Minggu, Agustus 16, 2026
Tugumalang.id
No Result
View All Result
  • Home
  • Tugu SehatNEW
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis & Properti
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Advertorial
  • Home
  • Tugu SehatNEW
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis & Properti
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Advertorial
No Result
View All Result
Tugu Malang ID
No Result
View All Result
Home Featured

Kisah Rachmad “Jade” Santoso Bangun Raksasa Advertising dengan Modal Dengkul

Redaksi by Redaksi
Januari 29, 2022 1:40 pm
in Featured
jade - Kisah Rachmad "Jade" Santoso Bangun Raksasa Advertising dengan Modal Dengkul

Rachmad Santoso (kiri) saat menjadi tamu podcast Tugu Inspirasi.

Share WhatsappShare FacebookShare Twitter

Tugumalang.id – Berbicara mengenai dunia advertising di Malang Raya, tak afdol jika melewatkan sang raksasa advertising, Jade Indopratama. Perusahaan ini telah malang melintang di dunia percetakan dan periklanan selama 32 tahun. Kini, Jade Indopratama memiliki 125 buah papan reklame yang tersebar di Malang Raya.

Pendiri Jade Indopratama, Rachmad Santoso mengawali usahanya ini dengan modal dengkul atau dengan modal seminim mungkin.

READ ALSO

Dari Gersang Menjadi Hijau, Transformasi CMC Tiga Warna Lewat Konservasi dan Ekowisata

Cak Sindu dari Pentas Rakyat ke Aktor Film, Founder Studi Akting Malang

Ia terlahir di keluarga sederhana pada 28 April 1970. Saat masih duduk di bangku kelas tiga SMA, yaitu pada tahun 1989, ia memulai bisnis percetakan dengan modal uang yang ia hasilkan dari menjadi sales kalendar paruh waktu.

“Bisa dibilang saya ini modal dengkul. Untuk mencukupi ekonomi dan menyelesaikan sekolah, saya menjadi sales kalender sebuah toko kertas di Malang,” kenang Rachmad, saat menjadi tamu di Podcast Tugu Inspirasi.

Saat menjadi sales kalendar, ia belajar banyak mengenai dunia percetakan. Saat itu, pasarnyapun cukup panas. Ia melihat peluang bisnis yang besar dan memulai usaha percetakannya sendiri.

Usaha itu masih ia tekuni saat berkuliah. Ia justru melihat pasar yang besar di kampus-kampus di Malang Raya. Dari situ, ia mempromosikan usahanya ke berbagai kampus. Tak perlu waktu lama, Jade menjadi primadona mahasiswa di Malang kala itu yang membutuhkan jasa percetakan.

Tak berhenti di percetakan kertas, Jade juga terjun di bisnis garmen. Pemesanan kaos dari mahasiswa dan berbagai organisasi di Jade cukup ramai.

Berdiri selama lebih dari tiga dekade, Jade melewati beberapa krisis moneter. Ada banyak pelajaran yang Rachmad pelajari dari peristiwa tersebut.

“Di tahun 1998, saya belajar untuk lebih menghargai karyawan,” ujarnya.

Kala itu, ia kehilangan semua karyawannya. Bahkan ia menutup tempat usahanya selama tiga bulan.

Namun, ia tak membiarkan dirinya terus terpuruk. Jade kembali dibuka dengan semangat yang lebih tinggi. Terbukti di tahun 2000, Rachmad bisa mengakuisisi sebuah bangunan bekas sekolah di Jalan Tumenggung Suryo yang saat ini menjadi kantor utama Jade Indopratama.

Bangunan tersebut dulunya merupakan sekolah tempat orang tua Rachmad bekerja sebagai guru. Rachmad kemudian menyewa beberapa ruangan yang tidak dipakai sebagai tempat usahanya. Di saat yang bersamaan, bisnis pendidikan kala itu sangat lesu sehingga sekolah tersebut tidak lagi beroperasi.

“Dulu saya sewa satu dua ruangan di sekolah itu yang tidak terpakai. Lama kelamaan bisnis pendidikan makin lesu, akhirnya sekolah tersebut kami akuisisi di sekitar tahun 2000,” ungkapnya.

Saat ini, Jade Indopratama membawahi empat unit usaha yaitu percetakan offset, digital printing, advertising, dan ritel.

Sebelumnya, mereka juga memiliki unit usaha event organizer (EO) bernama Jade Entertainment. EO ini dikenal sebagai pencetus festival musik bergengsi, Malang Jazz Festival. Sayang pandemi COVID-19 membuat Jade Entertainment berhenti beroperasi.

Meski harus melakukan perampingan usaha dan karyawan, Rachmad tak mau menganggap situasi ini sebagai sebuah kejatuhan. Apapun yang terjadi, ia menganggap itu adalah sebuah momen untuk belajar menjadi lebih baik.

