Malang, Tugumalang.id – Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi Prof. Fauzan memberikan tanggapan atas banyaknya keluhan soal praktik Perguruan Tinggi Negeri (PTN) yang menerima mahasiswa dalam jumlah besar. Situasi ini membuat jumlah mahasiswa Perguruan Tinggi Swasta (PTS) berkurang.
Menanggapi soal itu, Prof. Fauzan justru menimpali keluhan itu dengan meminta agar PTS melakukan refleksi secara komprehensif. Bahkan menurutnya, fenomena ini harusnya menjadi tantangan yang harus dihadapi PTS seiring dinamika perkembangan zaman.
”Meski di Kemendikti Saintek kami sudah memberi surat teguran dan penataan, tapi kita harus melihat hal ini secara komprehensif. Mestinya itu dijadikan tantangan dan introspeksi. Jangan-jangan komoditi yang kita jajakan memang biasa-biasa saja, kalau ada lain yang luar biasa? Ya otomatis orang akan pilih itu lah,” ujarnya saat ditemui tugumalang.id beberapa waktu lalu.
Baca juga: Rektor ITN Malang Hadiri Undangan Kemendiktisaintek Bahas Masa Depan Sains dan Teknologi
Fauzan menjelaskan jika fenomena PTS kekurangan mahasiswa ini juga bisa dimungkinkan akibat faktor program-program PTS yang ditawarkan pada calon mahasiswa tidak menarik atau tidak memiliki unsur kebaruan hingga link and match ke dunia kerja.
Menurutnya, program yang memiliki unsur kebaruan saat ini adalah program yang memiliki keterkaitan dengan kebutuhan DUDI (Dunia Usaha Dunia Industri). Salah satunya adalah dengan memberikan spesifikasi kompetensi pada mahasiswa.
Wamen Dikti Saintek: Persaingan PTN dan PTS tidak Hanya sebagai Persaingan Menarik Mahasiswa
Pada prinsipnya, Wamen Dikti Saintek Fauzan melihat persaingan PTN dan PTS tidak lagi hanya sebagai persaingan untuk menarik mahasiswa, tapi lebih kepada transformasi perguruan tinggi agar berdampak nyata bagi masyarakat.
Ia mendorong agar kedua jenis perguruan tinggi tersebut berinovasi, berkolaborasi, dan tidak menjadi kampus ‘menara gading’, serta menghasilkan lulusan yang memiliki keterampilan spesifik, bukan sekadar ‘generik’.
”Jadi produk lulusannya punya keahlian spesifik, tak hanya bersifat generik saja. Kampus harus punya dampak, adaptif. Sehingga ketika mereka lulus, mereka percaya diri karena mereka juga punya ‘senjata tajam’,” ujarnya.
Selain itu, kata dia, membangun citra positif PTS, terutama PTMA, sangat penting agar institusinya diminati masyarakat. Caranya, dengan membangun ekosistem. Modal untuk membangun citra PTMA, sangat besar karena banyaknya dosen dan mahasiswa yang melakukan penelitian.
Lewat kemampuan keilmuan dibuktikan dengan banyaknya penelitian, PTMA bisa memberikan solusi terhadap masalah-masalah lokal seperti soal sinergi sektor pertanian dengan pemda. Dengan cara itu, maka PTMA akan mendapatkan kepercayaan dari masyarakat dan pada gilirannya mereka tertarik untuk kuliah di sana.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Reporter : M Ulul Azmy
redaktur: jatmiko


















