3. Membangun keterampilan sosial
Gentle parenting melibatkan komunikasi dua arah antara orang tua dan anak. Dengan hal ini orang tua akan mengetahui apa yang diinginkan dan apa yang menjadi keputusan si anak, begitupun sebaliknya. Dari sinilah anak akan terlatih dalam bernegosiasi dan bekerjasama yang mana dapat memperkuat keterampilan sosial mereka.

Kekurangan
1. Membutuhkan waktu dan energi yang lebih banyak
Tidak selalu anak mengerti dan paham apa yang kita ucapkan dan inginkan. Seringkali anak perlu dipahamkan beberapa kali agar teringat dan mengerti. Oleh karena itu, penerapan gentle parenting membutuhkan energi dan waktu lebih banyak. Selain itu gentle parenting juga membutuhkan kesabaran yang ekstra, khususnya apabila anak tetap melanggar dan butuh dinasehati berulang.

2. Tantangan menentukan batasan anak
Seringkali anak menolak mengikuti aturan yang diberikan. Hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi orang tua yang menerapkan gentle parenting. Orang tua harus tetap konsisten sambil bersabar dan tidak menggunakan ancaman atau hukuman yang keras

3. Tantangan menghadapi perilaku buruk anak
Seiring bertambahnya usia anak, mungkin anak dapat berpikir ketika dia melanggar aturan orang tua mereka tidak akan menggunakan hukuman yang keras, pemikiran anak seperti ini akan beresiko pada perilaku yang lebih tidak terkendali jika orang tua tidak segera mendisiplinkannya. Meskipun dengan pola asuh yang lembut, orang tua harus tetap bijak dan tegas pada perilaku anak.

Penerapan gentle parenting dan permissive parenting

Agar lebih mantap melihat perbedaan antara permissive parenting dan gentle parenting, mari kita lihat contoh dibawah ini dan bagaimana penerapan masing-masing dari pola asuh.

– Ketika anak berantem
Ketika anak berantem di sekolah, pola asuh dengan permissive parenting cenderung untuk membela anak dan menyalahkan pihak lain, bisa sekolah ataupun anak lain. Orang tua dengan permissive parenting tidak menerima fakta jika anaknya yang pertama kali mengajak berantem. Dengan respon ini, anak merasa aman dan akan mengulangi kesalahannya.

Alih-alih melaporkan kepada pihak sekolah, gentle parenting akan mencari tahu terlebih dahulu kronologinya dan mengapresiasi apabila anak bercerita secara jujur. Kemudian orang tua akan menasehati tanpa ada sikap menghakimi anak. Dengan gentle parenting, anak akan mengerti hal-hal yang baik dan buruk serta lebih bertanggung jawab atas apa yang mereka lakukan

Baca Juga: Pengabdian Kepada Masyarakat, STIE Malangkucecwara Sharing Ilmu Parenting dengan Lazis Sabilillah Malang

– Ketika anak tidak mau membereskan mainannya
Terkadang, anak akan merasa capek atau malas ketika waktu membereskan mainan. Orang tua dengan pola asuh permissive cenderung memaklumi dan mengambil alih tugas yang seharusnya menjadi tanggung jawab anak. Misalnya ketika anak mengatakan “aku capek,aku nggak mau beresin mainannya”, orang tua dengan permissive parenting akan memberikan respon seperti “baiklah, biarkan ibu yang bereskan ya, tapi lain kali kamu harus beresin sendiri”. Akibatnya anak akan terus menghindari tanggung jawabnya karena merasa orang tua akan membantunya.

Berbeda dengan orang tua dengan gentle parenting. Respon yang mungkin dapat diberikan orang tua yakni “ibu tau kamu capek, tapi mainan ini harus tetap dibersihkan supaya tidak rusak dan dapat dimainkan lagi. Yuk, kita bereskan bersama-sama. Kamu bisa bereskan dari boneka, ibu akan bereskan yang lain ya”. Dengan gentle parenting, anak akan memahami pentingnya tanggung jawab tanpa merasa dipaksa atau dimarahi.

Demikian penjelasan mengenai perbedaan antara permissive parenting dan gentle parenting. Tentunya, kedua pola asuh ini memberikan dampak yang berbeda pada anak. Sebagai orang tua, bijaklah dalam memilih pola asuh agar anak memiliki karakter yang kuat dan mandiri.

Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News

Penulis : Arievka Najma Muchreyza (magang)
Redaktur: jatmiko

Tags: anakbuah hatigentle parentingOrang TuaParentingpermissive parenting

Related Posts

5 Toko Jam dan Aksesori di Pasar Besar Malang yang Bisa Dikunjungi
Tips

5 Toko Jam dan Aksesori di Pasar Besar Malang yang Bisa Dikunjungi

Jumat, 14 Agu 2026
Kitab Fathul Izar Uraikan Adab Hubungan Suami Istri, dari Waktu, Etika hingga Doa
Tips

Kitab Fathul Izar Uraikan Adab Hubungan Suami Istri, dari Waktu, Etika hingga Doa

Minggu, 9 Agu 2026
7 Kebiasaan Sepele yang Bisa Bikin Tagihan Listrik Membengkak
Tips

7 Kebiasaan Sepele yang Bisa Bikin Tagihan Listrik Membengkak

Sabtu, 8 Agu 2026
Cara Memilih Telur Ayam Segar agar Aman Dikonsumsi, Kenali Tanda-Tandanya
Tips

Cara Memilih Telur Ayam Segar agar Aman Dikonsumsi, Kenali Tanda-Tandanya

Jumat, 7 Agu 2026
Belanja Fashion Wanita di Malang - 6 Tempat Belanja Fashion Wanita di Malang, dari Clarissa Fashion hingga MOG
Tips

6 Tempat Belanja Fashion Wanita di Malang, dari Clarissa Fashion hingga MOG

Jumat, 7 Agu 2026
5 Toko Sayur di Merjosari Malang untuk Belanja Harian Anak Kos
Tips

5 Toko Sayur di Merjosari Malang untuk Belanja Harian Anak Kos

Rabu, 5 Agu 2026
Next Post
Persema Malang

Tatap Babak 32 Besar Liga 4 Jawa Timur, Persema Siap Tandang ke Nganjuk

BERITA POPULER

  • Meriah Hingga Akhir Bulan, Jadwal Karnaval Malang Raya 26 -31 Agustus 2026

    Meriah Hingga Akhir Bulan, Jadwal Karnaval Malang Raya 26 -31 Agustus 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sengketa Kepemilikan Sardo Swalayan Malang Memanas, Tatik Menangkan Praperadilan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • 5 SMK Swasta Terbaik di Kota Malang 2026: Pilihan Unggulan untuk Masa Depan Cerah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Prediksi Susunan Pemain Bhayangkara FC vs Arema FC: Misi Sulit Singo Edan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bukber di Balik Jeruji Besi, Napi Lapas Malang Lepas Rindu Bersama Keluarga

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Iklantm 08272026 2
Iklantm 08272026 1
17 Iklan HUT RI UIN Mlg.jpg
Iklantm 08172026 Pemkab
13 Iklan HUT RI BPJS2.jpg
12 Iklan HUT RI UM.jpg
07 Iklan HUT RI Prokopim Batu.jpg
Backdrop Kemerdekaan 434x390 Cm 1
Ucapan HUTRI2
HUTRI81 PKB 90X100.jpg
15 Iklan HUT RI PKS.jpg
16 Iklan HUT RI DPMPTSP Kota Batu.jpg
11 Iklan HUT RI Perumdam Among Tirto.jpg
06 Iklan HUT RI Dishub Kota Batu.jpg
08 Iklan HUT RI Satpol PP Batu.jpg
10 Iklan HUT RI Dinas Pendidikan Batu.jpg
14 Iklan HUT RI Dinas Perpus Batu.jpg
02 Iklan Gerakan Arek Jatim A

Portal berita Tugu Malang (tugumalang.id) merupakan perusahaan media siber di bawah naungan PT Tugu Media Komunikasindo

LOGO TUGU MALANG RED 2021

Ikuti Kami

Navigasi Site

  • Kode Etik
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Kebijakan Data Pribadi
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Form Pengaduan
  • Pedoman Media Siber

© 2021 Tugu Media Group - All Right Reserved Tugu Malang ID.

Jaringan Media 

Tugumalang.id 

Tugujatim.id 

Tugusehat.id

No Result
View All Result
  • Home
  • Tugu Sehat
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis & Properti
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Advertorial

© 2021 Tugu Media Group - All Right Reserved Tugu Malang ID.