“Kalau melihat hal yang negatif, saya nggak mau bahas terlalu panjang. Potong saja di titik itu, kemudian dilihat ke depannya saya harus bagaimana, penyelesaiannya seperti apa dan nilai tambah apa yang bisa diambil dari kondisi tersebut,” kata Rachmad.

Ini sesuai dengan prinsipnya bahwa pengusaha itu harus bisa menjadi engine (mesin) yang bisa menerima semua faktor yang ada di lingkungannya, baik yang positif maupun negatif. Pengusaha juga harus mampu mengubah faktor-faktor negatif yang tidak bisa ditolak menjadi hal positif sehingga bisa bermanfaat bagi orang-orang di sekitarnya.

Dari situ, ia bisa menciptakan pola pikir yang membuatnya lebih siap dalam menghadapi masa-masa sulit.

Selain itu, Rachmad juga membeberkan kunci sukses lainnya, yaitu untuk tidak berbisnis dengan Tuhan. Ia melakukan pekerjaannya dengan ikhlas, tanpa membuat perhitungan dan menagihnya pada Sang Pencipta. Ini juga termasuk berbuat baik pada orang tua dan orang sekitar.

Reporter: Aisyah Nawangsari

Editor: Lizya Kristanti

Tags: kota malangmalangrachmad santoso

Related Posts

Wisatawan melintasi hutan mangrove di CMC Tiga Warna. Foto: Aisyah Nawangsari Putri
Featured

Dari Gersang Menjadi Hijau, Transformasi CMC Tiga Warna Lewat Konservasi dan Ekowisata

Kamis, 10 Jul 2025
Cak Sindu, pendiri Studi Akting Malang (SAM), yang percaya bahwa akting bukan hanya sekeda seni peran. (Foto: Dohir Herliato/Sindu)
Featured

Cak Sindu dari Pentas Rakyat ke Aktor Film, Founder Studi Akting Malang

Rabu, 7 Mei 2025
Bantu Lansia dan Anak Stunting, Pokmas di Sumberpucung Bagikan Nila dan Lele Gratis
Featured

Bantu Lansia dan Anak Stunting, Pokmas di Sumberpucung Bagikan Nila dan Lele Gratis

Selasa, 21 Jan 2025
Polresta Malang Kota membongkar sindikat curanmor di Kota Malang. (Foto/M Sholeh)
Bisnis

Polresta Malang Kota Ringkus 5 Sindikat Curanmor

Selasa, 24 Des 2024
Batik karya Utik Mardiati motif kupu-kupu yang sudah dijahit menjadi rok. Foto: Aisyah Nawangsari Putri
Featured

Batik Utik Mardiati, Narasi Cerita dalam Selembar Kain

Sabtu, 30 Nov 2024
Soetarjo, gerilyawan pejuang yang masih hidup saat berkisah tentang masa perjuangan kemerdekaan Indonesia. Foto: Azmy
Featured

Kisah Pejuang Gerilyawan Agresi Militer yang Kini Hidup di Malang, Bolak-Balik Ditangkap Belanda

Jumat, 23 Agu 2024
Next Post
Klenteng Eng An Kiong

Berdiri Sejak 1825, Klenteng Eng An Kiong Malang Punya Patung Dewa Bumi

BERITA POPULER

  • Tatik Swartiatun (tengah) didampingi kuasa hukumnya memberikan pernyataan soal sengketa Sardo Swalayan. (Foto/M Sholeh)

    Sengketa Kepemilikan Sardo Swalayan Malang Memanas, Tatik Menangkan Praperadilan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Prediksi Susunan Pemain Bhayangkara FC vs Arema FC: Misi Sulit Singo Edan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • 5 SMK Swasta Terbaik di Kota Malang 2026: Pilihan Unggulan untuk Masa Depan Cerah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bukber di Balik Jeruji Besi, Napi Lapas Malang Lepas Rindu Bersama Keluarga

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Saweran

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Advtm 07222026 2
Advtm 07222026 1
Advtm 06302026 1
Adv02262026
02 Iklan Gerakan Arek Jatim A

Portal berita Tugu Malang (tugumalang.id) merupakan perusahaan media siber di bawah naungan PT Tugu Media Komunikasindo

LOGO TUGU MALANG RED 2021

Ikuti Kami

Navigasi Site

  • Kode Etik
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Kebijakan Data Pribadi
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Form Pengaduan
  • Pedoman Media Siber

© 2021 Tugu Media Group - All Right Reserved Tugu Malang ID.

Jaringan Media 

Tugumalang.id 

Tugujatim.id 

Tugusehat.id

No Result
View All Result
  • Home
  • Tugu Sehat
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis & Properti
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Advertorial

© 2021 Tugu Media Group - All Right Reserved Tugu Malang ID.