Rabu, Oktober 14, 2026
Tugumalang.id
No Result
View All Result
  • Home
  • Tugu SehatNEW
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis & Properti
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Ruang Cendekia
  • Home
  • Tugu SehatNEW
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis & Properti
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Ruang Cendekia
No Result
View All Result
Tugu Malang ID
No Result
View All Result
Home Pendidikan

Media Ajar di Sekolah Bisa Pakai Teknologi Artificial Intelligence, Tapi Perlu Empati

Redaksi by Redaksi
September 5, 2024 5:07 pm
in Pendidikan
Workshop pengenalan empati pada media ajar di sekolah oleh Pelatih dari Yayasan Guru Belajar. Foto/Dok.

Workshop pengenalan empati pada media ajar di sekolah oleh Pelatih dari Yayasan Guru Belajar. Foto/Dok.

Share WhatsappShare FacebookShare Twitter

Tugumalang.id – Penggunaan teknologi artificial intelligence dalam media pembelajaran (media ajar) siswa di sekolah yang mulai marak digunakan hari ini sebaiknya dibarengi dengan empati. Pasalnya, usia anak berpengaruh dalam tingkat pemahaman terhadap materi pembelajaran.

Hal ini diungkapkan oleh Anggayudha Ananda Rasa atau akrab dipanggil Aye, pelatih dari Yayasan Guru Belajar. Hal ini disampaikan, saat dirinya mengisi sesi belajar “Membuat Media Ajar dengan Design Thinking dan Artificial Intelligence” secara daring pada Rabu (4/9/2024).

READ ALSO

ITN Malang English Festival 2026, Siswa BSS Borong Juara

Seminar Green Tech ITN Malang Diserbu 230 Peserta

Menurutnya, empati pada murid perlu ditekankan oleh para guru saat merancang media ajar. Media ajar, kata dia dibutuhkan saat murid kesulitan untuk memahami suatu materi.

Baca Juga: Rencana Perbaikan Gedung Sekolah, Pj Wali Kota Malang: Fokuskan Percepatan dan Skala Prioritas

Oleh karenanya, menurut Aye, design thinking yang merupakan kerangka berpikir yang berpusat pada manusia akan memudahkan guru merancang media ajar.

“Yang mau kita carikan solusinya adalah manusia, adalah murid. Kita nggak ngomongin laboratorium bagus, sekolah bagus. Kita fokus ke humannya. Itu hal fundamental yang perlu kita pahami,” kata Aye.

Terdapat lima langkah dalam design thinking yang dibagi dalam dua fase. Fase pertama yakni empati, definisi masalah, dan uji coba, lalu fase kedua adalah ideasi dan purwarupa.

Setelah uji coba dilakukan, guru boleh kembali lagi ke empati jika dirasa masalah yang sudah dirumuskan ternyata tidak sesuai.

Baca Juga: Pj Wali Kota Batu Canangkan Pramuka Jadi Ekstrakurikuler Wajib di Sekolah

“Misalnya nih, tantangan yang ingin diselesaikan adalah murid kesulitan menyelesaikan pecahan. Ternyata bukan karena dia tidak bisa pembagian tapi ada masalah di rumah, jadi dia stres. Definisi masalahnya bisa diubah setelah diuji coba, kembali lagi ke empati, terus seperti itu berputar di fase pertama,” jelas Aye.

Dia menyebutkan, penggunaan empati dalam hal ini memang tahapan paling sulit. Pasalnya, biasanya guru memiliki ego yang besar sebagai orang dewasa yang menghadapi anak-anak.

“Saya pernah mengajak ngobrol santri kelas 12. Ternyata mereka perkalian saja ada yang belum bisa. Jadi mereka tidur selama pelajaran saya itu ya bentuk kepasrahan mereka atau kekecewaan. Yang jelas saya jadi tahu nih permasalahannya di mana,” cerita Aye membuktikkan pentingnya memahami murid.

Dia menuntun peserta sesi mengerjakan kanvas empati untuk memudahkan menilai dari kacamata murid.

Pertanyaan yang perlu dijawab antara lain seperti siapa murid yang perlu kita pahami, apa yang biasanya mereka lakukan, apa yang sehari-hari biasa mereka lihat, apa yang mereka katakan, apa yang mereka lakukan, apa yang mereka dengar, apa yang mereka pikir dan rasakan termasuk keresahan dan keinginannya.

Pekerjaan guru yang berat kini bisa mendapat bantuan dari AI, salah satunya saat butuh mendapat ide membuat media ajar. Rumus yang bisa digunakan adalah “KTP” yakni kepanjangan dari “konteks, tujuan, perintah”.

