Tugumalang.id – Penduduk lanjut usia (lansia) tidak hanya membutuhkan perlindungan sosial, tetapi juga perlu mendapat kesempatan untuk tetap berdaya secara ekonomi. Karena itu, pemerintah mendorong pengembangan ekonomi perak atau silver economy sebagai salah satu upaya merespons perubahan demografi di Indonesia.
Wakil Menteri Sosial (Wamensos) Agus Jabo Priyono mengatakan, upaya menghadapi perubahan demografi harus dibarengi dengan penguatan perlindungan sosial dan pemberdayaan lansia. Langkah tersebut mencakup penyediaan layanan sosial yang terintegrasi hingga peningkatan dukungan bagi lansia yang berada dalam kondisi rentan.
Baca Juga: Mensos Gus Ipul Tekankan Tiga Mandat Presiden untuk Kemensos 2026-2027
Selain itu, pengembangan ekonomi perak dinilai menjadi bagian penting dalam membangun ekosistem yang lebih inklusif bagi penduduk lanjut usia. Konsep ini berfokus pada pengembangan pasar, produk, dan layanan yang disesuaikan dengan kebutuhan lansia.

“Peringatan Hari Lanjut Usia Internasional (HLUIN) menjadi momentum penting untuk memperkuat komitmen kita dalam menghadapi perubahan demografi di Indonesia,” ujar Agus Jabo.
Pernyataan tersebut disampaikan Agus Jabo saat menghadiri peringatan Hari Lanjut Usia Internasional (HLUIN) 2026, peluncuran buku tentang lansia, serta kick-off Pengembangan Ekonomi Perak di Kantor Kementerian PPN/Bappenas, Jakarta, Rabu (21/10/2026).
Baca Juga: Mensos Gus Ipul Minta Kemensos Tuntaskan Target Kinerja 2026
Penguatan perlindungan dan pemberdayaan lansia menjadi bagian dari respons pemerintah terhadap perubahan struktur penduduk. Melalui layanan sosial yang terintegrasi dan pengembangan ekonomi perak, lansia diharapkan tidak hanya memperoleh dukungan untuk memenuhi kebutuhan hidup, tetapi juga memiliki ruang untuk tetap berpartisipasi dalam kehidupan sosial dan ekonomi.
Pengembangan ekonomi perak sekaligus membuka perhatian terhadap kebutuhan lansia sebagai kelompok masyarakat yang memerlukan layanan dan produk sesuai kondisi mereka. Dengan pendekatan yang inklusif, perubahan demografi dapat direspons melalui kebijakan yang tidak hanya berorientasi pada perlindungan, tetapi juga pemberdayaan.
Berdasarkan Survei Penduduk Antar Sensus (SUPAS) 2025, proporsi penduduk lansia di Indonesia telah mencapai 11,97 persen dan diproyeksikan meningkat menjadi 20,31 persen pada 2045. Artinya, satu dari lima penduduk Indonesia diperkirakan akan berusia lanjut.
Di sisi lain, data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2025 menunjukkan 41,75 persen lansia berada dalam rumah tangga pada kelompok 40 persen terbawah berdasarkan pengeluaran per kapita. Sementara itu, 44,02 persen lansia mengalami keluhan kesehatan.
Menurut Agus Jabo, kondisi tersebut menegaskan pentingnya kebijakan tentang lanjut usia yang melindungi lansia dalam kondisi rentan dan juga membuka kesempatan bagi lansia yang masih memiliki potensi untuk berkontribusi dalam kehidupan sosial dan ekonomi.
Kementerian Sosial mendorong tiga agenda prioritas dalam menghadapi penuaan penduduk, yakni memperkuat perlindungan sosial bagi lansia rentan, mengembangkan layanan lansia yang terintegrasi, serta mendorong pemberdayaan melalui ekonomi perak.
Melalui program Asistensi Rehabilitasi Sosial (ATENSI), Kemensos terus mendorong pelayanan berdasarkan asesmen kebutuhan dengan pendekatan keluarga, komunitas, dan residensial. Penguatan layanan tersebut diarahkan untuk memastikan lansia miskin, lansia yang hidup sendiri, penyandang disabilitas, serta lansia yang membutuhkan dukungan perawatan memperoleh pelayanan sesuai kebutuhannya.
Selain perlindungan sosial, layanan lansia juga perlu menghubungkan aspek sosial, kesehatan, perawatan jangka panjang, dan dukungan psikososial. Penguatan sistem layanan berbasis komunitas melalui pendampingan, rujukan, dan pemantauan berkelanjutan diharapkan dapat meningkatkan kualitas hidup lansia sekaligus mengurangi beban perawatan yang selama ini banyak ditanggung keluarga.
Dalam pengembangan ekonomi perak, Kemensos mendukung inisiatif Bappenas untuk menjadikan perubahan demografi sebagai peluang bagi pertumbuhan ekonomi yang inklusif. Dua sektor yang dinilai strategis adalah pengembangan senior living atau hunian ramah lansia serta industri alat bantu dan teknologi asistif yang mendukung mobilitas, keselamatan, dan kemandirian lansia.
“Kementerian Sosial siap berkontribusi sesuai tugas dan kewenangannya, khususnya untuk memastikan lansia rentan tidak tertinggal dalam pengembangan ekonomi perak. Keberhasilan ekonomi perak tidak semata-mata diukur dari pertumbuhan industri dan investasi, tetapi dari meningkatnya kesejahteraan, kemandirian, dan martabat lansia,” tegas Agus Jabo.
Agus Jabo berharap peluncuran buku kelanjutusiaan dapat memperkuat penyusunan kebijakan berbasis data dan bukti, sementara pengembangan ekonomi perak menjadi awal kolaborasi nyata yang memberikan manfaat langsung bagi masyarakat.
Turut hadir dalam kegiatan tersebut Wakil Menteri PPN/Wakil Kepala Bappenas Febrian Alphyanto Ruddyard, Deputi Bidang Pemberdayaan Masyarakat, Kependudukan, dan Ketenagakerjaan Kementerian PPN/Bappenas Maliki, serta Wakil Duta Besar Australia untuk Indonesia Gita Kamath.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Sumber: Rilis Kemensos
Editor: Herlianto. A



































