Tugumalang.id – Pelangi Sastra secara resmi membuka perhelatan akbar Festival Sastra Kota Malang 2025 yang akan berlangsung selama tiga hari penuh, dimulai Jumat (21/11/2025) di Ruang Pertemuan – Maliki Plaza.
Mengusung tema provokatif “Simpang Kota Simpang Kata,” festival ini bertransformasi menjadi arena kritik yang berani, menyandingkan otoritas narasi spiritual dan akademik kampus dengan kejujuran bahasa dan sastra jalanan.
Acara prestisius ini dibuka langsung oleh Perwakilan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi.
Baca Juga: 100 Tahun Pramoedya Ananta Toer, Sederet Fakta Menarik Sastrawan dari Blora
Ketua Pelaksana Festival, Denny Mizhar, dalam sambutannya menekankan visi utama acara: menjadikan Malang sebagai titik temu dialektika budaya yang majemuk.
“Kami ingin menciptakan persimpangan di mana segala bentuk narasi, baik dari mimbar akademik maupun grafiti tembok, diizinkan bertemu dan berdialog secara setara,” tegas Denny.
Dukungan pemerintah terhadap eksplorasi literasi ini ditunjukkan melalui pemutaran video capaian Kementerian Kebudayaan.
Video tersebut menegaskan peran vital sastra dalam memajukan kebudayaan nasional, bahkan dinilai mampu memperkuat posisi Indonesia di mata dunia sebagai bangsa yang memiliki ibu kota kebudayaan.
Baca Juga: Departemen Sastra Arab UM Bahas Perkembangan Penerjemahan Arab
Program Ekosistem Sastra tahun 2025 dilaporkan telah berjalan masif, menghasilkan capaian signifikan, termasuk pelibatan ribuan masyarakat, distribusi lebih dari 3.500 buku sastra berkualitas, dan internasionalisasi sastra dengan menerjemahkan 40 karya terbaik Indonesia.
Komitmen ini diperkuat dengan Program Talenta Pujian Sastra, yang melibatkan lebih dari 10.000 generasi muda, membuktikan keseriusan pemerintah dalam menciptakan ekosistem sastra yang mapan dan berkelanjutan.
Puncak landasan intelektual festival disajikan melalui orasi kesusastraan oleh kritikus sastra, Yusri Fajar, berjudul Kesusastraan dalam Dinamika dan Wajah Urban.
Yusri Fajar secara tajam menggugat peran sastra di tengah percepatan pembangunan kota yang berjalan bersamaan dengan tiga arus urban: arus manusia, arus lingkungan, dan arus makmur.
“Kota-kota di Indonesia tumbuh terlalu cepat. Setiap langkah pembangunan, setiap perubahan alam dan lingkungan. Di sinilah sastra menemukan simpangnya: Simpang Kota, Simpang Kata,” kata dia.
Ia menekankan bahwa sastra tidak boleh hanya menjadi latar, tetapi harus hadir sebagai tokoh utama yang berhak menentukan ritme cerita kota, karena ia adalah matriks imajinasi dan proses kreativitas manusia sejak dahulu kala.
Secara spesifik, Yusri Fajar menyerukan sastrawan Malang untuk merekam persoalan lokal krusial. Ia mengusulkan perlunya novel baru, semacam “Lemah Tanjung,” yang wajib dibaca generasi muda, untuk membahas isu-isu nyata seperti pembangunan perumahan mewah yang menggerus lahan, krisis air bersih, dan tergesernya ruang duduk masyarakat pinggiran.
Baginya, kata-kata sejatinya lahir dari “keretakan hati,” grafiti di tembok, dan “obrolan di angkutan umum yang tersingkir” di tengah kemacetan sosial dan fisik kota.
Warisan Tradisi yang Tergilas Zaman
Kontras dan keberanian tema festival tersebut dieksekusi di panggung pertunjukan dengan kehadiran seniman ludruk legendaris, Cak Marsam Hidayat. Ia membawakan Parikan Jula-Juli Malangan, simbol narasi tradisi lisan Jawa Timur.
Dalam wawancara terpisah, Cak Marsam mengungkapkan kondisi Ludruk saat ini yang memprihatinkan. “Ludruk itu terbelenggu oleh pakem-pakem lama yang sudah tidak relevan. Akhirnya malah tergilas oleh perkembangan zaman,” tuturnya.
Ia menyoroti tantangan krusial bahwa regenerasi terhambat karena generasi muda saat ini tidak mau mempelajari Ludruk.
Meskipun demikian, Cak Marsam menunjukkan komitmennya dengan aktif mengajar Karawitan di sejumlah sekolah menengah atas (SMA Negeri 4, Brawijaya Smart School, dan SMA Semanding) serta kepada kelompok ibu-ibu.
Perpaduan tradisi dan modernitas kemudian berlanjut dengan penampilan Malang Dance Company yang menampilkan Tari Taman Kota sebagai terjemahan visual kehidupan urban, dilanjutkan oleh Musik Eksperimental dari Cak Bagus Eksperimental.
Puncak acara pembukaan ditandai dengan peluncuran buku kumpulan puisi Simpang Kata Simpang Kota, manifestasi karya dari tema festival tersebut.
Festival Sastra Kota Malang 2025 yang diselenggarakan Pelangi Sastra ini akan berlangsung selama tiga hari, menjanjikan berbagai diskusi dan pertunjukan lanjutan di akhir pekan.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Penulis: Cici Lupita Sari (Magang)
Editor: Herlianto. A


