Konteks adalah kondisi yang berkaitan dengan tujuan. Semakin detail konteks yang diberikan, maka semakin besar peluang AI akan memberikan jawaban seperti yang kita harapkan.

“Jadi kalau pakai kanvas rancangan pengajaran, itu ada kondisi murid, kebutuhan murid, tujuan pembelajaran, strategi pengajaran, dan media ajar pendukung. Nah kondisi murid sampai tujuan itu yang bisa kita masukkan ke AI. Sedangkan strategi dan media ajar kita jadikan perintah ke AI,” terang Aye.

“Kondisi dan kebutuhan murid kita dapatkan dari hasil yang kita gali dengan berempati tadi. Oleh karenanya, semakin kita berempati, maka media ajar yang disarankan AI akan semakin bisa relevan dengan kebutuhan murid,” pungkasnya.

 

Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News

Reporter: M Ulul Azmy

Editor: Herlianto. A

Tags: Artoficial IntelligenceMedia PembelajaranSekolahYayasan guru belajar

Related Posts

ITN Malang English Festival 2026, Siswa BSS Borong Juara
Advertorial

ITN Malang English Festival 2026, Siswa BSS Borong Juara

Rabu, 14 Okt 2026
Seminar Green Tech ITN Malang
Advertorial

Seminar Green Tech ITN Malang Diserbu 230 Peserta

Rabu, 14 Okt 2026
Universitas Negeri Malang dan MGBK SMK Malang Raya Perkuat Kompetensi Guru BK
Advertorial

Universitas Negeri Malang dan MGBK SMK Malang Raya Perkuat Kompetensi Guru BK

Rabu, 14 Okt 2026
Universitas Brawijaya dan Sungkyunkwan University Perkuat Human Capital Mahasiswa Indonesia Melalui Program Global Scholars
Advertorial

Universitas Brawijaya dan Sungkyunkwan University Perkuat Human Capital Mahasiswa Indonesia Melalui Program Global Scholars

Rabu, 14 Okt 2026
Dosen Geografi Unikama Dorong Pemanfaatan AI untuk Guru SMAN 1 Lawang
Advertorial

Dosen Geografi Unikama Dorong Pemanfaatan AI untuk Guru SMAN 1 Lawang

Selasa, 13 Okt 2026
Content Creator ITN Malang Juara 2 Lomba Reels Lingkungan
Advertorial

Content Creator ITN Malang Juara 2 Lomba Reels Lingkungan

Selasa, 13 Okt 2026
Next Post
Peresmian Baby's Meal Cafe atau Pojok MP-ASI hasil inovasi dosen Poltekkes Malang di Desa Petungsewu. Foto: Azmy

Jurus Dosen Poltekkes Malang Cegah Kasus Stunting Lewat Baby's Meal Cafe di Desa Petungsewu

BERITA POPULER

  • Tatik Swartiatun (tengah) didampingi kuasa hukumnya memberikan pernyataan soal sengketa Sardo Swalayan. (Foto/M Sholeh)

    Sengketa Kepemilikan Sardo Swalayan Malang Memanas, Tatik Menangkan Praperadilan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Prediksi Susunan Pemain Bhayangkara FC vs Arema FC: Misi Sulit Singo Edan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam Seribu Bulan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Perbedaan Makeup Look Korean Ulzzang, Japanese Igari, dan Chinese Douyin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bukber di Balik Jeruji Besi, Napi Lapas Malang Lepas Rindu Bersama Keluarga

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Iklantm 10042026 1
Iklan10032026
21440510 796c 4a78 A1cd 0e5e0bd76582
8de19c4a 6fa9 471a 91a6 756e384f3221
02 Iklan Gerakan Arek Jatim A

Portal berita Tugu Malang (tugumalang.id) merupakan perusahaan media siber di bawah naungan PT Tugu Media Komunikasindo

LOGO TUGU MALANG RED 2021

Ikuti Kami

Navigasi Site

  • Kode Etik
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Kebijakan Data Pribadi
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Form Pengaduan
  • Pedoman Media Siber

© 2021 Tugu Media Group - All Right Reserved Tugu Malang ID.

Jaringan Media 

Tugumalang.id 

Tugujatim.id 

Tugusehat.id

No Result
View All Result
  • Home
  • Tugu Sehat
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis & Properti
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Ruang Cendekia

© 2021 Tugu Media Group - All Right Reserved Tugu Malang ID.