MALANG, Tugumalang.id – Bagi seorang akademisi meraih gelar Guru Besar atau Profesor menjadi kebanggaan tersendiri atas disiplin ilmu yang bertahun-tahun digeluti.
Namun bagi Rektor Universitas PGRI Kanjuruhan Malang (Unikama), Prof. Dr. Sudi Dul Aji, M.Si yang baru saja mendapat gelar Profesor di Bidang Fisika, mendapat gelar prestisius bukanlah sekadar kepuasan atau kebanggaan atas pengakuan kepakar.
Bagi sosok Rektor yang bersahaja ini, mendapatkan gelar Profesor adalah tanggung jawab untuk membumikan ilmu pengetahuan agar berdampak bagi masyarakat.
Momen pengukuhan Guru Besar bagi Prof. Sudi Dul Aji juga terasa istimewa karena bertepatan dengan Dies Natalis Unikama ke-69. Baginya pencapaian tertinggi dalam karier akademik saat ini merupakan persembahan terbaik untuk institusi yang sedang ia pimpin.
“Gelar Profesor tidak hanya sekadar gelarnya saja, tapi bagaimana peran di dunia pendidikan yang benar-benar berdampak,” kata Rektor yang fokus dalam riset pemanfaatan video, teknologi kecerdasan buatan (AI), Augmented Reality, dan Problem Based Learning untuk pembelajaran IPA dan Fisika ini.
Prof. Sudi menambahkan apa yang telah dicapainya saat ini adalah hikmah dan juga bimbingan dari Tuhan Yang Maha Esa untuk mengabdikan ilmu untuk kebermanfaatan bagi masyarakat.
Ia menegaskan keberhasilan mendapatkan gelar puncak bagi seorang akademisi bukan semata-mata karena kemampuannya semata. Melainkan takdir indah yang bertepatan dengan Dies Natalis Unikama sebagai salah satu Perguruan Tinggi Swasta (PTS) unggulan yang ada di Indonesia.
Baca juga: Perkuat Kualitas Pendidikan Swasta Nasional, Rektor Unikama Hadiri Rakornas ALPTKSI 2026 di Jakarta
Soroti Tantangan Besar Dunia Pendidikan di Era AI
Prof. Sudi dalam orasi ilmiahnya menyoroti tantangan dunia pendidikan di tengah era kecerdasan buatan yang begitu masif.
Sebagai seorang pakar di bidang Fisika, ia memahami bahwa tantangan pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan dalam pengembangan keilmuan tidaklah mudah.
Untuk itu, Prof. Sudi memberikan pemikiran kritisnya akan permasalahan tersebut. Menurutnya pemanfaatan teknologi tanpa arah yang jelas dalam pengembangan keilmuan justru akan menyesatkan. Inilah pentingnya navigasi dalam pemikiran Prof. Sudi terkait pemanfaatan teknologi untuk pengembangan keilmuan.
“Perlu navigasi dan arah yang jelas. Mana yang harus dilakukan, mana yang tidak, dan kemampuan apa yang harus dimiliki guru dalam memanfaatkan AI,” tegas Rektor berusia 59 tahun ini.
“Kami melihat, ternyata di dalam pemanfaatan AI ini tidak hanya bergantung dari aplikasinya, tetapi dari kesiapan gurunya. Kami meneliti guru-guru di seluruh Indonesia. Kami sebarkan angket bagaimana sebenarnya proses pembelajaran di kelas,” imbuhnya.
Baca juga: Meniti Masa Depan Gemilang, Ini Alasan Mengapa Unikama jadi Pilihan Utama Calon Mahasiswa
Fisika Bukan Sekadar Hitung-Menghitung
Jika bagi sebagian orang, ilmu Fisika menekankan pada kemampuan logika dan menggunakan rumus hitung-menghitung. Bagi Prof. Sudi, ilmu Fisika terasa mudah jika telah memahami maknanya tanpa langsung menghitung, sebab ilmu ini adalah bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat.
“Saya selalu dalam proses mengajar itu, Fisika itu mudah, Fisika itu ada di sekitar kita, Fisika bisa kita pelajari. Persoalan menghitung rumus itu gampang, yang penting kita bisa paham,” terangnya.
“Untuk bisa memahami itu, tidak perlu harus berhitung dulu, tetapi memahami maknanya dulu, baru nanti rumus itu mengikut,” ungkap Prof. Sudi.
Ia pun memberikan contoh sederhana, seperti aktivitas manusia dari bangun tidur sampai tidur lagi adalah bagian dari ilmu Fisika. Udara di sekitar lingkungan, partikel kecil, hingga teori kinetik gas juga menjadi bagian dari Fisika.
Prof. Sudi menambahkan belajar Fisika akan lebih mudah melalui media pembelajaran yang divisualisasikan.
Persoalan Fisika dalam kehidupan akan lebih mudah dipahami ketika disajikan dalam bentuk gambar visual dan AI dapat dimanfaatkan untuk mengaplikasikan materi Fisika tanpa hanya bergantung pada rumus.
“Intinya belajarnya jadi menyenangkan, ada di sekitar kita. Jangan yang terlalu muluk-muluk, sesuatu yang abstrak, kita visualkan, supaya lebih mudah,” kata Prof. Sudi.
Berharap Diikuti Akademisi Unikama Lainnya
Gelar Guru Besar membuat Prof. Sudi berharap jejaknya dapat diikuti oleh dosen-dosen lain di Unikama. Apalagi saat ini Unikama tengah dalam lajur positif dalam peningkatan jabatan fungsional dosen.
Pihaknya mengungkapkan bahwa baru saja menandatangani lima pengajuan dari Lektor ke Lektor Kepala, dengan total sekitar 30 hingga 35 dosen di lingkungan Kampus Multikultural ini. Dosen-dosen tersebut kini tengah bersiap mengikuti jejak Prof. Sudi sebagai Guru Besar.
Prof. Sudi pun juga memahami bahwa hambatan utama yang seringkali terletak pada besarnya biaya yang dibutuhkan untuk publikasi Scopus. Ia pun mengambil kebijakan strategis untuk mendorong dan membantu dosen-dosen Unikama dalam melakukan publikasi ilmiah.
“Kami akan memfasilitasi dan menyediakan dana untuk publikasi. Kami bantu dan dorong supaya bisa publish,” ujarnya.
Melalui insentif yang diberikan ini, menjadi bukti dari komitmen Prof. Sudi dalam mendorong peningkatan kualitas akademik di Unikama secara menyeluruh.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Penulis: Bagus Rachmad Saputra
redaktur: jatmiko
























